Penerimaan

1042 Kata
Seorang gadis duduk termenung menatap jendela. Ranjang dengan kain putih seolah menjadi teman berbincang beberapa waktu terakhir. Juga dengan dinding dingin yang menatapnya iba, agaknya salju di luar tak lagi turun karena perasaan yang sama terhadap gadis itu. Sakura, kelopak matanya masih berembun, kedua pipi juga belum sepenuhnya kering. Kabar samar yang ia dengar berhasil membuat air di dalam sana keluar. Bukan tentang dirinya yang tidak memiliki waktu lebih dari satu tahun, tetapi suara tangis dari wanita di ruang dokter tadi lebih mengiris hati. Ya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sang ibu mendapat kabar seperti ini. Setelah ditinggal oleh suami dan anak pertamanya, lalu apa lagi sekarang? Terkadang Sakura sangat menyesal, kenapa bukan ia yang pergi bersama sang ayah lima tahun lalu. Oh, tentu saja karena pria itu tidak menginginkan anak berpenyakit sepertinya. Menyedihkan saat gadis itu melihat pertengkaran orangtua yang berakhir dengan pembagian dua anak. Ia beruntung sekaligus menyesal karena sang ibu membelanya secara mati-matian. Jika tidak ada pengobatan, mungkin tidak ada yang perlu direpotkan lagi akan penyakitnya. Sakura termenung. Ibunya belum tahu jika ia sudah mendengar semuanya. Menutupinya selama ini hanya bisa menunda, bagaimanapun semua akan terbongkar. "Ah, aku beruntung masih hidup sampai sekarang," gumam gadis dengan tatapan yang belum beralih. Ia tidak ingin menyesal, bahkan jika seumur hidupnya harus berteman dengan berbagai macam jenis obat dan operasi. Itu bukan hal yang mudah, justeru sangat menyakitkan. Namun melihat betapa Hana mengupayakan hidup Sakura, ia harus terus berjuang. Demi sang ibu, bukan hanya dirinya. Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekati ruangan. Sadar ada yang datang, Sakura segera menyeka sisa air di mata. Ditariknya napas dalam dan berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia harus terlihat tegar, terutama di hadapan sang ibu yang tengah rapuh. Pintu terbuka, dan Sakura sudah tampil dengan senyum ringan seraya menatap seseorang yang datang. "Apa kau lapar?" Tanya Hana begitu masuk dengan kantong makanan di tangan. Sakura melihat wajah wanita di sana, ada ketegaran yang dipaksa di balik segurat lelah yang tidak terkira. Namun sebagaimana sang ibu mencoba tegar, ia juga harus berusaha keras melakukannya. Dengan senyum yang masih sama, Sakura mengangguk. "Apa Mama lama karena membelikanku makanan?" tanyanya pura-pura tidak tahu. Hana mengiyakan. "Ya. Mama membelikan makanan kesukaanmu." Setelahnya memberikan paper bag dengan aroma kue beras yang menyeruak. Sakura menatap binar pemberian sang ibu. "Wah. Es krim kue beras. Apa aku sudah boleh memakannya sekarang?" tanyanya senang. Sebab selama ini ia akan diwanti-wanti untuk tidak memakannya. Namun tidak seperti biasanya, kali ini sang ibu langsung mengiyakan. "Kau boleh memakannya. Bahkan untuk apapun yang ingin kamu makan, mama akan membelikannya, Sakura," ujar Hana. Mendengar hal itu, Sakura girang pada awalnya. Akan tetapi, tiba-tiba perasaan sedih kembali menerpa. Mungkin ini upaya terakhir sang ibu untuk menyenangkannya. Gadis dengan kue beras di tangan terdiam. Ia tidak bisa lebih lama menyimpannya. Menyedihkan melihat sang ibu berjuang sendiri dengan perih yang ditutupi. Ia ingin mendapatkan bagian dari kesedihan itu. "Ma," ucap Sakura pelan. Setelah wanita di depannya menatap akan mendengar, gadis itu melanjutkan, "Apa benar sisa waktu yang kumiliki tidak lebih dari satu tahun?" Ia menunduk setelah kata pertama terucap. Tidak kuasa menatap mata wanita yang sangat mencintainya. Hana yang mendengar terpaku sesaat. Bagaimanapun, ia tidak ingin jika Sakura mengetahui dalam waktu dekat. Wanita itu khawatir jika semangat putrinya akan padam. Masih ingin menutupi kebenaran, Hana tersenyum, mengelus pipi anaknya pelan. "Itu tidak benar, Sayang," ucapnya, terdengar menyedihkan sebab ada perih yang tertahan. Namun Sakura yang sudah tahu tak bisa dihibur dengan cara demikian, hal itu justeru akan membuatnya semakin terluka jika melihat sang ibu terus menanggung beban seorang diri. Digenggamnya tangan wanita itu pelan. Sakura tersenyum. "Apa itu sebabnya Mama membolehkanku makan apapun yang aku mau?" tanyanya masih tenang. Beberapa saat tidak ada tanggapan dari Hana kecuali mata yang mulai basah. Sesak di d**a benar-benar membuatnya tersiksa. "Mama tidak perlu menyembunyikannya lagi padaku. Aku akan lebih senang jika kita saling terbuka untuk waktu yang sebentar," ujar Sakura melanjutkan. Akan tetapi, kalimat barusan berhasil membuat air mata Hana tak bisa lagi dibendung. Perlahan mengalir, meski masih sangat kentara jika ia menahannya. "Jangan menangis, Ma. Aku merasa baik-baik saja dengan hal ini. Terima kasih karena Mama sudah berjuang melebihi diriku sendiri selama ini." Seketika, sebuah pelukan menghambur ke tubuh gadis berusia enam belas tahun. Hana menangis, tubuhnya bergetar dalam rengkuhan. "Maafkan mama, Sakura," ucapnya di antara air mata. Sakura yang merasa lega, sekaligus sedih pun tidak bisa menyembunyikan perasaan. Air mata luruh, meski sabit melengkung di wajah. Gadis itu mencoba tersenyum, tapi dengan perasaan yang tercampur aduk. "Maafkan, Mama. Mama tidak ingin kamu pergi," ujar Hana lagi. Namun gadis yang sudah berusaha menerima hanya bisa menepuk punggung ibunya pelan. Dadanya juga terasa sesak sebab air mata yang menyeruak. Ia tahu bagaimana sakitnya perasaan wanita di depannya. Daripada luka yang Sakura rasakan, sepertinya lebih besar lubang yang tercipta atas sebuah kehilangan. "Mama tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salah Mama." Sakura mencoba menenangkan. Beberapa saat hanya tangis dan air mata yang menjadi jeda. Keduanya saling merengkuh, menguatkan dalam ketidakberdayaan. Hingga setelah cukup tenang, Hana melepaskan pelukan. Ia menatap sang anak dengan air mata yang masih terus mengalir. Semakin ia melihat, semakin besar rasa takut kehilangan Sakura. Satu tahun bukan waktu yang lama untuk menghabisi waktu bersama. "Kurasa satu tahun adalah waktu yang cukup." Namun Sakura justeru mengatakan hal seperti itu dengan senyum gigi yang tampil. Entah ia berusaha menghibur, atau malah menghindari kenyataan. "Apa kau berpikir begitu?" tanya Hana. Sakura mengangguk mantap. "Ya. Aku bisa bersenang-senang dalam waktu yang tidak sebentar." Mendengar itu air di mata Hana mengalir semakin deras. Ia tidak bisa melihat rasa optimis, bahkan dari mulut anaknya sendiri. Wanita ini tahu, bahwa yang Sakura katakan hanya sebatas kalimat penghibur, ia sangat yakin jauh di dalam hati gadis itu ada lubang luka yang sangat besar. Namun, jika memang benar putrinya berpikir demikian, ia hanya bisa mengiyakan. Masih menangis, Hana mengangguk. "Kau anak yang hebat," ucapnya seraya mengelus rambut Sakura. * Dua hari setelah keluar dari rumah sakit. "Kau sungguh sudah bisa sekolah?" tanya Hana ketika melihat putrinya mengikat tali sepatu. Dengan penuh semangat, Sakura mengangguk. "Tentu. Aku sudah tidak sabar bertemu teman-teman." "Ingat. Meski begitu, kamu harus tetap memperhatikan kondisimu." Lagi-lagi, peringatan sang ibu langsung dibalas dengan pengiyaan. "Aku akan ingat. Mama tenang saja, aku tidak akan membiarkan waktu berjalan sia-sia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN