Himawari

1057 Kata
Pelan dengan tangan sedikit gemetar, Haruka memutuskan untuk menarik pintu setelah menghirup udara cukup banyak. Kekhawatiran dan sejumput rasa bersalah mewarnai dirinya malam ini. Hingga saat ia yakin pintu berhasil terbuka sempurna, lidahnya tiba-tiba menjadi kelu, seolah ada tulang besar yang membuatnya kaku. Haruka kehilangan sapaan, bahkan satu kata tak ia berikan kecuali tundukan kepala yang dalam. Pria itu yakin jika gadis di depan sana saat ini begitu terkejut dengan kedatangannya. Beberapa saat hanya diisikan keheningan. Angin yang semula terdengar samar kini menjadi sangat jelas. Terlebih monitor medis di samping ranjang yang terus bermain nada semakin membuat suasana seli di ruangan. Hingga setelah menata perasaan yang tak bisa dijelaskan, akhirnya Haruka memutuskan untuk mengangkat kepala. Menyapa terlebih dulu lalu menanyakan kabar, bukankah itu yang harus dilakukan? Namun begitu pandangannya tertuju pada gadis di atas ranjang, kedua mata menangkap sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Sakura, gadis itu terlihat jelas tersenyum lebar di depan sana. Haruka pikir Sakura akan terkejut, lalu melempar barang-barang seperti ketika kedatangan orang yang mencurigakan. Akan tetapi lihatlah, bahkan seperti tidak ada keterkejutan sama sekali di wajah gadis itu. "Kau menemukanku!" Dan itulah dua kata pertama Sakura yang semakin membuat Haruka bingung. Pria di ambang pintu masih termenung, mematung di tempat yang sama. Namun lihatlah, gadis yang seharusnya lebih membeku justeru terlihat sangat tenang, seperti ia sudah menduga kedatangan seseorang. "Sampai kapan kau akan tetap bersih di sana, Haruka?" tanya Sakura setelah beberapa saat pernyataannya tidak mendapat tanggapan. "Sakura?" Sedangkan Haruka, pria itu seketika merasa gugup. Ia tidak seharusnya hanya diam. Setelah sedikit sadar, tiba-tiba tengkuknya terasa gatal. "A-ah. Kau benar, aku seharusnya masuk," ucapnya dengan gugup. Melihat temannya merasa canggung, Sakura hanya bisa tersenyum sembari menatap Haruka yang mendekat. Sebenarnya ia cukup terkejut, tapi di saat yang sama merasa terharu dengan kedatangan pria itu. Entah bagaimana Haruka menemukannya, itu masalah nanti. "Apa kau mencariku sampai ke sini?" ujar Sakura begitu jarak Haruka hanya beberapa langkah. Tentu ia mengatakan dengan nada bercanda, tidak ada keseriusan di dalamnya. Pandangan Haruka dibuang ke sembarang arah. Pertanyaan Sakura ada benarnya, tapi juga salah. Mengiyakan bukan pilihan untuknya yang terlanjur jual mahal. Akan tetapi belum sempat Haruka menjawab, Sakura sudah lebih dulu melanjutkan, "Apa jangan-jangan kau disuruh teman-teman sekolah untuk datang?" Kali ini, keceriaan sedikit memudar dari pertanyaan gadis itu. Ada kekhawatiran di sana. Haruka yang sedikit perasa langsung menggeleng. "Tidak," ucapnya tegas, "sepertinya teman-teman belum tahu kondisimu saat ini," lanjut pria itu. Setelah mendengar itu, seulas senyum kembali nampak dari wajah imut Sakura. "Syukurlah kalau begitu," lirihnya, "menyedihkan rasanya jika orang lain tahu keadaanku." Mendengarnya berhasil membuat Haruka membesarkan mata. "A-apa kau sakit parah?" Ia mencoba memastikan. Sakura terdiam sebentar. Ia juga tidak tahu betapa parahnya penyakit yang diderita. Menghadapinya sedari kecil membuat semuanya terasa biasa saja. Tetapi setelahnya ia menoleh, tersenyum pada Haruka. "Tidak. Aku baik-baik saja. Untuk itu, tolong jangan beritahu siapapun kalau aku ada di sini, ya?" ucapnya sedikit memohon. Haruka yang belum mengerti tak langsung menanggapi. Ia masih terdiam, mencoba mencerna baik-baik kebohongan Sakura. Jika tidak parah, kenapa bisa sampai dirawat bahkan berhari-hari? "Kau bisa menjaga rahasia ini, kan?" tanya Sakura setelah tidak ada tanggapan dari pria di depannya. "Sebenarnya aku cukup merasa malu saat kamu menemui ku dalam keadaan seperti ini. Bukankah aku terlihat sangat menyedihkan?" Dengan cepat Haruka menggeleng. "Tidak sama sekali. Bukankah wajar bagi seseorang untuk sakit? Lagipula, katamu tidak parah, kenapa terlihat menyedihkan?" ujar pria itu, mencoba menghibur dan meyakinkan diri. Mendengar itu sontak membuat Sakura tertawa kecil. Sembari mengangguk ia berkata, "Ah, kau benar. Bukankah aku terlihat sangat baik?" tanyanya, setelah Haruka mengangguk, ia meneruskan, "hanya saja ... pokoknya kamu tidak boleh memberitahukan kepada siapapun, oke?" "Pada Nami sekalipun?" Sakura mengangguk. "Pada siapapun. Bahkan jika itu Nami." Haruka membuang napas panjang. Mau tidak mau akhirnya mengiyakan. Lagipula yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah jika Sakura memiliki alasan tersendiri melakukan hal tersebut. Ia tidak boleh mencari tahu apa yang tidak ingin dikatakan oleh gadis itu. "Haruka. Boleh minta tolong ambilkan minum?" Sakura menunjuk gelas di atas nakas. Tanpa pikir panjang segera diiyakan. Satu gelas yang masih penuh diserahkan pada Sakura. Namun ada sesuatu yang masih mengganggu pikiran Haruka. Dengan pertimbangan sebentar, akhirnya ia bertanya, "Sakura. Apa penyakitmu datang hanya saat musim dingin?" tanyanya yang tiba-tiba terlintas memori musim dingin sepuluh tahun lalu. Beberapa detik Sakura diam, ia nampak berpikir meski tak lama mengangguk mengiyakan. "Sepertinya memang begitu," ucapnya tanpa ragu. Haruka mengangguk. "Apa itu semacam penyakit alergi musim dingin?" Lagi-lagi Sakura mengiyakan. "Hampir mirip seperti itu. Hanya saja kondisiku cukup mengkhawatirkan jika alergi itu sedang kambuh," ujar gadis itu menjelaskan. Merasa sedikit percaya, Haruka tak lagi bertanya. Mungkin memang penyakit Sakura hampir mirip dengan sang nenek yang kerap kambuh di musim dingin. Sepertinya itu wajar, meski kondisi gadis di atas ranjang terlihat lebih mengkhawatirkan dari kelihatannya. "Lalu sekarang bagaimana keadaanmu?" tanya Haruka, harusnya pertanyaan itu yang pertama kali ia lontarkan. "Seperti yang kau lihat. Aku sangat baik. Apalagi sekarang setelah kau datang," balas Sakura dengan senyum yang tidak terlewat. "Syukurlah. Nami sangat mengkhawatirkanmu," lanjut Haruka. Menanggapi perkataan barusan, Sakura hanya terdiam dengan raut wajah berubah sedih. Namun meski begitu, ia tetap tidak ingin Nami tahu keadaan sebenarnya. Sejenak keheningan kembali menyelinap. Hingga Haruka kembali menyambung kalimat. "Ngomong-ngomong, apa ibumu tidak menemanimu?" Ya, ia cukup penasaran. Sebenarnya yang lebih Haruka pikirkan adalah kapan wanita itu kembali, dan ia akan menghindar. "Ibuku?" Sakura berpikir sebentar, tetapi belum terjawab tiba-tiba terdengar suara kaki mendekat cepat. Langkah di luar terdengar semakin dekat. "Oh, mungkinkah ibuku sudah kembali?" tanya Sakura, ia juga sama penasarannya. Berbeda dengan gadis yang hanya penasaran, Haruka justeru sangat panik hingga berusaha menemukan jalan keluar. "Itu ibumu?" tanya pria itu gugup. Sakura yang tak yakin hanya mengangguk pelan. "Mungkin saja." "Gawat! Aku harus segera keluar!" Haruka beralih pada jendela. Menatap ke luar dari lantai tiga. "Apa aku bisa keluar melompat dari sini?" Namun Sakura tidak akan mengerti tanpa dijelaskan. "Ada apa denganmu? Kau bisa keluar lewat pintu, Haruka," ucapnya. Haruka tak mendengarkan. Kembali melalui pintu bukanlah pilihan yang baik. Ia takut akan mendapat perlakuan seperti dulu, dan itu sangat menyakitkan bahkan hingga sekarang. "Tidak. Seperti aku harus lompat." "Kau gila?" pekik Sakura, "setelah ini kamu mungkin akan bertukar tempat denganku." Haruka sadar. "Kau benar." "Sebenarnya ada apa, Haruka?" Akan tetapi belum sempat Haruka menjawab, pintu sudah lebih dulu dibuka dari luar. Seketika, jantung pria itu serasa mencelos dari tempatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN