"Sakura, siapa orang itu?" tanya Nami seraya mengejar gadis dari toilet. "Bukan Kak Takei, kan?" lanjutnya.
Kalimat barusan membuat gadis di depan berhenti. Sakura menoleh, lalu tersenyum. "Tentu saja bukan. Dia orang yang jauh lebih menarik," ujarnya. Lalu setelahnya kembali berjalan cepat, sedikit tidak memperdulikan Nami yang sikapnya berubah cukup drastis dari sebelumnya.
Di mana Nami yang kecewa dan marah beberapa saat lalu? Tidak ada. Sebab gadis itu hanya terjebak dalam ketakutan dan kekhawatirannya sendiri. Saat nyatanya apa yang dipikirkan tidak benar, barulah ia sadar. Kata maaf mungkin kurang tepat untuk saat ini.
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apapun padaku?" protes Nami, bahkan ketika mereka sudah tiba di kelas, ia masih terus mencecar Sakura dengan pertanyaan.
Namun Sakura masih belum menanggapi. Ia merasa cukup lega, dan sengaja ingin membuat Nami mengejar, itu cukup menyenangkan.
Seolah belum ingin memperdulikan Nami, Sakura langsung duduk di kursi tepi jendela. Mengambil buku dari laci meja, lalu tersenyum seraya menatap pria di depannya.
"Sakura. Kamu mengabaikan ku?" Nami masih berusaha meraih perhatian gadis di depannya.
Mendengarnya membuat Sakura menoleh. Ia tersenyum dengan gelengan kepala pelan. "Aku tidak mengabaikan mu, Nami," ucapnya, terdengar berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan.
Sontak bibir Nami mengerucut. "Kalau begitu siapa orang itu? Apa dia siswa sekolah ini?" tanyanya masih terus berputar di topik yang sama.
Ingin mengerjai Nami, Sakura mengerutkan dahi. "Siapa yang kamu maksud?"
Nami menghela napas berat, bola matanya diputar malas. Selanjutnya berkata, "Pria yang kau kencani. Apakah dia siswa sini? Apakah dia pria yang sangat tampan?" tanya gadis itu masih belum kehilangan antusias.
Mendapati temannya hampir mati berdiri karena penasaran, Sakura terkekeh kecil. Ia tidak tahu pria seperti apa yang Nami bayangkan. Pria tampan, sebenarnya bagaimana standar dari ketampanan seseorang?
Namun setelah beberapa saat hanya menertawakan, Sakura akhirnya menatap gadis yang masih penasaran. Ia mengangkat kedua bahu. "Entahlah apa dia tampan atau tidak. Tapi bagiku dia yang terbaik."
Satu detik setelah kalimat Sakura selesai, seseorang yang duduk di depannya tanpa sengaja terbatuk. Haruka, pria itu seolah tersedak udara yang dihirup.
Sontak Sakura dan Nami menoleh ke arah pria yang kini tengah mengelus d**a.
Sakura terdiam dengan senyum aneh yang sulit diartikan. Sedangkan Nami, mata gadis itu memicing. Lalu tanpa pikir panjang beralih ke hadapan Haruka.
"Haruka. Kamu tahu sesuatu?" tanya Nami lebih antusias dari sebelumnya.
Tiba-tiba tengkuk Haruka terasa gatal. Dengan menghindari kontak mata, ia menoleh, tapi tatapannya beradu dengan sisi yang lain. Kemudian menggeleng. "Sama sekali tidak," ucapnya singkat. Padahal jelas jika tingkah pria itu berbeda.
Namun saat mendengar itu Nami langsung percaya. Dengan wajah lesu ia kembali pada Sakura. "Harusnya aku tahu jika dia akan menjawab seperti itu," ungkapnya kesal.
Sakura hanya bisa tertawa. Entah apa yang sangat lucu, mungkin melihat tingkah kedua temannya.
"Jadi, Nami. Jangan terlalu berharap kamu bisa mendapatkan jawabannya," ujar Sakura dengan menggoda.
Nami akhirnya pasrah. Ia tak lagi menuntut jawaban. Mungkin karena bel masuk yang sudah berbunyi. Sebab sebelum duduk ia memberikan ancaman. "Aku tidak akan berhenti. Ingat itu," ucapnya dengan serius.
Tentu saja, Sakura hanya terkekeh seraya mengangguk. Bahkan jika Nami tidak menyerah, bahkan bila seluruh penghuni dunia tahu, bukan masalah untuknya. Yang perlu dikhawatirkan adalah, pria bernama Haruka. Nampaknya pria itu tidak terlalu nyaman jika ada seseorang yang tahu.
Namun tepat setelah Nami pergi, pandangan Sakura menatap lekat ke arah pria di depannya. Seseorang yang hanya terlihat rambut belakangnya saja, dengan tangan yang sesekali menopang kepala.
Dihembuskannya napas dengan panjang. Ada perasaan yang tidak bisa diartikan tiba-tiba menyelinap begitu saja. Hingga ketika pelajaran kembali dimulai, barulah Sakura bisa sedikit mengalihkan perhatian dari Haruka.
Langit sepulang sekolah terlihat cerah. Sepertinya musim semi memang benar-benar sudah dekat. Siapa yang tidak senang dengan musim khas negeri sakura tersebut? Tentu tidak ada. Kecuali, seorang gadis yang terus bersembunyi di balik rasa takut. Ketakutan akan waktu yang cepat berlalu.
Lampu taman yang padam, kotak pasir yang tengah dimainkan, juga jungkat-jungkit yang terlihat sangat menyenangkan. Sakura tersenyum ketika melihat sekeliling. Tawa anak-anak yang terlihat sangat polos tanpa beban, sungguh sanggup memperbaiki suasana hati yang kurang baik.
Siang ini sepulang sekolah, gadis itu memang meminta untuk pergi sebentar sebelum menghanyutkan perahu kertas. Alasan klasiknya adalah ia ingin pergi berkencan seperti pasangan pada umumnya. Meski hanya berjalan-jalan di taman, itu sudah cukup untuk sekarang.
Saat keduanya masih menyusur jalan, tiba-tiba aroma semerbak takoyaki menusuk hidung, membuat perut yang belum makan siang berteriak minta dibelikan.
"Kamu mau takoyaki?" tanya Haruka menawarkan.
Sakura berpikir sebentar. Dahinya mengerut seolah tidak yakin. "Apa hanya ada takoyaki di sana?" Ia memastikan.
Kali ini giliran Haruka yang beralih memperhatikan pedagang di seberang taman. "Sepertinya tidak. Ada es krim juga di sana," ucap pria itu setelah beberapa saat mengamati.
Mendengar jawaban Haruka, Sakura seperti kembali mendapatkan semangat. Ia segera mengangguk setuju, lalu berjalan cepat menuju pedagang di sana.
Tak perlu waktu lama, bahkan tidak sampai satu menit keduanya sudah tiba di depan outlet yang tidak terlalu ramai.
Setelah salah satu pedagang bertanya dengan ramah, Haruka segera mengucapkan pesanan. Satu takoyaki seafood yang ia inginkan. Kemudian beralih menatap Sakura yang terlihat masih berpikir. "Kamu mau pesan apa?" tanyanya.
"Tolong satu es krim vanila tanpa toping," ucap Sakura setelah beberapa saat berpikir.
Seperti mesin otomatis, pesanan keduanya langsung diiyakan. Sakura sangat senang, es krim adalah salah satu menu favoritnya.
Namun belum sempat pesanan dibuatkan, gadis itu teringat akan satu hal. Wajahnya terlihat panik. Dengan gusar menatap Haruka dan berujar, "Haruka. Aku lupa tidak membawa uang lebih."
Sesaat Haruka terdiam. Lalu tak lama tersenyum dan berkata, "Kamu tenang saja."
Mendengarnya tentu saja membuat Sakura merasa terharu. Ia tidak menyangka jika akan dibayarkan oleh Haruka. Seketika pipinya merona memikirkan betapa romantisnya kencan pertama mereka.
Namun badai tiba-tiba datang di tengah kemarau.
"Kalau begitu, es krimnya tidak jadi ya, Pak." Haruka yang mengatakannya.
Pipi merona tersipu kini berganti dengan malu. Kedua mata Sakura membulat tidak percaya. Benarkah Haruka melakukannya? Itu bahkan lebih kejam dari meminta membawakan tas seharian.
Sakura hampir tidak bisa berkata. Jika benar seperti itu, mungkin kencan pertama mereka akan menjadi yang terakhir. Tetapi, belum sempat gadis itu mengomel, Haruka sudah lebih dulu tertawa.
Wajah Haruka mendekat ke telinga Sakura. "Aku bercanda," ucapnya setengah berbisik. Lalu kembali mengucapkan pesanan es krim yang gadis di sana inginkan. Malahan ia mengubah ukuran dari cup sedang menjadi besar.
Beruntung, es krim yang sudah di tangan berhasil melunakkan emosi gadis yang hampir saja meledak.
"Terima kasih sudah membelikanku," ucap Sakura saat keduanya sudah duduk di salah satu kursi taman.
Haruka yang belum sempat mengunyah takoyaki menoleh. "Siapa yang bilang aku membelikanmu?" tanyanya terdengar menyebalkan.
Sakura terdiam, api di matanya terlihat kembali berkobar. "Baiklah. Akan kuganti uangmu besok. Haish, dasar!" ucap gadis itu setengah kesal.
Namun masalah belum selesai, Haruka menggeleng tidak setuju. "Aku tidak mau diganti dengan uang."
Dahi Sakura mengerut heran. Lalu pria itu ingin dibelikan es krim yang sama? Mudah saja pikir gadis itu.
"Aku ingin kecupan di sini." Haruka meletakkan jari telunjuk di pipi kiri. Sejak kapan dia mulai berani?
Sakura terhenyak. Ia kehilangan kepercayaan pada telinga yang barusan mendengar. Itu fakta atau hanya fatamorgana? Namun sepertinya pria di sebelahnya serius. Meski begitu, tentu Haruka hanya akan mendapatkan pukulan dari Sakura.
"Hei! Kamu tidak boleh meminta hal seperti itu dari gadis SMA. Kamu bisa dituntut!" ungkap Sakura, terdengar mengancam.
Tetapi bukan masalah, Haruka hanya bercanda. Ia mengangkat bahu, memasukkan takoyaki ke dalam mulut, lalu bergumam. "Kalau begitu, aku akan memintanya pada wanita yang lebih dewasa."
Kali ini tas yang terbang begitu saja ke kepala Haruka.
"Kamu ingin mati, Haruka?" Sakura sudah menatap berang seperti singa yang menemukan mangsa di tengah perut lapar.