"Haruka," panggil Sakura di tengah arus yang telah membawa dua perahu kertas.
Sementara di sampingnya, seorang pria pemilik nama menoleh. Sebelum akhirnya gadis di sana melanjutkan, "Kenapa kamu berkata tidak tahu pada Nami?"
Dahi Haruka sedikit mengerut. Memikirkan kapan dirinya mengatakan itu pada Nami. Tetapi setelah beberapa saat seketika kedua matanya membulat, ciri khas tersadar akan satu hal. "Ah, itu ...."
Mata Sakura memicing. "Kau malu mengakuinya, kan?" tanyanya penuh selidik. Setelahnya memberi jeda beberapa detik, menanti alasan yang akan Haruka berikan.
Namun setelah beberapa saat berlalu tanpa ada satu katapun yang terlontar, akhirnya Sakura menyerah. Dibuangnya napas dengan berat. "Ya. Anggap saja seperti itu untuk saat ini," ucapnya dengan kecewa.
Haruka masih bergeming. Bukan, bukan seperti itu yang ia maksud. Memang ada rasa malu untuk beberapa alasan. Hanya saja, tidak sepenuhnya benar jika hal itu mendorongnya berkata tidak tahu saat ditanya tentang hubungan mereka.
Pria itu menoleh, memastikan bagaimana garis yang terlihat di wajah Sakura. Tetapi tidak terlihat, sebab gadis di sampingnya mengarahkan pandangan ke bawah, sembari kakinya bermain di air. Sedangkan rambut yang terurai menutupi separuh muka Sakura.
Haruka menarik napas dalam. Sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak malu. Hanya saja aku tidak tahu harus menjawab apa saat Nami bertanya tadi," ungkapnya.
Tetapi Sakura hanya bergeming. Pandangannya sama sekali tidak beralih, seperti dunia hanya berisi dirinya dan air yang sedang dimainkan. Apakah dia marah? Maka Haruka yang akan memastikan.
Mendapati gadis di sampingnya tidak merespon, Haruka merasa seolah ia telah menyakiti perasaan Sakura. Ada beberapa hal yang sangat sensitif bagi wanita, mungkin tidak diakui hubungan di depan orang adalah salah satunya.
Perlahan, tangan pria itu terangkat. Rambut yang menutupi separuh wajah Sakura membuat Haruka ingin segera merapikannya. Setidaknya dia bisa melihat mata gadis yang sangat indah.
Namun saat hampir tangannya menyentuh sehelai rambut, tiba-tiba Sakura bereaksi. Bukan pada sikap pria itu, tetapi akan hal yang lain. Yang tentu saja sontak menghentikan tangan Haruka.
"Ikan!" pekik Sakura dengan tangan menunjuk ke dasar air. Di detik berikutnya ia menoleh dengan senang. "Kau lihat. Ada ikan di sana. Aku dari tadi ragu apakah itu ikan atau bukan, tapi ternyata benar," lanjutnya.
Sementara Haruka, ia yang sudah menyembunyikan tangan ke dalam saku hanya bisa bereaksi sekenanya.
Sakura menyambung, "Wah. Bukankah ikan itu cantik?" ucapnya dengan mata yang tidak lepas dari hewan kecil di dalam air.
Haruka tidak mengangguk maupun menggeleng. Bukankah cukup aneh dengan apa yang ia kira sebelumnya. Sakura memang benar-benar tidak peduli, ataukah mencari alibi untuk menutupi?
"Apa ... kau tidak marah?" Akhirnya Haruka bertanya untuk memastikan.
Mendengarnya membuat Sakura menoleh. "Untuk apa?" tanyanya.
Namun dengan cepat Haruka mengelak. "Tidak. Lupakan," ujar pria itu, lalu membuang pandangan ke sembarang arah. Mungkin akan lebih baik untuknya untuk tidak menjelaskannya.
Sayangnya, intuisi perempuan segera menyadari. Sakura terdiam, tetapi senyumnya mengembang. Kemudian menatap pria di beberapa saat hingga tatapnya disadari.
Benar saja, Haruka segera sadar jika Sakura tengah memperhatikan. Ia turut menoleh, membalas tatapan gadis itu.
"Sepertinya aku tidak berhak marah," ucap Sakura, yang tentu saja memunculkan pertanyaan lain pada Haruka. Namun sebelum kalimat tanya didengar, ia segera melanjutkan, "Lagipula bukankah tidak ada bedanya status kita diketahui atau tidak?"
Pria di sampingnya terdiam. Perkataan Sakura tidak sepenuhnya bisa ia mengerti. "Maksudmu tidak masalah jika orang lain tidak tahu?" tanya Haruka memastikan.
Sakura mengangguk pelan. "Tapi sebenarnya aku cukup sedih jika kamu tidak mau mengakuinya," ujarnya dengan raut wajah dibuat kecewa. "Padahal aku sendiri sangat bersemangat dan ingin berteriak pada dunia saat ini juga," lanjut gadis itu.
Tanpa sadar, senyuman Haruka mengembang melihat gadis di sampingnya berkata demikian.
"Apa yang ingin kau teriakkan?" tanya pria itu.
Masih dengan kaki yang mengepak di dalam air, Sakura menjawab, "Aku akan mengatakan jika pria di sampingku ini adalah kekasihku. Dan aku akan meneriakannya dengan sangat lantang."
Mendengarnya membuat Haruka tak bisa menahan tawa. Ia terkekeh, meski sudah tahu jika setelahnya Sakura akan tersinggung, paling tidak sebuah mata melotot akan menatapnya tanpa ampun.
Namun sebelum tatapan mengerikan itu terjadi, Haruka segera menghentikan tawanya. "Maksudmu seperti ini?" Kemudian berdiri dan memasang kedua tangan mengapit mulut. Lalu berteriak, "Semuanya dengarkan aku. Kalian lihat gadis cantik di sini? Dia adalah kekasihku. Jadi jangan berharap kalian bisa melihat mata indahnya tanpa izin dariku!" Teriakan yang bisa menerbangkan burung-burung dari atas pohon.
Tidak tahu harus merespon rasa malunya dengan sikap seperti apa, Sakura menarik Haruka untuk segera duduk. Ia menepuk lengan pria itu beberapa kali. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan wajah yang sudah merah padam.
Dahi Haruka mengerut. "Kenapa? Aku hanya melakukan apa yang ingin kamu lakukan," ujarnya tanpa rasa bersalah, maupun malu sedikitpun karena sudah berteriak sangat keras.
Satu pukulan kembali mendarat, kali ini cukup keras hingga terdengar bunyi pukulan. "Aku hanya bercanda! Kenapa kamu malah melakukannya?" Sakura masih malu jika mengingat apa yang Haruka katakan dengan berteriak tadi.
Akan tetapi Haruka yang merasa tidak bersalah segera protes. "Kenapa kamu terus memukuliku? Aku hanya mengakuinya pada dunia seperti yang kau katakan. Apakah itu salah?" ucapnya seraya menghindari pukulan Sakura.
Namun bukannya berhenti, Sakura justeru semakin meningkatkan kadar pukulan. "Kamu ini! Harusnya kamu sadar jika itu sangat memalukan," ujarnya, masih terus memberikan pukulan pada Haruka.
Tiba-tiba tangan gadis itu dihentikan. Haruka menggenggam lengan Sakura, menatap matanya dengan lekat hingga menciptakan rona merah pada pipi gadis yang kini tidak bisa berkata-kata.
"Kamu malu karena aku mengakuinya, atau karena perkataan yang lain?" tanya Haruka tanpa berniat mengedipkan mata.
Diberi tatapan seperti itu, seketika jantung di dalam diri Sakura seolah ingin berpacu. Detak tidak beraturan, Haruka benar-benar membuatnya kehilangan kata di dalam kepala.
"Yang mana?" tanya Haruka kembali diulang.
Namun pertanyaan itu sekaligus menyadarkan Sakura. Setelah terpaku beberapa saat, akhirnya ia bisa melepaskan tangan dari genggaman Haruka. "Semuanya! Semua hal yang kamu katakan dan lakukan tadi membuatku malu," ucap gadis itu setengah berteriak.
Haruka hanya terdiam melihat gadis di depannya yang tengah kesal. Ia yakin bukan itu yang Sakura maksud.
Sampai setelah beberapa detik, gadis itu kembali bergumam, "Meski sebenarnya aku senang mendengarnya." Suara yang sangat pelan, tapi masih bisa terdengar jelas.
Mendengarnya membuat senyum di wajah Haruka tak bisa ditahan. Bukankah sangat menggemaskan seorang gadis yang tersipu malu seperti itu?
Tetapi belum juga Haruka puas melihat wajah merah Sakura, gadis itu sudah lebih dulu menghadiahkannya sebuah pukulan tepat di d**a.
"Sudahlah. Aku tidak mau memikirkannya," ucap gadis itu, lalu berdiri dan pergi.
Sementara Haruka, ia memegang d**a yang baru saja menerima pukulan. Sama sekali tidak sakit, tapi mampu membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Pukulan dengan dibumbui perasaan memang berbeda.