Kejujuran

1068 Kata
"Bulannya cantik," ucap Takei begitu ia dan Sakura duduk di salah satu kursi taman. Tahu jika pria yang mengajaknya hanya basa-basi, Sakura segera mengedarkan pandangan ke atas, menatap langit dan mencari sinar malam yang Takei sebutkan. "Tapi aku sama sekali tidak melihat bulan," ungkap gadis itu setelah beberapa saat menyapu langit dengan pandangan. Benar, entah karena masih petang, atau sebab awan mendung yang menggelayut, kali ini bulan belum terlihat. Mendengar jawaban realistis dari Sakura, Takei segera berdalih. Ia bahkan mengatakan bulan cantik tanpa melihat langit. Takei menggaruk tengkuk yang mendadak terasa gatal. "Ah, kau benar. Aku salah lihat tadi," ucapnya terdengar tidak masuk akal. Sakura mengerutkan kening. Adakah benda yang menyerupai bulan di atas sana? Namun ia tak lagi menimpali. Gadis itu menunggu dalam diam. Menanti apa yang ingin dikatakan oleh kakak kelasnya tadi. Hingga setelah salah tingkah bahkan sebelum mengatakan apapun, Takei akhirnya mencoba mengumpulkan keberanian. Bukan hal mudah menemui Sakura, bahkan ia sampai harus memeriksa jadwal kontrol gadis itu yang didapat dari informasi di sekolah. Bisa dibilang, ia mencurinya saat datang ke kantor guru. Lalu sekarang, saat ia berhasil menemui Sakura, bukankah akan sia-sia jika hanya berbasa-basi membahas bulan yang bahkan belum ada? Takei menarik napas dalam. Sementara tangannya meremas, berusaha melebur gejolak gugup dalam d**a. Pria itu harus berkata dengan lugas, tidak ada waktu lagi jika bukan sekarang. "Sakura," panggil pria di sana. Setelah gadis di sebelahnya menengok, ia melanjutkan, "Ada yang ingin ku katakan padamu." Matanya tak berani menatap Sakura lebih lama. Kegugupan semakin menjalar, bahkan saat ia berusaha keras menekan. Sakura masih mengangguk dengan santai. "Ya. Aku sudah menunggunya dari tadi," ucap gadis itu apa adanya. Sebenarnya sudah ingin ia tanyakan untuk mempersingkat waktu, tapi Sakura memilih untuk menunggu Takei sendiri yang mengatakannya. Mendengar itu membuat Takei merasa salah tingkah. Baru pertama kali ia merasa sangat gugup seperti ini. Padahal pria ini sudah sering tampil di hadapan orang, berbicara di depan umum, dan tak jarang diteriaki oleh wanita yang mengidolakannya. Namun entah sihir apa yang Sakura gunakan hingga membuat keberanian dan kepercayaan dirinya hilang seketika. "Sebenarnya ... aku menyukaimu, Sakura." Akhirnya, kalimat yang selama ini hanya bisa ditelan, kini berhasil diungkapkan. Meski setelahnya perasaan cemas menjalar dalam diri Takei. Tentu saja, ungkapan perasaan yang sangat tiba-tiba membuat Sakura terhenyak. Ia bahkan sampai lupa untuk bernapas. Matanya membulat dengan telinga yang tidak bisa dipercaya. Apakah ia tidak salah dengar? Sebelum jawaban diterima, dengan cepat Takei menyela. Ia sadar, jika pernyataan cintanya sangat tiba-tiba. Jadi wajar jika membuat gadis itu bingung. "Kamu pasti sangat terkejut, ya?" tanya Takei paham dengan keadaan. Namun Sakura belum kunjung menjawab. Dari diamnya sudah bisa mengatakan jika apa yang dikatakan Takei adalah benar. Gadis itu lebih dari kata terkejut. Takei kembali menarik napas dalam. Ia sebenarnya sudah sangat siap atas apapun jawaban yang diterima. Meski sebenarnya besar harapan untuk dibalas, tapi penolakan juga tidak masalah walaupun akan melukai hatinya. Sakura masih bergeming. Begitupun dengan Takei yang sudah kehilangan kalimat basa-basi. Keduanya membiarkan hening menyelinap, menemani mereka di tengah kealpaan kata. Hingga setelah cukup lama terdiam, Sakura menoleh perlahan. Ia sadar jika tidak bisa terus diam. Apapun jawabannya harus dikatakan. Tetapi sebelum itu ... "Ini sangat tiba-tiba," ungkap Sakura sebelum mengatakan balasan atas perasaan pria di sampingnya. Takei menatap Sakura dengan lekat. Ia menanti kalimat lain yang akan disampaikan oleh gadis itu. "Ini, bukan salah satu permainan yang kalian mainkan, kan?" tanya Sakura memastikan. Tentu ia khawatir dengan permainan yang tengah tren akhir-akhir ini di kalangan anak muda. Di mana ada sebuah tantangan dan kebenaran. Ia takut jika dirinya dijadikan sebagai target dari permainan tersebut. Mendengar pertanyaan Sakura, kedua alis Takei menyatu. Ia tidak paham maksud dari permainan yang gadis itu katakan. Hingga setelah beberapa detik berpikir, barulah ia tersadar. "Maksudmu permainan tentang tantangan?" Kali ini Takei yang memastikan. Pelan Sakura mengangguk. Mendapati reaksi Sakura, Takei terkekeh kecil. Meski setelahnya ia segera meminta maaf karena menertawakan hal yang seharusnya tidak dianggap lucu. Usai meminta maaf, pria itu kembali menatap gadis di sebelahnya. Tatapan matanya sangat teduh, seperti pohon yang menaungi bunga saat musim panas. "Apa kamu khawatir menjadi target permainan seperti itu?" tanya Takei. Sementara Sakura hanya mengangguk mengiyakan. Di detik berikutnya, Takei menatap udara hampa di depan. Seulas senyum mengembang di bibir. Sembari itu ia berkata, "Aku tidak akan merasa gugup seperti ini jika hanya memainkan sebuah permainan, Sakura." Ia kembali menoleh, menatap gadis yang mulai salah tingkah. "Terdengar aneh memang. Bahkan aku sendiri juga merasa hal ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada gadis hanya dari pandangan pertama aku melihatnya?" Takei kembali mengungkapkan perasaan. Sementara itu, gadis yang mulai mengerti bahwa pria di sampingnya serius hanya bisa menunduk. Ia tak bisa menentukan sikap, bahkan sekadar kata terasa terkurung di dalam kepala. Meski sejujurnya ia sangat ingin menimpali, benarkah jika Takei menyukainya sejak pandangan pertama? Bukankah itu terdengar sangat klise? Namun seolah sudah pasrah dengan rasa gugupnya, Takei kini bisa lebih rileks mengatakannya. Pria itu kembali berujar, "Entahlah kenapa aku sangat tertarik padamu sejak saat itu. Mungkin karena kami tersenyum seperti musim semi yang datang?" Ia menatap Sakura, memastikan reaksi dari gadis yang masih menunduk dalam. Sakura masih bergeming. Jujur ia tersipu mendengar kalimat yang menyenangkan itu. Akan tetapi, ia sebisa mungkin harus pandai menjaga sikap. Wanita mana yang senang dipuji pria lain sementara dirinya baru saja berkencan? Belum sempat Sakura menjawab, Takei sudah lebih dulu menyimpulkan. "Aku terdengar sangat bodoh, kan?" katanya. Merasa tak enak, Sakura segera menggeleng. "B-bukan begitu," ucapnya sedikit gugup. Mendengar Sakura mengeluarkan suara, Takei hanya bisa menatap dengan senyum yang akan menerima segala bentuk jawaban. Bahkan jika itu sebuah penolakan. Sakura kembali terdiam beberapa saat. Ia menarik napas dalam, mencoba mengalirkan udara agar melebur kegugupan. Hingga setelah hatinya cukup tenang, gadis itu mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sedari tadi. Ditatapnya mata Takei dengan berani. Lalu secara tegas ia berkata, "Sebenarnya aku sudah berkencan dengan orang lain. Maafkan aku, Kak." Sakura membungkuk penuh perasaan bersalah. Meskipun jujur lebih baik, tapi penolakan tetap menyakitkan. Dan ia tidak menyangka menolak seorang pria dalam hidup. Ia senang, tapi juga sedih. Beberapa detik Takei membeku di tempat. Meski ia sudah siap, tapi tetap saja hatinya sakit saat mendengar itu. Tetapi setelahnya ia tersenyum. Ada luka di sudut mata yang coba disembunyikan. "Ah, syukurlah kalau begitu. Kamu tidak perlu membalas perasaanku, Sakura," ucap Takei mencoba tegar, tetapi justeru malah membuat Sakura merasa semakin dirundung rasa bersalah. Disakiti oleh kejujuran jauh lebih baik, daripada dibahagiakan oleh kebohongan, Takei.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN