Kurang dari Dua Bulan

1045 Kata
Haruka berjalan cepat di lorong rumah sakit. Kakinya ingin segera berlari tanpa ampun, tapi sayangnya ia harus memahami etika di sana. Tidak baik mengganggu orang lain yang juga tengah menahan sakit seperti Sakura. Sebuah ruangan di lantai tiga, tempat yang sama dengan posisi ranjang yang tidak berubah. Sakura terbaring dalam hening ditemani oleh monitor yang terus berbunyi. Gadis itu nampak tenang, tapi terlihat sangat kesakitan. Beberapa alat medis menempel di tubuh menjadikannya terlihat semakin merasakan sakit. Apa yang telah terjadi, padahal salju sudah berakhir. Sementara pria yang masih berdiri tegang di luar pintu hanya bisa mengepal tangan dengan keras. Ia ingin menangis, tapi seolah ada yang menahannya dari dalam. Haruka ingin berteriak, masuk ke ruangan dan segera membangunkan gadis di sana. Namun apalagi, rasa sakit melihat Sakura seperti itu sudah berhasil membuat tulang di kakinya hilang. Ia hanya bisa pasrah menatap dari luar. Hingga, bahkan matanya tak bisa tahan melihat Sakura terbaring tak baya. Haruka menyerah, ia tidak bisa melihat gadis yang ia harapkan berada di dalam keheningan yang dalam. Dengan luka besar yang dibawa, pria ini akhirnya pergi meninggalkan ruang perawatan. Langkah gontai menjadi saksi bahwa lubang di dalam hati kembali membesar. Ia sempat berhasil menutup perlahan, tetapi seseorang yang mengisinya kini berada di ruangan yang ia tinggalkan. Perih yang semakin terasa, terlebih ketika ia ingat bahwa apa yang dikatakan Sakura pada awal pertemuan adalah nyata. "Jadi tinggal berapa hari lagi sejak saat itu?" gumam Haruka sembari berjalan menyusuri tangga. Ia tak ingin menggunakan lift, sebab perlahan adalah cara terbaik untuk merenung. Haruka terdiam beberapa saat. Katanya menerawang jauh, sedangkan kepalanya sibuk menghitung sisa angka dari yang sudah mereka habiskan. "55 hari," ujar Haruka melanjutkan. Di detik berikutnya, pria itu menarik napas dalam. Tersenyum dalam luka dengan air yang mulai menggenangi sudut mata. Memikirkan betapa banyak waktu yang telah ia habiskan dengan Sakura cukup menghangatkan perasaan. Namun di saat yang sama, itu berarti waktu yang tersisa hanya kurang dari dua bulan. Apakah ia bodoh hingga tidak menyadari bahwa kontrak di awal hanya selama 365 hari? Lalu sekarang, Haruka menyesal. Ia bahkan sempat memarahi gadis itu dalam hati karena sudah membuatnya menunggu seharian ini. Tak lama setelah menuruni tiga buah tangga, Haruka akhirnya tiba di lantai pertama. Sebuah lobi rumah sakit yang cukup luas, dengan banyak sekali orang menunggu di sana. Sampai tidak sengaja matanya menangkap jantung yang terus berdetak di dinding. Pukul sebelas malam, sudah sangat larut untuknya yang sudah pergi seharian. Namun tiba-tiba Haruka terhenyak. Sesuatu telah kembali ke dalam kepala. Tanpa mengulur waktu lebih lama, Haruka berlari keluar dari lobi. Memandang kiri dan kanan sebelum menyebrang, lalu hampir terjatuh saat turun ke tepi sungai. Setelahnya ia merogoh saku, ada kertas terlipat yang hampir rusak. Ya, perahu kertas yang akan ia hanyutkan hari ini bersama Sakura. Jika gadis itu tidak bisa, Haruka yang akan dengan setia menggantikannya. "Masih ada waktu," ucapnya setelah melihat jam di pergelangan tangan. Setelah membenarkan sedikit kertas yang terlipat salah, Haruka meletakkan perahu kertas di atas permukaan air. Sebelum melepasnya, ia berkata, "Ini adalah permintaan yang selama ini kutulis. Kumohon," ucapnya memohon. Lalu segera menghanyutkan perahu kertas yang membawa segenggam asa darinya. Perahu kertas yang terbawa arus, menandakan bahwa ada seseorang yang sangat bergantung pada harapan. Setidaknya setelah dirinya benar-benar putus asa. Kurang dari dua bulan, bukankah itu waktu yang sangat sebentar? Haruka tak langsung beranjak, ia duduk sebentar menatap langit yang terlihat semakin kelam. Semakin bulan beranjak naik, kenapa justeru dunia terlihat semakin gelap? Tiba-tiba pertanyaan itu yang muncul di kepala Haruka. Musim semi sudah tiba. Sebentar lagi, bunga plum akan mekar sebelum sang tokoh utama datang. Yakni bunga sakura. Haruka hanya berharap, bunga sakura mekar di setiap musim semi. Sebab keduanya harusnya saling berhubungan, seperti dirinya dan Sakura. "Apa yang dia inginkan selama ini?" gumam pria itu terhadap diri sendiri. Benar, selama ini ia tidak tahu apa yang Sakura tulis setelah surat di awal yang tidak sengaja Haruka temukan. Mungkinkah gadis itu mengharapkan kesembuhan? Bukankah itu memang yang seharusnya ia tulis? Namun tidak ada jawaban pasti bahkan jika Haruka menunggunya hingga pagi. Matahari terbit ketika seorang pria belum terbangun dari tidur. Cahaya yang menyelinap di antara celah jendela tidak berhasil membangunkan Haruka yang tidur sangat larut malam tadi. Sepulang dari sungai ia tidak langsung terlelap, mungkin rasa lelah dan bersalah yang tidak sengaja menidurkannya. Melongok saat melewati kamar sang cucu, seorang wanita tua memutuskan untuk masuk sebab melihat Haruka belum juga terbangun. Ini memang masih hari libur, tapi bukan berarti ia bisa bermalas-malasan seperti ini. Tanpa bicara, sang nenek langsung membuka penuh tirai jendela. Benar saja, cahaya yang silau berhasil membuat pria di atas ranjang mengerjap pelan, sebelum akhirnya terbangun. "Silau," pekik Haruka begitu ia duduk. Sedangkan di depannya sudah berdirinya sang nenek yang bersiap menarik selimut. "Oh, kau sudah bangun?" tanya wanita itu. Haruka mendengus. "Pasti Nenek yang melakukannya," ujarnya. Lalu tanpa peduli kembali menarik diri ke dalam selimut. "Aku masih mengantuk," ucap pria itu, berharap agar sang nenek mengerti. Namun sepertinya harapan Haruka tidak terjadi. Sebab di detik berikutnya, wanita di sana kembali menarik selimut yang menutupi Haruka. Menariknya hingga terlepas dari kasur. "Nenek akan mencuci selimut," ujarnya. Lalu saat selimut berhasil dilepas, ia menjauhkan wajah. "Sudah berapa lama selimut ini dipakai?" Pria yang masih mengantuk hanya bisa menjawab seadanya. Lagipula ia juga tidak ingat kapan terakhir berganti selimut. Tanpa berbicara lagi, sang nenek langsung membawa selimut yang sudah beraroma macam-macam untuk segera dicuci. Tentu saja, wanita itu mengomel hingga suaranya hilang ditelan ruangan yang luas. Sedangkan Haruka, ia masih setia duduk di atas kasur. Omelan sang nenek sudah biasa untuknya. Terlebih saat salju sudah berakhir, wanita itu akan kembali enerjik, dan kerap memarahinya. Tidak masalah, sebab marahnya bukan berarti benci. Hingga saat Haruka memikirkan kenapa ia masih sangat mengantuk, pria ini teringat tentang kejadian semalam. Tentang ia yang pulang larut dan tidur tanpa sadar. Seketika terhenyak saat mengingat satu hal. "Sakura!" pekiknya, "ah, iya. Aku harus segera pergi." Kemudian seolah rasa kantuk hilang begitu saja, Haruka segera bangkit dari atas ranjang. Bergegas mencuci muka dan membersihkan gigi sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. "Aku akan patahkan kakimu jika pergi tanpa sarapan!" Namun ada penghalang di tengah ketergesaan Haruka. Ialah sang nenek yang melihat cucunya pergi tanpa berniat datang ke ruang makan. Dengan mendengus kesal, mau tidak mau Haruka berhenti. Ia akan makan meski dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN