"Pergilah," lirih Haruka seraya melepaskan perahu kertas berwarna merah muda. Sengaja memilih warna itu karena teringat dengan Sakura. Jika gadis itu tidak bisa bersama, setidaknya warnanya bisa ikut serta.
Seperti biasa, pria itu tak langsung beranjak. Menatap perahu yang melenggang pergi dengan sebuah harapan yang telah dituliskan. Entah apa yang terjadi, tapi Haruka benar-benar berharap pada hal ini sekarang.
Hingga tiba-tiba, sepasang kaki berhenti di belakang Haruka.
Menyadari hal itu, pria yang masih terduduk tiba-tiba terhenyak. Ada orang lain di sana. Jika bukan Sakura siapa lagi, sebab hanya mereka yang biasa datang ke tempat ini.
Dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan, perlahan Haruka menoleh. Ia berharap bahwa sosok di belakang adalah gadis yang selama ini dipikirkan, Sakura.
"Saku--"
Namun setelah melihat jelas siapa yang datang, satu kata yang belum sempurna terucap kembali ditelan. Seseorang yang datang adalah gadis seumurannya, tapi bukan Sakura.
Melihat Haruka terkejut, gadis yang baru datang tersenyum. "Hai," sapanya sedikit canggung.
Meski masih merasa terkejut, Haruka tetap mengangguk dan memaksa senyum. Bagaimana gadis itu bisa ada di sini? Batinnya bertanya-tanya.
Tanpa disuruh, gadis itu segera mengambil posisi duduk di samping Haruka. Ia menarik udara dalam, merasakan dan setelahnya tersenyum.
"Wah. Ternyata kamu masih percaya perahu kertas?" ucap gadis itu tanpa ditanya, "kamu seperti anak-anak,z lanjutnya.
Sementara Haruka masih terdiam. Ia tidak butuh kalimat apapun jika itu tidak penting. Termasuk penghinaan sekalipun.
Namun bukan itu maksud gadis yang mengatakannya. Sebab setelahnya ia berkata, "Aku dulu juga pernah melakukannya selama satu tahun penuh tanpa jeda."
Haruka masih terdiam, menyimak apapun yang akan dikatakan oleh gadis yang kini mulai bermain dengan air.
Tak lama gadis itu melanjutkan, "Tapi sampai sekarang harapanku tidak pernah terjadi. Aku jadi kecewa dan berhenti melakukannya," jelasnya.
Akan tetapi lagi-lagi kalimat basa-basi itu tidak mendapatkan tanggapan dari Haruka. Setelah beberapa detik, gadis itu menoleh dan tersenyum. "Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa ada di sini, kan?" tanyanya pada pria di sebelah.
Haruka kembali menoleh. "Ya. Bagaimana kamu bisa berada di sini, Nami?" tanyanya.
Benar, gadis yang barusan datang adalah teman sekelasnya dan sekalian teman dekat Sakura, Nami.
Gadis itu tersenyum. Sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari pria di sebelahnya. "Sebenarnya, hanya kebetulan," ucapnya seraya menatap Haruka.
Namun Haruka yang merasa itu bukanlah sebatas kebetulan tidak langsung percaya. Ia terdiam, bergeming membiarkan Nami mengatakan hal yang lain. Sebab ada sesuatu yang belum gadis itu sampaikan.
Benar saja, ketika melihat Haruka yang hanya diam menatap, Nami segera sadar jika temannya menyadari sesuatu. Setelah beberapa saat, ia menarik napas dalam lalu membuangnya pelan.
Wajah Nami menunduk sekilas, sebelum akhirnya kembali terangkat dan berkata. "Aku tidak sengaja bertemu Kak Takei semalam. Dan dia bilang jika Sakura berada di rumah sakit saat ini," jelasnya.
Mendengar itu, Haruka mencoba menahan keterkejutan. Ia berusaha berpura-pura jika belum tahu semuanya. Jika hanya itu sebatas yang Nami tahu, bukankah lebih baik jika ia juga terlihat seperti itu?
Tak lama Nami melanjutkan, "Lalu aku tanya kenapa, dan Kak Takei menceritakan semuanya." Kalimatnya terhenti. Di detik berikutnya ia menoleh, menatap Haruka dan kembali berkata, "Semuanya. Jika Sakura merasakan sakit pada jantungnya semenjak ia lahir."
Haruka terhenyak. Matanya sedikit membulat meski ia masih bisa sedikit menutupi rasa terkejut.
"Apa kamu sudah tahu, Haruka?" Nami kembali bertanya.
Beberapa saat Haruka terdiam. Haruskah ia menyimpannya atau mengatakan hal yang sebenarnya? Namun, sepertinya Nami hampir mengetahui semuanya.
Dengan pelan Haruka mengangguk. Tetapi setelahnya justeru terdengar helaan kasar dari bibir Nami. "Ah, ternyata memang aku yang tidak tahu apa-apa di sini," ujar gadis itu.
Keduanya terdiam. Haruka tidak terbiasa berbincang dengan orang selain Sakura. Meskipun itu Nami yang lebih kerap ia temui daripada yang lain. Sedangkan Nami, gadis itu juga bingung bagaimana cara mengatakan pada pria di sampingnya. Berkata bahwa sebenarnya ia tahu tentang sisa waktu yang tinggal sebentar.
Namun belum sempat gadis di sana kembali memulai bicara, Haruka sudah lebih dulu membuka suara. Pria itu menoleh, memastikan Nami menatapnya sebelum akhirnya berkata.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Haruka.
Nami menggeleng pelan. "Entahlah. Aku hanya ingin lebih lama berbincang dengan Sakura," ucapnya, "apa aku boleh bergabung dengan kalian?"
Dahi Haruka mengerut. "Bukankah kamu sudah tidak percaya dengan perahu kertas?" tanyanya, memastikan kalimat Nami.
Kini giliran Nami yang mengerutkan kening. "Siapa yang bilang? Aku hanya berhenti melakukannya, bukan berarti aku tidak mau melakukannya lagi," ujarnya.
Kemudian Nami melanjutkan, "Lagipula, bukankah ini keinginan Sakura? Aku ingin ikut melakukannya," lanjutnya.
Haruka terdiam, ia memikirkan bagaimana sebaiknya jawaban yang diberikan. Membolehkan atau melarang.
Namun setelah berpikir sebentar, akhirnya pria itu mengangguk. "Tapi bisakah kamu merahasiakannya dari Sakura?" tanyanya.
Alis Nami menyatu, ia bingung. Sadar dengan hal itu, Haruka segera melanjutkan, "Maksudku, rahasiakan jika kamu tahu kondisi sebenarnya dari Sakura. Sebab itu akan membuatnya sedih."
Tanpa dipaksa, Nami segera mengangguk. Akhirnya dua teman itu menjalin kesepakatan.
Setelah siang beranjak, Nami dan Haruka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Terkait alasan Nami ikut serta, tentu mereka sudah memikirkannya. Bertemu di depan rumah sakit secara tidak sengaja.
Beruntung, sepertinya Sakura sadar semalam dan kini kondisinya sudah stabil. Meski gadis itu masih harus dirawat di rumah sakit beberapa waktu.
"Nami?" pekik Sakura saat melihat orang lain bersama Haruka. Awalnya ia terkejut, tapi cukup senang setelahnya.
Nami mendekat dengan wajah panik yang dia buat seperti biasa. "Sakura, apa yang terjadi?" tanyanya seolah tidak tahu.
Sakura tersenyum. "Bukan hal yang perlu dikhawatirkan," ujar gadis itu, "hanya demam cukup tinggi," lanjutnya.
Mendengarnya, Nami langsung percaya. Ia menyampaikan keprihatinan, mempercayai apapun yang dikatakan Sakura. Ia akan berpura-pura seolah tidak mengetahuinya.
Untuk mengalihkan perhatian, mata Nami beralih pada perahu kertas yang berada di atas nakas. Diambilnya benda yang tidak asing itu.
"Kamu ingin menghanyutkannya?" tanya Nami pada Sakura. Sedangkan gadis yang ditanya hanya mengangguk.
"Aku juga dulu pernah melakukannya. Tapi berhenti sebab harapanku hingga sekarang tidak pernah terjadi," ungkap Nami dengan sedikit kesal.
Mendengarnya membuat Sakura tertawa. "Memang apa yang kamu tulis saat itu?"
Nami menoleh. "Aku memohon untuk dijodohkan dengan Kim Seokjin. Dan aku melakukannya selama satu tahun penuh tanpa jeda. Namun itu tidak terjadi sampai sekarang," jelasnya dengan polos.
Tawa Sakura langsung menggelegar begitu mendengar alasan dari Nami. Ia menggeleng, tidak percaya dengan harapan yang temannya tulis.
Sakura hampir menangis jika tidak segera menghentikan tawanya.
"Ya! Tapi itu harapan saat aku berusia tiga belas tahun. Bukankah wajar?" protes Nami saat Sakura tidak berhenti menertawakannya.
Setelah selesai tertawa, Sakura tersenyum, menatap Nami dengan lekat dan mengangguk. "Tentu itu wajar, Nami. Aku bahkan pernah menulis sesuatu yang lebih tidak masuk akal. Hal yang tidak akan pernah terjadi."