"Apa yang sedang kamu hitung, Sayang?" tanya seorang wanita yang baru keluar dari dapur dengan satu panci sup yang dibawa.
Sementara gadis yang tengah menghitung hari di kalendar menoleh. "Hanya menghitung sisa hari, Ma," ucapnya dibuat seceria mungkin.
Namun waktu yang terus berlalu sungguh meninggalkan luka yang tidak bisa disembuhkan. Terlebih saat seseorang sama sekali tidak ingin pergi dari waktu sekarang.
Hana menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak ingin terlihat sedih, tapi saat melihat Sakura bertingkah seolah baik-baik saja justeru semakin membuat wanita itu tidak bisa menyembunyikan luka yang ada.
Menyadari hal itu, Sakura segera menyela, "Maksudku, sisa hari di musim dingin. Bukankah musim semi akan segera datang?" ucap gadis itu mengalihkan pembicaraan.
Mendengarnya membuat senyum di wajah Hana mengembang. Dengan perasaan sedikit lega ia mengangguk. "Segera sarapan jika sudah selesai," ujarnya lembut.
Hari-hari terakhir di musim dingin berlalu dengan tenang. Meski tidak ada yang tahu jika seorang gadis berusia hampir tujuh belas menahan kesakitan setiap malam.
Pagi ini, udara cukup hangat. Setidaknya suhu lebih tinggi dari sebelumnya. Apakah musim semi sudah datang?
Sakura berjalan menyusuri trotoar dengan wajah sumringah. Musim semi adalah masanya. Waktu di mana ia lahir dan mekar di dunia. Meski itu berarti, sisa waktu yang diberikan untuk tak lama lagi.
Berbeda dari awal saat ia harus berjalan cepat mengejar seseorang, beberapa waktu terakhir Sakura bisa lebih santai sebab pria yang biasa dikejar kini sudah menunggu di seberang penyeberangan.
Haruka, ia selalu menunggu Sakura tiba dan setelahnya melangkah bersama.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya gadis itu begitu sampai.
Pria yang tersenyum manis segera menggeleng. "Tidak selama menunggu musim berganti," jawabnya bergurau.
Mendengar gurauan itu membuat Sakura tertawa kecil. Tanpa berpindah kata, keduanya berjalan menuju sekolah.
Dua pasang langkah menyusuri trotoar di bawah cuaca yang cerah. Beberapa kali terdengar tawa, juga terdiam sesaat setelah tidak ada lagi yang menarik untuk dibahas.
Namun yang tidak Haruka sadari bahwa gadis yang berjalan di sampingnya terus menatap sedari tadi. Mengamati sesuatu yang hanya Sakura yang tahu.
Hingga akhirnya pria itu menyadari satu hal. Langkahnya berhenti, menatap heran gadis yang belum mengalihkan pandangan.
Dahi Haruka mengerut. "Apa yang kamu lihat?" tanyanya.
Sakura tersenyum, sementara kedua mata tidak bisa lepas menatap Haruka. "Hanya perasaanku, atau memang akhir-akhir ini senyum sering tampil di wajahmu?" ungkap gadis itu. Ya, dia mengamati perubahan sikap Haruka beberapa waktu terakhir.
Mendengarnya membuat hidung Haruka berkedut. Ia hampir tak bisa berkata, ucapan gadis yang sungguh seperti sihir dengan mantra. Apakah ia akan bersikap salah tingkah setelah mendapat sanjungan seperti itu?
Tidak. Meski Haruka nampak tersipu sejenak, nyatanya sesaat kemudian ia meletakkan telunjuk di dahi Sakura. Menyentil gadis itu lalu berkata, "Hanya perasaanmu saja!" ucapnya, lalu bergegas pergi melangkah di depan.
Sedangkan di belakangnya, seorang gadis masih berdiri memegang dahi. Bibirnya mengerucut, wajahnya nampak kesal. Meski pada akhirnya ia tetap mengekor pria yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
Esok sudah akhir pekan. Tentu ini adalah hari terakhir bagi mereka sebelum mendapat jatah libur dua hari. Walaupun tidak sedikit siswa yang tetap berangkat untuk tambahan pelajaran, atau melakukan ekstrakurikuler. Namun tidak untuk Haruka dan Sakura, keduanya tidak memiliki kegiatan selain belajar di kelas.
Sakura tengah duduk dengan melipat kertas saat Nami datang menghampiri.
"Sakura. Kamu ada waktu besok?" tanya Nami.
Beberapa detik Sakura terdiam. Sebelum menjawab, ia bertanya, "Kenapa memangnya?"
Tanpa meminta izin lebih dulu, Nami bergegas menarik kursi miliknya, meletakkannya di samping meja Sakura.
"Aku ingin pergi bertemu seseorang besok. Kamu bisa menemaniku?" tanya gadis itu dengan semangat. Ada kata memohon di tatapannya.
Sakura yang sudah paham dengan temannya hanya bisa menghela napas panjang. "Kamu pergi kencan buta lagi?" tanyanya memastikan, meski sebenarnya sudah tahu jika Nami akan mengiyakan.
Ketika dugaannya benar, sekali lagi Sakura membuang napas panjang. Ia mengeluh, lalu memandang Nami yang masih berharap. Setelahnya berkata, "Apa kamu benar-benar tidak bisa hidup tanpa pria?" tanyanya sedikit sarkas.
Tentu saja, mendengarnya membuat Nami terdiam. Wajahnya nampak sedih, walaupun hanya sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Ayolah, Sakura. Kamu bahkan sudah berkencan dengan seseorang. Aku harus mencari hiburan setelah dicampakkan," ujarnya setengah memelas.
Namun Sakura nampak tidak terlalu tertarik. Sebelum Nami dekat dengan Takei, ia sudah beberapa kali melakukan hal serupa. Meski selalu berakhir sama, tidak ada yang memenuhi standar ketampanan yang berkiblat pada para idol yang ia kagumi.
Lalu saat Sakura mengetahui temannya ingin mencoba dengan hasil yang kemungkinan besar akan sama, tentu saja ia tidak bisa mengiyakan. Padahal sebelumnya ia tak pernah diajak, tapi entah kenapa sekarang.
Sakura terdiam, terpaku seraya memikirkan kiranya kalimat apa yang pas untuk menolak ajakan Nami. Dengan rasa tidak enak hati, akhirnya satu alasan ditemukan. Ia hampir membuka suara, tetapi belum sempat sebab seseorang sudah lebih dulu menyela.
"Dia sudah memiliki janji denganku," ucap seorang pria yang dikira tidak mendengar, tapi nyatanya malah menyimak.
Sontak, Nami dan Sakura memandang ke arah yang sama. Haruka, pria itu sudah berbalik menghadap meja di belakang.
"Maksudmu Sakura?" tanya Nami tidak percaya.
Haruka hanya mengangguk. Tanpa peduli respon dua gadis di sana, ia kembali memutar tubuh, memasang earphone seolah tidak ingin mendengar lebih banyak.
Persis satu detik berikutnya, Nami beralih menatap Sakura. Dengan mata membesar, ia bertanya, "Benarkah apa yang Haruka katakan?"
Sakura segera mengangguk. Senyuman lebar tampil di wajahnya. "Ya. Aku sudah memiliki janji dengan Haruka. Jadi aku minta maaf tidak bisa menemani besok," ungkapnya sedikit lega.
Nami terlihat sedikit kecewa. Meski sebenarnya bukan itu yang dipermasalahkan saat ini. Hanya saja, "Lalu bagaimana dengan pria yang kamu kencani? Apakah tidak masalah jika kamu pergi dengan Haruka?" Justeru gadis ini yang khawatir.
Tanpa pikir panjang, Sakura kembali mengangguk. "Tidak masalah. Kami akan baik-baik saja."
Langit nampak cerah dengan matahari yang perlahan meninggalkan peredaran.
Di bawahnya, sepasang kekasih remaja berjalan beriringan. Menapaki trotoar dan meninggalkan sungai yang mereka kunjungi lebih dulu. Banyak yang sudah dibicarakan, tapi ada satu yang mengganggu Sakura.
"Haruka," panggil gadis itu di sela kaki yang melangkah.
Haruka menoleh, hanya dari wajah bisa mengatakan jika dirinya menanti kalimat lain dari Sakura.
"Soal apa yang kamu katakan pada Nami, apakah itu benar?" tanya Sakura dengan pelan.
Beberapa detik Haruka tidak menjawab. Dahinya mengerut sebelum akhirnya mengangguk. "Bisa benar jika kamu setuju," ujarnya.
Mendengar itu, Sakura mengambil kesimpulan. Tetapi masih ragu sampai harus memastikan lebih dulu. "Jika aku setuju, kemana kita akan pergi?"
Pria di sana berhenti, pandangannya beralih pada gadis yang berdiri di samping. Tak lama ia tersenyum. "Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"