Sakura menoleh saat mendengar suara hantaman keras ke atas meja. Rupanya itu Nami, gadis yang baru duduk dan langsung melempar tas dengan kesal.
Melihat hal itu, Sakura yang tengah bercanda dengan Haruka seketika terdiam. Tidak biasanya Nami bertingkah seperti itu, bahkan jika sedang marah sekalipun.
"Sesuatu pasti telah terjadi," gumam Sakura.
Sedangkan Haruka, ia yang tidak terlalu memperhatikan sekitar hanya mengerutkan dahi, tak paham dengan apa yang dikatakan gadis di sampingnya.
Namun belum sempat pria itu bertanya, Sakura sudah lebih dulu beranjak. "Aku akan memastikan," ucapnya seraya membawa dua s**u kotak uang Haruka berikan.
Perlahan, Sakura mendekati meja Nami. Ia sangat tahu jika perasaan temannya tengah porak poranda, tetapi sebabnya harus dicari tahu. Untuk itulah gadis ini datang.
Ingin menghibur Nami, Sakura meletakkan satu s**u kotak rasa stroberi di depan gadis itu. Dengan wajah ceria, ia menyapa, "Suasana hatimu sedang buruk?" tanyanya, dengan senyum lebar.
Biasanya jika Sakura mengatakan hal semacam itu, Nami akan merespon dengan baik. Membalas candaan dengan tawa atau pukulan. Namun kali ini, semua terlihat sangat berbeda. Tidak ada tanggapan apapun di sana selain gadis yang memalingkan muka, menatap ke lawan arah padahal teman yang mengajak bicara ada di belakangnya.
Nami membuang napas kasar, tidak menatap gadis yang datang bahkan hanya untuk satu detik pun. Bahkan kedatangan Sakura terasa sangat mengganggunya.
"Nami. Apa ada masalah?" Kali ini Sakura bertanya dengan nada yang semakin pelan. Sepertinya perkara yang temannya rasakan bukan hal ringan seperti biasa.
Sakura menunggu jawaban dengan diam, meski nyatanya temannya sama sekali tidak memperdulikan. Bahkan melihatnya saja seperti enggan.
Nami terus bergeming. Perasaan semalam belum selesai, ia butuh waktu untuk berdamai dengan diri sendiri. Namun dengan terus mendengar atau melihat Sakura, akan semakin menyulitkannya. Perasaan yang seharusnya dimengerti, kini seolah tak mau dipahami.
Sementara di sampingnya, gadis yang ingin dihindari terus bertanya tanpa jeda. Sebuah bentuk kepedulian yang tidak ingin Nami dapatkan saat ini. Bahkan hal yang seharusnya membuat senang, kini memupuk rasa kesal.
Tiba-tiba Nami menoleh, mengarahkan tatapan tajam menusuk pada Sakura. Beberapa detik ia hanya terdiam, tapi wajahnya seolah mengirim hunusan.
Sakura yang merasa takut hanya bisa memastikan. "Nami?" ucapnya dengan hati-hati. Ini pertama kalinya melihat tatapan seperti itu.
Sampai tatapan tajam itu beralih dengan pukulan pada meja. Suara gebrakan jelas terdengar, meski Nami tidak berencana melakukannya dengan sekuat tenaga. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu pergi dari hadapan Sakura.
Melihat Nami bertingkah seolah membencinya, Sakura hanya bisa membiarkan gadis di sana beranjak. Ingin ia kejar, tapi kakinya terasa lemas karena tatapan yang diberikan oleh temannya barusan.
"Dia membenciku," lirih Sakura setelah Nami hilang dari pandangan. Entah apa yang terjadi, tapi begitulah perasaannya berkata. Tatapan kebencian yang pernah ibunya berikan, tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang ayah.
Dengan langkah gontai, Sakura kembali ke kursinya. Satu kotak s**u ia bawa, sedangkan yang satu dibiarkan begitu saja di meja Nami.
Wajahnya murung, kedua mata menampilkan tanda tanya yang sangat besar.
"Apa aku sudah melakukan kesalahan padanya?" gumam Sakura sembari memikirkan banyak sekali kemungkinan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Sementara di depannya, Haruka yang mendengar samar gumaman Sakura segera berbalik. Ya, mereka sudah berkencan, akan lebih baik jika keduanya saling peduli.
Dahi Haruka mengerut ketika melihat gadis yang pagi tadi masih ceria, kini seperti kehilangan matahari di wajahnya. Sakura murung setelah kembali dari meja Nami.
"Ada apa?" tanya pria itu.
Wajah Sakura terangkat, matanya menatap Haruka. "Apa aku sudah berbuat kesalahan?" tanyanya memastikan. Ia hanya butuh validasi, dari siapapun tidak peduli.
Namun Haruka yang sama sekali tidak mengerti hanya bisa menyatukan kedua alis. "Satu-satunya kesalahan adalah kamu menyukaiku," ucapnya bergurau.
Mendengar itu, Sakura segera menggeleng. "Bukan masalah itu," ungkapnya, "Nami. Dia telah membenciku," lanjut gadis itu.
Haruka semakin tidak paham. "Apa dia mengatakannya padamu?" Namun ia harus mencoba mengerti perasaan Sakura.
Sakura menggeleng pelan. "Tidak secara langsung. Tapi tatapannya mengatakan seperti itu. Tatapan sangat membenci," ungkap gadis itu.
Empat jam berlalu begitu saja.
Istirahat pertama dimulai dengan Sakura dan Nami yang saling diam. Sungguh menyesakkan jika seseorang yang biasanya selalu datang, kini bergegas pergi seolah berada di dalam satu ruangan yang sama adalah hal yang sangat menyebalkan.
Melihat temannya pergi tanpa mengajak, Sakura hanya pasrah menatap punggung Nami yang perlahan hilang setelah melewati pintu. Ia membuang napas panjang, berusaha berpikir positif barangkali Nami memang sedang tidak ingin siapapun menganggu, bukan berarti gadis itu membencinya.
Di tengah jam istirahat yang belum berakhir, Sakura mendapat panggilan alam yang mengharuskannya pergi ke toilet.
Setelah beberapa saat berada di dalam bilik kecil, ia akhirnya keluar dengan perasaan lega yang tak bisa dijelaskan. Kemudian menuju wastafel dan berniat membersihkan tangan.
Hingga tiba-tiba seorang gadis ikut berdiri di samping Sakura. Tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Ia adalah Nami.
Sakura ingin menyapa, tapi diurungkan mengingat aura yang ada dalam diri Nami masih belum berubah semenjak tadi pagi. Akhirnya, ia hanya mencuci tangan dengan keheningan.
Namun ketika ia hendak beranjak dari sana, Nami tiba-tiba bersuara. Menyampaikan kalimat yang secara otomatis membuat langkah Sakura terhenti.
"Apa kamu merasa menang?" tanya Nami dengan nada datar.
Awalnya Sakura tidak yakin jika Nami sedang berbicara dengannya. Namun saat didapati tidak ada orang lain di sana selain mereka, gadis itu barulah sadar jika tengah diajak berbicara.
Sakura berbalik, menoleh pada Nami dengan segudang pertanyaan.
"Bukankah menyenangkan disukai oleh pria yang sahabatmu sendiri sukai?" ujar Nami melanjutkan.
Mendengar itu, Sakura terpaku beberapa saat. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang Nami katakan.
"Nami. Apa maksudmu?" tanya Sakura memastikan.
Nami tak langsung menjawab. Ia mengepakkan tangan yang baru selesai dibasuh. Mengelapnya hingga kering sebelum akhirnya menatap Sakura. "Lalu setelah semua itu, kamu menolaknya. Apa karena kasihan padaku? Dengar, aku tidak butuh itu!"
Sakura terhenyak. Memikirkan apa yang dikatakan Nami membuatnya seketika teringat akan kejadian di taman malam itu. Ya, sudah jelas siapa pria yang temannya maksud. Namun yang ia sesali, kenapa Nami harus mengetahui lebih dulu sebelum dia menceritakannya?
"Maksudmu Kak Takei?" tanya Sakura dengan ragu. Benar, ia harus segera meluruskan jika itu kesalahpahaman yang terjadi.
Nami mendengus. "Ya. Bukankah menyenangkan disukai oleh pria sepertinya? Bahkan jika harus menikung sahabatnya sendiri."
Sakura segera paham di mana letak duduk permasalahannya. Dengan cepat ia meluruskan, "Kamu salah paham, Nami. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ungkapnya.
Namun Nami yang masih diliputi rasa kesal tentu tidak langsung percaya. Ia hanya diam, tapi tatapannya seolah meremehkan.
Hingga Sakura kembali melanjutkan, "Kak Takei mungkin pria tampan yang patut diidolakan. Menolaknya terdengar sangat tidak masuk akal bagimu, kan?" Ia menatap gadis yang masih bergeming dalam kesal.
"Tapi, Nami. Aku menolaknya bukan karena kamu. Sebab aku memang ingin. Lagipula, aku sudah berkencan dengan seseorang."