"Maafkan aku. Tapi aku menyukai orang lain."
Nami mendengar kalimat penolakan dengan hati yang bergetar, seperti ada gergaji yang tengah memotong-motong di dalam. Memang sudah ia pastikan jika pria yang disukai tidak akan membalas perasaan, akan tetapi, tidak diterima adalah hal yang akan menuai luka.
Setelah apa yang ia sebut sebagai keberanian terbesar menyampaikan perasaan pada Takei, lalu sekarang Nami harus menerima kenyataan pahit bahwa kedekatan mereka selama ini hanyalah sebatas itu saja, tidak lebih.
"Apa gadis itu Sakura?" tanya Nami setengah menahan tangis.
Sebenarnya, ia sadar jika pengungkapan ini terlalu cepat. Namun saat melihat Takei seolah menyukai temannya, Nami terdorong untuk segera menyatakannya. Meski kenyataan menusuknya dari belakang.
Dengan air mata yang ditahan, Nami berusaha tegar menatap pria yang masih diam di hadapannya. Beberapa saat tidak ada jawaban yang dia inginkan. Takei masih membisu, seolah membenarkan dugaan gadis di sana.
Setelah beberapa saat, barulah Nami tersadar jika pertanyaannya sudah terjawab dari awal. Diam adalah kata lain dari iya.
Nami mendengus dingin, melempar pandang ke segala arah sembari menahan air mata yang hampir tertumpah. Sesekali wajah gadis itu menunduk, rasa sakit di hati benar-benar mencabik perasaan, bahkan pikiran seolah keruh seketika.
"Ternyata benar dugaan ku selama ini," ucap Nami setelah beberapa saat pria di hadapannya tidak menjawab.
Dengan wajah dibuat setegar mungkin, Nami menatap pria yang kini juga melihat kearahnya. Setelahnya ia melanjutkan, "Selama ini Kakak mendekatiku hanya ingin tahu lebih banyak tentang Sakura, kan?" ungkapnya sedikit kesal.
Mendengar itu, kedua mata Takei membulat. "Itu tidak benar!" Ia mengelak.
Namun gadis di depannya segera menggeleng. "Harusnya aku sadar lebih cepat saat Kakak berkali-kali menanyakan Sakura. Atau ketika memilih tempat bertema musim semi saat salju turun. Itu semua karena gadis itu, kan? Gadis yang Kakak suka," ucap Nami meneruskan. Perlahan, air mata luruh mengalir membasahi wajah.
Takei masih bergeming. Segala tuduhan yang dilontarkan oleh Nami adalah benar, tidak ada yang salah. Ia memang berniat untuk dekat dengan Sakura. Salah satu caranya adalah mendekati teman dekat gadis itu. Namun, ia sedikit egois untuk mengakui keegoisannya.
"Kau salah menduga," ucap Takei, yang pada akhirnya tetap bersembunyi di balik kebohongan.
Nami masih tidak percaya. Perasaannya mengatakan jika apa yang ia duga adalah benar. Ia tetap menggeleng cepat. Sakit hati karena ditolak saja sudah cukup membuatnya muak, lalu sekarang pria di depannya masih terus mengelak. Sampai kapan Takei terus membohongi?
Perlahan tangisan samar terdengar semakin jelas. Gadis di sana tersedu, meski beberapa kali mengusap wajah dengan kasar. Berharap air mata berhenti walau nyatanya mengalir semakin deras.
"Bukankah itu jahat sekali?" ucap Nami di sela tangis yang coba dihentikan. "Kau sangat tega melakukan ini padaku. Memainkan perasaan hanya untuk kepentingan dirimu sendiri," lanjut gadis itu, kali ini berganti menyalahkan Takei.
Gadis itu terus menangis. Perasaan yang rapuh benar-benar sudah hancur. Ia terluka, dan harus ada yang disalahkan atas kepedihan itu. Apakah itu pria yang duduk membisu di depannya, ataukah orang lain yang menjadi alasan pria itu melakukannya?
Akan tetapi, belum selesai Nami dengan air mata yang terus membanjiri, tiba-tiba terdengar helaan napas kasar dari pria yang sedari tadi hanya terdiam.
Takei mendengus, menatap Nami dengan tatapan meremehkan. Bola matanya diputar malas, bibir terangkat sebelah. Selanjutnya pria itu berkata, "Aku tidak percaya datang ke sini hanya untuk mendengarkan keluhan darimu."
Sementara Nami, gadis itu masih belum menanggapi. Apa sekarang ia yang disalahkan? Apakah perasaan yang diungkapkan itu salah?
Pria di sana bangkit dari duduk. Berdiri sembari menatap Nami yang masih menangis. "Dan tangisanmu itu membuatku semakin muak. Bisa kau hentikan itu?" tanyanya tak berperasaan.
Mendengarnya membuat Nami merasa semakin disakiti. Hatinya berkali-kali lebih terluka. Untuk menjawab saja lidahnya seperti dibekukan, tidak bisa berkata.
"Baiklah. Lakukan sesukamu. Aku akan pergi dari sini," ucap Takei, yang tanpa menunggu ia segera beranjak dari depan Nami.
Namun belum genap tiga langkah, Nami yang sudah terlanjur marah tiba-tiba mengangkat kepala. Gelas berisi jus jeruk yang masih penuh segera diangkat, lalu dilemparkan begitu saja hingga pria di sana terhenti.
Napas Nami naik turun menahan kesal. Setelah ditolak, sekarang ia dicampakkan. Sungguh penghinaan yang tidak bisa diterima.
Nami menatap punggung basah seorang pria yang mematung di tempat. Ia sudah tidak peduli dengan image di hadapan pria yang disukai. Benarkah setelah apa yang terjadi ia masih menyukainya? Bisa dikatakan gila jika benar.
"Apa kamu sekarang membuangku setelah mendapatkannya?" ucap gadis itu dengan penuh penekanan. Tidak mudah menahan emosi agar tetap tenang di saat seperti ini.
"Kemarin kami pergi menemuinya, kan?" lanjut Nami, "dan sekarang, aku seperti barang yang sudah tidak dibutuhkan!"
Awalnya Takei mencoba bersabar atas sikap gadis yang menyiramnya dengan sengaja. Ia ingin mengabaikan dan segera pergi. Namun setelah mendengar kalimat demi kalimat terakhir, pria ini merasa semakin berang.
Takei menoleh, menghadiahi Nami dengan tatapan tajam. Dengan suara yang sangat berat, akhirnya ia berucap, "Cukup. Tidak ada yang aku dapatkan, maupun aku buang." Setelahnya ia terdiam beberapa saat. Lalu sebelum pergi, "Aku telah ditolak."
Kemudian pria itu benar-benar pergi meninggalkan gadis yang belum bisa mengeringkan air dari matanya.
Selepas kepergian Takei, Nami hanya bisa menatap punggung pria itu yang menjauh dengan cepat. Ia terluka, tapi menyesal di saat bersamaan.
Jika ada hal yang tak bisa dijelaskan, mungkin salah satunya adalah perasaan gadis itu. Ia marah, tapi tidak tahu kepada siapa amarahnya tertuju. Semua abu-abu, seperti menatap di dalam air, terlihat samar meski sebenarnya ada kejelasan.
Nami semakin menangis, ia terbelenggu oleh perasannya sendiri. Mungkin yang dilakukannya salah. Mungkin ia terlalu percaya diri, mungkin ia sangat terburu-buru tanpa sadar diri.
Pertemuan yang ia rencanakan dengan harapan mekarnya musim semi di remaja, kini harus kandas bahkan saat salju benar-benar sudah mencair. Musim semi yang berakhir sebelum dimulai.
Sementara pagi harinya, Haruka datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Ia seperti tengah menghindari seseorang.
"Haruka! Kenapa kamu meninggalkan ku?" pekik Sakura begitu memasuki kelas. Dengan wajah garang, ia menuju tempat duduk pria yang tidak ia temui di jalan pagi tadi.
"Kau sengaja menghindar dariku?" tanyanya diulang.
Namun Haruka yang tidak sengaja berangkat awal hanya bisa menghela napas pasrah. Percuma berdebat jika gadis itu sudah bertingkah demikian.
Tak ingin mendengar ocehan dari Sakura yang sepertinya akan semakin panjang, Haruka segera mengeluarkan dua kotak s**u dari dalam tas. Lalu menyerahkannya persis di depan wajah gadis di sebelahnya.
Sakura menatap heran, meski cara itu berhasil membuatnya terdiam.
"Kau ingin menyogok dengan minuman?" tanya gadis itu, masih kesal meski nyatanya sedikit tersipu.
Tak kunjung diambil, Haruka berniat mengambil kembali s**u yang ia berikan. "Kalau tidak mau yasudah," ucapnya santai.
Namun dengan cepat Sakura menyambar minuman dari tangan Haruka. "Darimana kau dapat ini?" tanyanya ketus, walau sekarang s**u sudah berpindah ke tangannya.
Haruka menoleh, menatap Sakura beberapa saat jingga gadis itu benar-benar tersipu. Lalu setelahnya berkata hal yang kembali membuat Sakura kesal.
"Aku menemukannya di jalan."
Pernyataan itu berhasil membuat Haruka mendapatkan bogem mentah di lengan, berkali-kali. Namun sama sekali tidak terasa sakit, pria itu justeru merasa senang.
Sementara di ambang pintu, seseorang yang baru datang menatap keduanya dengan mata yang sulit diartikan. Ada luka dan kekecewaan di sana. "Kenapa harus Sakura?"