Sakit dan Salju

1150 Kata
Satu pekan sebelumnya, awal musim dingin. "Salju turun," gumam Sakura dari balik jendela. Musim dingin baru datang. Perlahan pandangan gadis itu mengedar ke atas nakas. Sebuah kalendar yang sebagian angkanya telah dicoret terlihat jelas berdiri di atasnya. Mendapati angka ke dua ratus lima puluh enam, Sakura tersenyum senang. Angka yang cukup banyak dibanding terakhir kali. Namun di saat bersamaan, hatinya didatangi cemas. Jika tahun ini terjadi lagi, ia mungkin akan berhenti. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan sebelumnya. Sakura menoleh, didapatinya sang ibu sudah berdiri di sana, lengkap dengan nampan berisi obat dan segelas air mineral. "Kau menikmati salju pagi ini?" tanya wanita paruh baya dengan senyum manis. Senyum dibalas senyum. Sakura mengangguk. Ia tetap ingin menikmati salju meski seringnya mereka tak akur. Ya, tubuhnya belum sepenuhnya mau menerima musim dingin. Tak menimpali anggukan putrinya, Hana bergegas mendekat, meletakkan nampan di atas nakas lalu turut menyamai posisi Sakura di tepi jendela. "Sejujurnya mama tidak terlalu menyukai musim dingin," ujar Hana sembari menatap ke luar. Sakura yang mendengar sontak menyatukan kedua alis. Ia tidak menyangka jika ada orang normal yang tidak menyukai salju. Maksudnya, bukankah menyenangkan berada di antara tumpukan es di luar sana? Namun belum sempat Sakura bertanya, Hana kembali melanjutkan, "Mama tidak menyukai apapun yang membuatmu kesakitan. Walaupun itu adalah hal terindah di dunia sekalipun." Usai mengatakan itu ia menoleh, menatap sang anak dengan senyum tulus. Sakura terdiam beberapa saat. Ia merasa tersentuh dengan ucapan sang ibu, tapi bersamaan dengan itu ada perasaan bersalah menjalar dalam d**a. Kalau saja ia terlahir sehat seperti anak-anak lain, mungkin tidak ada yang perlu membenci musim dingin. Akan tetapi meskipun kondisinya jauh dari kata baik, keadaan bukanlah sesuatu yang tepat untuk disalahkan. Semua adalah jalan yang harus dilewati. Gadis di samping Hana tersenyum, di detik berikutnya pandangannya kembali menghunus salju di luar sana. "Ah, mama benar," ucapnya, "tapi entah kenapa aku tetap menyukai musim dingin itu, Ma," lanjut Sakura. Bukan sebatas kalimat klise, tapi ia sungguh berkata benar. Hana menoleh. Ia cukup terkejut dengan apa yang Sakura katakan. Namun setelahnya tetap tersenyum simpul, mencoba mengiyakan apa yang baru saja didengar. "Jadi kau tetap menikmati salju meski hanya dari dalam kamar?" tanya Hana memastikan. Sakura menggeleng. "Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin membenci sesuatu yang pernah membuatku gembira," ujarnya. "Apa yang membuatmu gembira dari salju?" "Aku pernah bersenang-senang dengan seseorang sepuluh tahun silam. Ya, walaupun akhirnya aku harus berakhir di rumah sakit. Tapi itu adalah salah satu memori yang enggan kuhapus, Ma. Jadi aku memutuskan untuk tetap menyukai musim ini," jelas Sakura. Setelahnya ia menoleh, menatap sang ibu dengan senyum ringan tanpa ada beban. Jika mengingat saat-saat itu, Hana merasa bersalah. Ia tidak seharusnya membiarkannya Sakura keluar di musim dingin. Namun mendengar ungkapan gadis itu barusan, sepertinya hari itu tidak terlalu buruk. Lagipula putrinya masih bersamanya sekarang, dan untuk seterusnya yang diharapkan. Hana tersenyum, lalu mengangguk samar. Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan perasaan sepuluh tahun silam, wanita itu beranjak dari tepi jendela. "Kalau begitu, sekarang kamu harus meminum obat lebih dulu," ujarnya sembari mengambil nampan dari atas nakas. Mengiyakan sang ibu, Sakura langsung mengangguk, mengekor Hana menuju tepi ranjang. Begitu gadis itu melihat obat di sana, helaan napas panjang refleks keluar dari bibirnya. "Apa aku harus meminum obat sebanyak ini lagi, Ma?" tanyanya ingin bernegosiasi. Namun dengan cepat Hana mengiyakan. "Maafkan mama, Sakura. Tapi kau harus meminumnya agar tetap baik di musim yang kurang baik ini." Setelahnya wanita itu mulai menyerahkan satu persatu obat dan air di gelas. Ia harus memastikan Sakura meminum semuanya. Pernah ditinggalkan dan gadis kecil sengaja membuang. Alhasil, kondisinya kembali drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Mau tidak mau Sakura hanya bisa menurut. Meskipun setiap musim dingin datang ia harus melakukannya, tapi entah kenapa gadis itu masih merasa sangat berat. Sepuluh butir obat bukanlah hal yang bisa dinikmati. Tak perlu waktu lama, seluruh kapsul sudah hilang dari nampan. "Mama akan keluar sebentar. Ingat kau jangan coba-coba keluar," ucap Hana sembari mengambil gelas dari tangan putrinya. Selain peringatan, kalimat barusan mengandung kekhawatiran yang sangat besar. Bukan ia membatasi, hanya saja Sakura sangat tidak bersahabat di luar sana. Paham dengan maksud sang ibu, Sakura segera mengangguk. "Aku tahu itu, Ma," ucapnya. Matahari mulai merangkak naik. Seorang gadis duduk di depan televisi sedari tadi. Menekan tombol pada remot berkali-kali, tanda sudah tidak ada acara yang ia sukai. Rasa bosan mulai menyapa Sakura. Terlebih tidak ada yang bisa diajak berbincang, sang ibu juga belum pulang. Napas dibuang dengan panjang. Sudah tidak tertarik dengan televisi, Sakura memutuskan untuk mengakhiri tontonan kali ini. Ia beranjak, beralih menuju jendela. Tirai sudah tersingkap, tapi kacanya buram akibat salju yang turun dari semalam. Beruntung, sepertinya matahari siang ini cukup galak untuk sedikit menciptakan hangat. Pandangan Sakura mengedar ke setiap sudut halaman. Hingga tidak sengaja matanya menangkap sesuatu yang terlihat hampir membeku di antara salju. "Apa itu kucing?" lirihnya seraya terus mengamati binatang tanpa ada pergerakan. Namun semakin ia melihat, semakin yakin jika dugaannya benar. "Itu kucing!" pekiknya terkejut. Ia ingin segera keluar, tapi masih menimbang dengan keadaan. Namun membiarkan hewan lemah di luar membuatnya ingin segera menyelamatkan. Akhirnya dengan pertimbangan suhu yang mulai naik, Sakura memutuskan untuk tetap keluar. Lagipula ia sudah mengenakan pakaian hangat, dan matahari bersinar kuat, pikirnya. Langkah pertama saat ia keluar rumah masih baik. Sakura menarik napas dalam, ia tidak boleh cemas. Dengan perlahan ia mendekati kucing yang hampir tak berdaya di halaman. "Dapat!" ucapnya yang langsung membawa kucing tersebut ke teras. Ia mencoba membersihkan salju dari tubuh mahluk mungil itu. Namun memang belum saatnya Sakura untuk keluar. Belum sampai lima menit, tekanan udara serasa mencekik. d**a Sakura sesak, napas tersengal di tenggorokan. Sampai pada puncaknya, gadis itu tidak sadarkan diri. Satu pekan berlalu dengan muram. Masih sama, Sakura hanya bisa menatap luar dari balik jendela. Bedanya, kini ia berada di rumah sakit dengan selang infus dan pernapasan yang terpasang. "Ah, aku ingin pergi sekolah," gumam gadis itu lemah. Ya, tentu ia tidak diizinkan untuk pergi setelah insiden saat itu. Namun ia berharap teman-teman tidak tahu kondisinya. Ia juga sudah berpesan agar sang ibu tidak mengatakan apapun pada pihak sekolah. Semoga memang seperti itu adanya. Tak lama, seseorang masuk dengan kursi roda. "Katanya mau jalan-jalan?" Rupanya itu sang ibu, Hana. Sakura menoleh, ia mengangguk senang. Jalan-jalan menuju lobi rumah sakit menjadi rutinitas Sakura kini. Meski tidak bisa berada di taman, setidaknya ia tidak terlalu bosan walaupun hanya melihat dinding dengan warna serupa kamarnya. Hana berhenti tepat di depan kaca besar. Dari sana taman bisa dilihat sangat baik. "Tunggu di sini sebentar, mama akan ke tempat obat," ucap Hana yang langsung diberi anggukan oleh sang anak. Beberapa saat berlalu dengan pemandangan yang mulai membosankan. Sakura ingin beranjak dari sana. Tapi sepertinya sang ibu belum akan kembali dari tempat obat di belakang. Hingga akhirnya seseorang memanggil. "Sakura!" Gadis itu menoleh, lalu tersenyum lega. "Kenapa Mama lama sekali?" Sementara itu di sudut yang sama dengan pandangan Sakura, seorang pria mengurungkan langkah begitu Hana mendekati gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN