"Sakura?" Kedua bola mata Haruka membulat. Melihat gadis dengan kursi roda dengan infus yang terpasang di tangan kanan. Sakura, bagaimana bisa dia berada di sana?
Belum ingin langsung percaya dengan apa yang ia lihat, Haruka memutuskan untuk menghampiri gadis yang masih menatap ke luar jendela. Pria itu yakin tidak salah lihat, tapi bersamaan dengan itu ia berharap apa yang diduganya adalah salah.
Setelah menerima obat pesanan neneknya, Haruka segera melangkahkan kaki, memastikan gadis di tepi jendela adalah seseorang yang dia kenal.
"Sakura!"
Namun baru setengah jalan Haruka melangkah, suara seorang wanita sudah lebih dulu memanggil Sakura. Wanita yang pernah ia temui sepuluh tahun lalu. Ibu dari gadis di depan sana.
Langkah Haruka berhenti selaras dengan tubuh yang langsung membeku. Wajah wanita paruh baya yang ia lihat sekilas seketika membawanya pada musim dingin sepuluh tahun silam. Saat semua berubah menjadi penyesalan. Lalu hari ini, ia melihat wajah yang belum banyak berubah, dengan kondisi Sakura yang sepertinya tidak baik.
Lidah yang semula hendak digunakan untuk menyapa dan bertanya pada Sakura, kini terasa kaku bagai ranting bertulang, benar-benar tidak bisa digunakan. Haruka mematung di tempat. Tubuh tenangnya mulai gemetar. Ia takut, cemas, seperti anak lima tahun lalu dengan kepolosan dan ketidaktahuan saat melihat temannya collapse dan dibawa pergi oleh mobil berwarna putih.
Haruka masih terdiam, tangan yang menggenggam kantong obat mulai berkeringat. Ia sangat ingin menanyakan keadaan Sakura, akan tetapi melihat wanita yang bersama gadis itu membuatnya tak berani mendekat.
Bahkan hingga Sakura kembali dibawa pergi, Haruka hanya bisa menatap dengan nanar. Ia bimbang, dan menyesal di saat bersamaan.
Larangan menemui Sakura sepuluh tahun lalu masih terpatri jelas di kepala, seperti tato yang sulit sekali dihilangkan. Tentu Haruka mengingat setiap kata yang terlontar dari bibir Hana.
"Ternyata memang benar itu Sakura," lirihnya setelah gadis itu benar-benar hilang dari pandangan mata.
Malamnya setelah memutuskan pulang tanpa menemui Sakura, pikiran Haruka dipenuhi oleh berbagai asumsi dan pertanyaan. Apakah menganggap tidak tahu apa-apa adalah hal yang tepat, ataukah nekad menemuinya jauh lebih benar?
Entahlah, berkali-kali Haruka menggeleng tidak tahu saat kepalanya menyarankan satu dua hal.
Salju di luar semakin tipis, turun bagai gerimis yang menenangkan. Haruka berdiri di depan pintu, menatap langit gelap tanpa bintang. Musim dingin adalah kenangan pahit untuknya.
Namun setelah berpikir beberapa saat, entah dari mana datangnya keberanian itu muncul. Haruka menarik napas dalam, lalu segera keluar pintu dan memutuskan untuk kembali, meski ia tahu akan ada kesulitan yang menimpanya setelah ini. Akan tetapi siapa yang akan tahu sebelum dicoba?
"Aku akan keluar sebentar, Nek." Setelah mengatakan itu Haruka benar-benar berjalan menembus gerimis salju yang terasa semakin ringan.
Jarak menuju rumah sakit tidak terlalu jauh. Ia sering menemani sang nenek check up ke sana sedari belia, tapi tidak pernah mendapati seseorang yang dikenal. Namun sekarang, Sakura ada di rumah sakit yang sama.
Langkah kaki dipercepat untuk mempersingkat waktu. Benar saja, Haruka bisa memangkas setengah jarak hingga sampai di depan gedung besar dengan warna putih mendominasi.
Tak langsung masuk, Haruka berdiri di halaman rumah sakit dengan pandangan menatap ke gedung paling atas. Ia tidak tahu di mana Sakura berada, dan sekarang ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa.
Haruka sudah tiba, dan sekarang bagaimana?
Haruka membuang napas berasap dengan berat. Benar, ia tidak memikirkan hal ini. Bisakah ia bertanya ruangan Sakura pada petugas resepsionis? Tidak, sepertinya tidak mudah mendapatkan informasi jika bukan keluarga.
Cukup lama Haruka hanya berdiri di tempat, seperti patung yang diberikan otak. Ia berpikir, kembali ke rumah juga bukan pilihan yang diinginkan. Ia terus memikirkan cara, hingga sepertinya musim dingin sedikit berbaik hati.
Belum sempat menemukan jawaban, tiba-tiba dari dalam keluar seorang wanita yang pernah Haruka temui. Itu Hana, pergi dari rumah sakit dengan dua tas jinjing besar yang dibawa.
Sadar akan kedatangan ibu Sakura, Haruka bergegas menepi, memasang penutup kepala agar tidak dikenali. Ya, ia bahkan masih gemetar meski yakin tidak ditemukan.
Hingga ketika melihat mobil Hana meninggalkan rumah sakit, barulah Haruka memberanikan diri memasuki lobi. Setidaknya ia tidak akan bertemu dengan wanita yang baru saja pergi.
Awalnya ia tidak yakin ingi menanyakan ruang tempat Sakura dirawat, tetapi pada akhirnya ia tetap mengalah pada rasa penasaran, atau lebih tepatnya kepedulian.
Pelan Haruka mendekati meja resepsionis.
"Permisi," ucap Haruka pertama kali dengan nada rendah. Begitu wanita cantik di balik meja membalas ramah, pria itu melanjutkan, "saya ingin menanyakan ruangan gadis bernama Mizuno Sakura dirawat."
Beberapa detik tidak ada tanggapan. Petugas resepsionis menatap Haruka dengan lekat. Seperti tengah memastikan sesuatu.
"Apa kau temannya?" tanya wanita di balik meja.
Haruka mengangguk pelan. "Ya. Aku temannya."
Beruntung, jawaban Haruka langsung mendapatkan anggukan dari petugas yang berjaga. Di detik berikutnya ia ditunjukkan ruangan di mana Sakura dirawat. Sebuah bangsal yang terletak di lantai tiga.
Tak ingin membuang waktu, Haruka bergegas menuju tempat yang dituju. Kini ia sudah sampai, di depan ruangan dengan salah satu nama bunga musim panas. Himawari.
Bangsal penyakit dalam, ruangan himawari nomor 2B.
Haruka menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tak berselang lama, sebuah sahutan mempersilahkan masuk terdengar dari dalam.
Ia memegang gagang pintu dengan gamang. Tangannya sedikit gemetar, tidak siap dengan reaksi gadis di dalam. Namun sudah terlanjur basah, ia harus menarik pintu dan masuk lalu segera meminta maaf karena telah lancang datang tanpa kabar.
Sementara di dalam, Sakura masih lekat menunggu siapa yang datang. Tentu ia yakin bukan sang ibu, sebab wanita itu baru saja pergi dan berkata akan datang lagi pagi hari. Beberapa detik berlalu tanpa ada tanda-tanda seseorang akan masuk.
Apakah hanya anak-anak yang usil? Sejenak anggapan itu menyelip dalam pikiran Sakura. Namun sepertinya bukan. Sebab tiba-tiba pintu ditarik perlahan
Begitu pintu terbuka, bisa dilihat sosok pria yang tidak Sakura sangka. Seseorang yang bahkan bisa membuat kedua bola matanya membulat sempurna.
"Haruka?" pekik gadis itu sangat terkejut.
Ditutupnya mata berkali-kali untuk menghilangkan bayangan pria di ambang pintu. Ya, Sakura menganggap itu hanya halusinasi akibat efek obat yang diminum.
Namun sepertinya tidak berhasil. Haruka perlahan berjalan masuk. Wajahnya terlihat masih menunduk. Tentu ia tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini. Terlebih ketika melihat wajah keterkejutan dari Sakura, ia sedikit menyesal telah nekad datang.
Sakura masih mematung sampai Haruka melangkah setengah jalan. Ia masih tidak percaya dan menganggap sedang bermimpi. Akan tetapi setelah dipastikan ini sebuah kenyataan, tiba-tiba keterkejutan gadis itu berubah menjadi sebuah lengkung di pipi.
Sakura tersenyum bahkan saat Haruka masih di garis bingung.
"Kau menemukanku!"