Tidak Datang

1014 Kata
Seorang gadis berdiri mematut diri di depan cermin. Benar, malam berlalu dengan cepat tanpa bisa nyenyak terlelap. Memikirkan kemana dan bagaimana ia akan pergi hari ini, membuat Sakura hampir tak bisa tidur semalaman. Ia sangat bersemangat. Dua dress dan satu baju setelan tergeletak di atas kasur. Semenjak yang sedang dipadukan di hadapan cermin, adalah sebuah atasan berwarna merah muda dengan rok putih. "Apakah ini cantik?" gumam gadis itu seraya memutar tubuh. "Ya. Ini saja," lanjutnya mengambil keputusan. Usai dengan baju, kini giliran Sakura untuk menata rambut. Mencoba gaya poni tail, tapi setelahnya menggeleng. Lalu dicoba lagi membelah menjadi dua bagian rambut, tetapi lagi-lagi ia merasa tidak cocok. Pada akhirnya, gaya yang seperti biasalah yang dipakai. Rambut yang tergerai lurus ke bawah. "Mungkin ditambah ini?" ujarnya bermonolog sembari meletakkan bando pita bernada merah muda. Setelah terpasang, gadis itu tersenyum puas. "Nah. Ini sudah cukup." Tak ingin membuang waktu, Sakura bergegas pergi meninggalkan kamar. Turun ke ruang makan sebelum akhirnya pamit untuk pergi dengan Haruka. Senyum di wajahnya belum juga pudar. Bahkan semakin mengembang saat gadis itu melihat sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Lalu dengan semangat, Sakura menuruni tangga. Namun, sepertinya sisa dari salju belum juga usai. Saat kakinya menapak anak tangga keempat dari atas, tiba-tiba sesuatu serasa menyerang dadanya. Sakura menggenggam d**a dengan kuat, menepuk-nepuk berharap udara bisa masuk dengan benar. Akan tetapi waktu tak pernah mau menunggu. Perlahan gadis itu terduduk. Napas terasa sangat sakit, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Hingga pada akhirnya, kesadaran hilang selaras dengan napas yang tersengal. Sementara di bawah, wanita yang tengah menyiapkan sarapan hanya menyapa putrinya sekilas, lalu kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang lain. Ia tidak tahu, jika setelahnya ada masalah di ujung tangga. Hingga suara sesuatu menghantam lantai terdengar sangat keras. Hana terperanjat. Kompor yang masih menyala segera dimatikan. Dengan was-was ia kembali ke ruang makan. Namun yang terjadi ialah, matanya membulat sempurna, seakan hendak keluar dari tempatnya. Tubuhnya membeku. "Sakura!" * Sementara di sudut lain kota. Haruka berjalan dengan senang. Rambut yang sudah rapih dirapikan berkali-kali. Ia yang biasanya tidak terlalu peduli dengan penampilan, akhir-akhir ini mulai memilah pakaian yang membuatnya terlihat tampan. Untuk apalagi jika bukan untuk tampil baik di depan gadis pujaan. Sebuah taman di ujung jalan menjadi tempat pertama di mana keduanya akan bertemu. Sakura melarangnya pergi ke rumah, sebab arah yang berlawanan. Jadi mereka sepakat untuk berjumpa di suatu tempat. Haruka segera melihat jantung yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum pendek di sana hampir menunjuk angka sebelas, itu berarti memang sudah saatnya mereka bertemu sesuai perjanjian. Sebelum mencari tempat duduk, pria itu lebih dulu memandangi sekitar. Mencari sosok dengan pakaian seperti yang sudah Sakura deskripsikan sebelumnya. Baju merah muda dengan rok putih. Namun agaknya gadis itu belum datang. Setelah memastikan, Haruka segera duduk di salah satu kursi panjang menghadap jungkat-jungkit. Setelahnya membuka ponsel lalu mengirim pesan. [Aku sudah ada di taman. Jangan buru-buru, tidak masalah jika aku harus menunggu.] Haruka tersenyum menatap layar yang menunjukkan bahwa pesan telah terkirim. Menunggu hingga notifikasi sudah terbaca. Namun setelah beberapa saat, tidak ada tanda-tanda penerima pesan membacanya. "Dia sedang di jalan," gumamnya dengan tenang. Sembari menunggu Sakura, Haruka duduk dengan mengamati anak-anak yang sedang bermain di akhir pekan. Ia senang, sebab teringat dengan masa kecil yang menyenangkan. Masa di mana ia masih memiliki banyak teman. Tidak seperti sekarang, rasanya enggan sekali memulai hubungan dengan orang lain. Namun entah sihir apa, Sakura bisa meluluhkan hatinya. Haruka tersenyum, ia ingat betul bagaimana awal Sakura menyapa di kelas. Gadis itu masih sama seperti terakhir kali ia menemuinya. Bisa dibilang, Sakura adalah cinta pertama Haruka. Meski itu adalah kisah yang diduga berakhir sebelum dimulai. Akan tetapi, ia merasa senang sebab perasaan masa kecil yang terpendam akhirnya bisa disampaikan sekarang. Beberapa saat menunggu membuat Haruka berkali-kali mengecek ponsel dan jam tangan secara bergantian. Selain memeriksa waktu, barangkali gadis yang ia tunggu mengirim pesan. Namun nyatanya notifikasi pesan tetap tidak ada padahal waktu sudah berjalan cukup lama. Pukul dua belas kurang, itu berarti Haruka sudah menunggu lebih dari satu jam. Pria itu terlihat sedikit gusar. Sebenarnya destinasi pertama yang ingin Sakura kunjungi adalah sebuah cafe bernuansa gurun yang tengah tren di kalangan anak muda. Tentu, mereka akan pergi setelah waktu makan siang. Akan tetapi ini sudah waktunya mereka untuk makan dua kali, dan belum ada tanda-tanda Sakura akan datang. Sementara perut Haruka sudah merasa keroncongan. "Ah, s**l. Harusnya aku sarapan tadi pagi," gumamnya seraya mengelus perut yang kosong. Untuk mengganjal rasa lapar sementara, pria itu memilih untuk membeli makanan penutup di ujung taman. Es krim menjadi pilihan saat itu. "Es krim coklat satu," ucapnya saat tiba di outlet es krim. Pedagang di sana langsung mengangguk, lalu menanyakan apakah itu saja yang dipesan. Awalnya Haruka mengiyakan, tetapi saat teringat bagaimana senang Sakura ketika memakan es krim tempo hari, membuatnya segera berubah pikiran. "Dan satu es krim vanila." Tak berselang lama, dua es krim dengan cup sedang sudah berada di tangan Haruka. Pria itu kembali ke kursi panjang, berharap Sakura segera datang sebelum es krim mencair. Hal pertama yang Haruka lakukan ketika duduk adalah memotret es krim vanila, lalu mengirimkannya pada Sakura. Mungkin dengan melihatnya, gadis itu akan bergegas pergi sebab tidak ingin es krimnya dihabiskan. Namun setelah Haruka hampir menghabiskan es krim setengah dari cup, pesan yang ia kirim tak kunjung terbaca. Es krim juga perlahan mencair. Haruka menatap cup es krim vanila yang ia letakkan di sebelah. Membuang napas kecewa sebab waktu makan siang hampir berakhir, dan Sakura belum juga menemuinya. Untuk menghibur diri, Haruka kembali memotret es krim yang sudah berubah menjadi s**u rasa vanila. Dengan pesan, [Esnya sudah mencair. Tapi bukankah itu bagus? Sebab musim semi akan segera datang.] Waktu terus bergulir tak mau menunggu. Tidak peduli segusar apa Haruka menunggu, sosok yang ditunggu belum juga datang. Sampai langit yang tadinya biru kini berubah menjadi kemerahan. Haruka bangkit, hendak pergi dari sana sebab pesan juga tak kunjung mendapat balasan. Mungkin Sakura lupa, pikirnya. Hingga saat ia hampir pergi, matanya tidak sengaja menangkap gadis dengan baju merah muda dan rok putih seperti yang Sakura bicarakan. Dengan semangat yang perlahan kembali, Haruka menghampiri. "Sakura!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN