"Ah, maaf," ujar Haruka ketika gadis dengan pakaian sama seperti Haruka menoleh.
Nyatanya, harapan yang hampir timbul harus tenggelam seperti matahari yang mulai meninggalkan peredaran. Gadis dengan atasan merah muda, wajahnya sangat berbeda dari seseorang yang Haruka kenal. Ya, pria ini telah salah mengenali orang.
Langit sudah berubah warna menjadi merah, sementara es pada cup kini telah kehilangan eksistensinya. Tidak ada lagi es, hanya sekumpulan air dengan rasa manis tanpa ada jejak dingin sekalipun.
Haruka mendengus kesal. Berkali-kali mengecek ponsel untuk memastikan. Namun semakin ia berusaha sabar, hatinya semakin merasa gusar. Ia ingin berpikir positif, tapi setelah menunggu seharian, apakah itu perasaan yang wajar?
Hingga dengan harapan yang berujung kecewa, pria di sana memutuskan untuk beranjak. Meninggalkan taman dengan langit menuju temaram. Satu persatu lampu berbentuk bola menyala mengiringi kepergian Haruka.
Langkah lemas berjalan menyusuri trotoar. Malam semakin dingin, semakin membuat perasaan pria itu tak menentu. Menyalahkan Sakura adalah hal yang sangat ia hindari. Namun sekarang, entah kenapa ia hampir tidak bisa melakukannya. Ada yang harus disalahkan dari penantian seharian ini. Tentu saja, itu bukan dirinya.
Kerikil yang tadinya terabaikan, kini ditendang setiap kali ditemukan. Haruka benar-benar marah, meski wajahnya sama sekali tidak menampakan. Ia hampir menemukan kembali semangat dalam hidup, tapi setelah kejadian hari ini mungkin perasaannya akan kembali pada pandangan sebelumnya. Manusia hanya datang untuk mengecewakan.
Jarak yang harus ia tempuh untuk menuju rumah juga lumayan jauh. Sekilas Haruka sempat berpikir untuk mampir ke rumah gadis yang telah membuatnya menunggu tanpa kabar. Akan tetapi setelah dipikir-pikir, untuk apa ia sampai repot melakukannya? Jika ia dianggap, gadis itu pasti sudah memberi kabar meski jika harus membatalkan.
Beruntung, malam belum begitu larut sehingga masih banyak kendaraan yang berlalu lalang. Meski musim semi sebentar lagi tiba, tapi dinginnya udara di tengah kegelapan sama saja. Kadang menyesakkan untuk hati yang begitu melelahkan.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Haruka tiba di belokan tempat tinggalnya berada. Sayangnya rumah yang ia huni dengan sang nenek berada di ujung jalan, itu berarti ia masih harus berjalan. Melewati satu taman kecil dan rumah sakit.
Awalnya pandangan Haruka tak pernah menoleh selama perjalanan pulang. Menatap ke jalan, atau lurus ke depan. Sifat dinginnya kembali muncul untuk musim yang seharusnya hangat.
Namun entah mengapa, ketika tiba di depan rumah sakit, tiba-tiba ia memelankan langkah. Matanya terpaku pada gedung dengan banyak jendela di sampingnya. Mungkin saja, Haruka terlintas bahwa di sanalah pertama kali ia mengetahui kondisi Sakura. Tentang gadis yang terlahir istimewa, tidak seberuntung dirinya atau teman-teman yang lain.
Tiba-tiba sekelebat perasaan lain muncul dalam hati pria itu. Bagaimana itu tidak terpikirkan olehnya sejauh ini? Bagaimana jika ternyata Sakura sakit? Ia sungguh akan menyesal telah menyalahkannya.
Dengan perasaan yang gusar, Haruka mencoba memasuki halaman rumah sakit. Ia tidak begitu yakin dengan apa yang dilakukan. Namun, entah kenapa hatinya berkata jika ia harus memeriksa. Meski sudah bisa dipastikan ia tidak akan menemukan siapapun di sana.
Sebelum tiba di halaman rumah sakit, Haruka kembali memeriksa ponsel miliknya. Akan tetapi hasilnya tetap sama, tidak ada pesan dari Sakura.
Ia menarik napas dalam. Memeriksa pesan dengan segenggam harapan hanya akan semakin membuatnya kecewa. Mungkin memang sesuatu telah terjadi.
Perlahan langkah Haruka memasuki halaman rumah sakit. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah ini. Menunggu lagi hingga bertemu dengan Sakura? Itu tidak mungkin. Bagaimana jika gadis yang diharapkan tidak ada di sana?
Tiba-tiba Haruka berhenti. Ia membenarkan apa yang dikatakan dalam hati barusan. Kenapa ia mau repot-repot setelah dikecewakan seharian ini? Ia bahkan tak sempat makan hanya untuk menunggu gadis yang tidak ada tanda-tanda akan muncul.
Akhirnya sebelum kaki menapak ke teras rumah sakit, Haruka kembali berubah pikiran. Pria itu terhenti. Tangannya mengepal sementara wajahnya ragu.
"Kenapa aku harus merepotkan diri seperti ini?" gumamnya pelan.
Di saat selanjutnya, Haruka memutuskan untuk membalikkan badan. Pulang adalah salah satu pilihan terbaik malam ini.
Namun beru beberapa langkah ia beranjak, tidak sengaja matanya menangkap sosok yang dikenal tengah duduk di salah satu kursi taman rumah sakit. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang ditutup.
Dari posturnya, Haruka yakin jika wanita di sana adalah seseorang yang ia kenal. Namun kenapa duduk sendiri di antara malam? Lalu tubuh yang bergetar, mungkinkah wanita itu tengah menangis?
Seketika Haruka terhenyak. Ia sempat mendengar isakan seseorang tadi, tapi tidak menyangka jika ada wanita yang benar-benar menangis di sana.
Lalu yang membuatnya semakin membeku ialah, wanita yang ia kenal adalah Hana, ibu dari Sakura.
Kedua mata Haruka membulat ketika menyadari sesuatu. Benar bahwa seharusnya ia tidak boleh menyalahkan Sakura dari awal. Pasti ada alasan di balik gadis itu tidak memberinya kabar. Tiba-tiba perasaan kecewa kini beralih menjadi cemas yang luar biasa.
Akhirnya Haruka memutuskan untuk tidak jadi pulang. Ia berlari menuju wanita yang ditemukan tengah menangis di kursi teman. Berdiri di sampingnya, hingga wanita di sana mengangkat wajah.
Benar saja, tidak butuh waktu lama bagi Hana untuk menyadari kedatangan seseorang di sana.
Perlahan wajah wanita itu terangkat. Matanya sembab dengan wajah basah seluruhnya. Beberapa saat Hana hanya menatap pria seusia putrinya dalam diam, tapi setelah sadar ia kembali menunduk, menangis semakin keras.
Melihatnya, membuat Haruka refleks mendekat. Ia ingin menepuk pelan punggung wanita untuk menenangkan. Namun tidak bisa, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sampai wanita yang menangis sedikit tenang.
Beruntung, tak begitu lama Hana kembali mengangkat wajah. Kalimat yang pertama kali dikatakannya adalah permintaan maaf karena ia justeru menangis lebih keras setelah Haruka datang.
Namun Haruka tentu saja mengerti. "Apakah sesuatu telah terjadi?" tanyanya dengan sangat hati-hati.
Hana mengangguk. Air mata kembali mengalir tak dapat ditahan.
"Sakura ..." ucap wanita itu terhenti. Setelah menarik napas dalam, ia melanjutkan. "Dia tidak sadarkan diri."
Deg! Entah perasaan sedih apalagi yang bisa melampauinya saat ini. Haruka, tiba-tiba matanya juga ikut memanas. Hanya membayangkan bagaimana gadis itu terbaring lemah tanpa kesadaran saja sudah berhasil membuatnya merasakan luka yang sangat dalam. Lalu setelah seharian menyalahkan Sakura, ia lantas dimaki atas itu.
Haruka mematung sesaat. Ia sungguh hampir tidak bisa berkata-kata jika tidak teringat bahwa ada seorang ibu yang lebih terluka atas keadaan anaknya.
Dengan pelan, akhirnya Haruka mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Kemudian berkata, "Apakah saya bisa melihatnya, Tante?"