"Mama," pekik Sakura ketika Hana berdiri di ambang pintu. "Kenapa Mama kembali?" lanjutnya, memastikan.
Hana yang merasa tertinggal sesuatu segera menuju sudut ruangan. Diambilnya dua buah jaket kotor. "Mama meninggalkan ini. Bukankah jaket-jaketmu harus dicuci?" ucap wanita itu seraya tersenyum.
Mengiyakan perkataan sang ibu, Sakura hanya mengangguk.
Usai mengemasi jaket, Hana kembali menoleh. "Apa kau bersama seseorang tadi?" Ia memastikan.
Sakura yang tengah menyembunyikan sesuatu tak bisa menutupi raut terkejut. Kedua mata gadis itu membola. "Eh?"
Namun sepertinya sang ibu hanya menduga. Belum sempat Sakura menjawab, Hana sudah lebih dulu menyela, "Mama seperti mendengar kamu berbincang tadi. Atau mama salah dengar?"
Gadis di atas ranjang meringis. Ia lega sebab ternyata sang ibu belum tahu, tapi di saat yang sama Sakura bingung memikirkan alasan. Salah dengar, sepertinya kurang masuk akal. Hingga akhirnya memutuskan untuk berkata, "Ah, aku tadi bermonolog, Ma," ungkapnya.
Dengan tawa kecil yang dibuat-buat, gadis itu melanjutkan, "Aku berbicara sendiri. Mama tahu, aku sangat bosan berada di sini."
Mendengar itu Hana langsung percaya. Ia justeru memasang wajah bersalah mendengar perkataan sang anak.
Hana mendekat, mendekap kepala putrinya seraya mengelus rambut gadis itu. "Maafkan mama, sayang. Semoga besok kamu sudah bisa pulang dan kita akan jalan-jalan," ucapnya lembut.
Dalam dekapan sang ibu, Sakura mengangguk. "Mama akan mengajakku jalan-jalan?" Ia merasa sangat senang.
"Ya. Tapi ingat untuk tetap menggunakan pakaian tebalmu," lanjut Hana.
Sakura tersenyum diam. Kalimat ibunya barusan cukup membuatnya gembira. Jalan-jalan di musim dingin adalah hal yang hampir mustahil untuknya. Namun sekarang, entah kenapa sudah diperbolehkan, bahkan diajak. Mungkinkah dokter mengatakan kondisinya telah membaik?
"Atau perlu mama temani kamu malam ini?" Hana melepaskan dekapan, menatap sang anak.
Seketika Sakura kembali sadar. Ia segera menolak. "Tidak perlu, Ma. Aku berani sendiri. Lagipula banyak yang perlu Mama kerjakan di rumah," ujar gadis itu.
Hana tersenyum sembari kembali mengelus puncak kepala Sakura. "Kalau begitu, mama akan kembali besok pagi-pagi sekali. Telefon mama kalau ada sesuatu."
Setelah memastikan putrinya setuju, Hana berlalu keluar. Entah hanya perasaan Sakura saja, atau memang wanita itu cukup tergesa-gesa. Akan tetapi itu lebih baik untuk saat ini. Sebab di bawah ranjang ada seseorang yang hampir membeku karena degup jantung terlalu kencang.
"Haruka!" panggil Sakura dengan berbisik, "keluarlah. Mama sudah tidak ada."
Perlahan sebuah kepala keluar dari kegelapan. Haruka muncul dengan lega setelah bersembunyi panik di bawah ranjang. Helaan napas panjang tidak bisa ia sembunyikan.
"Mama sudah pulang," ujar Sakura melanjutkan. Begitu Haruka benar-benar keluar dan berdiri, ia menyambung kalimat, "Kenapa kamu tidak mau bertemu dengan mamaku?"
Haruka tak langsung menjawab. Ia memang memiliki alasan tersendiri, tetapi mengatakannya pada Sakura sepertinya tidak akan pernah terjadi. Bahkan jika luka sepuluh tahun lalu semakin membesar.
Tengkuk yang tak gatal digaruk. "Ah, itu ... aku hanya tidak enak tiba-tiba berada di sini," ucapnya mencoba memberikan alasan yang bisa diterima. "Bukankah ibumu bisa salah paham?" Haruka melanjutkan.
Mendengarnya Sakura manggut-manggut. "Begitu. Tapi bukannya bersembunyi seperti tadi lebih mencurigakan?" Ia menoleh, lalu tertawa melihat wajah pria di depannya yang nampak merah. Sebenarnya ia tidak terlalu ingin tahu alasan Haruka bersembunyi tadi. Lagipula, wajar bagi pria itu untuk takut setelah apa yang terjadi.
"Aku harus pulang."
Tanpa menunggu jawaban dari Sakura, Haruka melenggang begitu saja meninggalkan ruangan beserta gadis di dalamnya.
Sementara Sakura, ia hanya bisa tersenyum seraya menatap punggung Haruka yang menjauh dengan cepat.
Senyuman dengan banyak arti yang tidak bisa diartikan.
Pagi datang setelah bulan berjaga semalaman.
"Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu malam ini?" Hana, belum juga matahari tampil sempurna ia sudah lebih dulu datang menyapa Sakura.
Gadis yang barusan terbangun karena suara pintu dibuka mengangguk sembari mengucek mata. "Tidurku nyenyak. Kenapa Mama datang pagi-pagi sekali?" tanyanya, tak lupa menguap layaknya orang baru bangun tidur.
Hana tersenyum. "Mama rindu denganmu," ucapnya dengan tangan mencubit ujung hidung sang anak.
Merasa geli, Sakura segera menepis tangan sang ibu, lalu memajukan bibir tanda ia tidak setuju diperlakukan seperti itu. Namun terlepas dari apapun, ia benar-benar menyayangi wanita yang selalu ada untuknya.
Tak ada perbincangan setelahnya. Hana yang sibuk dengan mengeluarkan bekal dari tas, dan Sakura yang masih asyik menatap ke luar.
"Apa salju sudah tidak turun?" tanya Sakura, menoleh pada wanita di sampingnya.
Hana terdiam sejenak, ia turut menatap luar. "Sepertinya sudah berhenti dari dini hari tadi," jawabnya, "apa kau senang akhirnya udara tidak sedingin biasanya?"
Sakura terdiam. Apakah ia senang? Mungkin, iya. Bagaimanapun ia cukup menderita karena salju-salju itu. Namun, entah kenapa ada perasaan sedih yang menjalar. Entah apa Sakura pun tidak paham.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Sakura mengangguk. "Ya. Aku sudah tidak sabar pergi sekolah."
Harusnya perkataan Sakura terdengar menyenangkan. Akan tetapi, kenapa ada embun yang menyamarkan penglihatan Hana?
"Mama menangis?" Sakura panik. Apakah ada yang salah dengan perkataannya barusan?
Namun Hana segera menyangkal. "Tidak, Sayang. Mata mama perih, sepertinya ada debu yang masuk tadi," kilahnya seraya tersenyum, mencoba menyembunyikan perasaan.
"Mama akan ke kamar mandi sebentar," lanjut Hana setelah selesai meletakkan barang-barang.
Sementara Sakura, ia masih di ambang percaya dan tidak. Ibunya bilang malam ini ia boleh pulang. Apakah benar wanita itu menangis karena senang? Atau ada hal lain yang disembunyikan?
Beberapa saat berlalu dan Hana belum juga kembali. Air di perut sudah tidak bisa ditahan, Sakura ingin segera berkemih tapi sang ibu belum kunjung datang. Daripada menahan lebih lama, ia memutuskan untuk pergi ke toilet seorang diri. Kondisinya memang sudah membaik, itu sebabnya ia juga heran kenapa belum diperbolehkan pulang.
Pelan Sakura menuju kamar mandi dalam ruangan. Namun begitu sampai ia baru ingat jika air di sana mati dari semalam. Katanya akan diperbaiki, mungkin nanti saat jam kerja. Dengan sedikit pertimbangan, ia memutuskan untuk ke toilet luar.
Di lorong menuju kamar mandi, ia melewati ruang dokter, dan secara tidak sengaja Sakura mendapati Hana tengah berada di dalam. Yang lebih mengejutkannya adalah, wanita itu menangis sesenggukan.
Penasaran, Sakura mencoba menguping. Ia menempelkan telinga pada celah pintu yang sedikit terbuka. Sebenarnya ia ingin masuk, tapi sepertinya sang ibu sejauh ini ingin merahasiakan sesuatu yang tengah dibicarakan.
Hingga setelah beberapa saat, telinga Sakura menangkap sayup pertanyaan dari wanita di dalam. Kalimat yang berhasil membuat kedua matanya membulat.
"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya, Dok? Satu tahun waktu yang sangat singkat." Jelas terdengar di antara tangis.
"Maaf, Bu. Kami selalu berusaha yang terbaik untuk Sakura. Namun melakukan operasi lagi akan sangat mengancam nyawa anak tersebut."
Deg! Lutut gadis di depan pintu terasa lemas. Jika yang terjadi seperti ini, wajar jika sang ibu menangis semalaman hingga matanya lebam.