"Jangan-jangan kau mengikutiku ya, Haruka?" tanya Sakura dengan picingan mata. Tak lupa senyum usil juga ia tampilkan.
Kini dua pasang kaki sudah melangkah menyusuri jalan, beralih dari tepi sungai di seberang.
Haruka mengernyit. "Untuk apa aku mengkutimu?" tanyanya heran. Padahal memang itu yang dilakukan. Namun mengakui tentu tidak mungkin.
"Lalu kenapa kau ada di sana?" Sakura masih belum mau mengalah. "Ini bukan jalan yang biasa kamu lewati. Katakan saja, kau pasti mengikuti, kan?" Gadis itu terus menggoda. Menyenangkan rasanya melihat pria di sampingnya marah, meski seringnya terlihat menyebalkan.
Helaan napas terdengar dari mulut Haruka. "Apa ada larangan aku tidak boleh lewat sini?" tanyanya
Lalu gelengan kepala Sakura yang ia terima begitu saja.
Melihat gadis di sampingnya, Haruka memutar bola mata malas. "Dan kau, kenapa tidak melakukannya di sungai dekat rumahmu?" Ia mencoba mengganti topik pembicaraan.
Untuk beberapa saat Sakura terdiam. Gadis yang awalnya ramai dengan godaan kini menunduk dengan senyum samar. Namun tak lama wajahnya kembali terangkat. "Aku hanya senang dengan air di sana." Senyum dengan gigi terlihat ditampilkan.
Mendengarnya dahi Haruka mengernyit. "Aneh." Lalu mempercepat langkah meninggalkan Sakura.
"Haruka!" Dengan kesal Sakura menyusul pria yang menyebalkan. Tadinya ia ingin membuat Haruka marah, tapi ternyata yang memiliki bakat melakukannya justeru Haruka itu sendiri. Pria itu benar-benar ahli membuat orang lain kesal.
Entah apa yang terjadi dengan Haruka, tetapi hati yang semula beku sepertinya perlahan mulai menguap, mencair dan membaur dengan gadis sepuluh tahun lalu.
*
Musim dingin datang dengan suhu lebih rendah dari biasanya. Banyak yang mengeluh, meski pada akhirnya tetap mengalah dengan jaket tebal yang digunakan.
Seorang pria dengan seragam berjalan membelah salju di tanah. Es lembut itu baru turun semalam, tapi tebalnya sudah bisa menutupi trotoar. Haruka, dengan tangan di kedua saku aku melewatinya.
Sayangnya, salju bukan hanya pelengkap dari musim dingin. Untuk Haruka, musim ini lebih dari sekadar itu. Jika salju turun, otomatis angin akan membawanya menempa kenangan belasan tahun silam. Memori yang sangat memukul. Tak hanya itu, luka terhadap musim dingin semakin dalam setelah Sakura terjatuh di hadapannya waktu itu.
Haruka tidak menyukai salju, meski kebanyakan orang menganggapnya lebih dingin daripada itu.
Langkahnya terhenti di seberang sungai, air di sana sudah beku, agaknya tidak bisa melawan suhu yang turun drastis dalam kurun waktu yang singkat. Cukup lama ia terdiam, meski pada akhirnya ia menghela napas panjang. Entah apa yang dipikirkannya.
Namun di samping salju yang mendinginkan hati Haruka, ada kesempatan yang menyelinap di antara dirinya dengan Sakura. Semenjak insiden di sungai waktu itu, keduanya semakin dekat, mungkin belum bisa dikatakan seperti itu, tapi setidaknya kecanggungan perlahan terkikis di antara mereka.
Biasanya ia akan bertemu Sakura di lampu penyeberangan. Gadis itu pasti akan melambai dengan teriakan khas yang sudah biasa Haruka dengar.
Sadar tidak sadar, memikirkan hal itu membuat Haruka tersenyum. "Dasar. Dia sangat bawel."
Lampu penyeberangan berwarna merah ketika pria itu tiba. Sedangkan pandangannya langsung tertuju pada seberang jalan, mengedar mengamati satu persatu orang di sana. Tentu saja ia mencari seseorang yang dikenal, Sakura.
Namun setelah beberapa saat mencari, gadis itu belum juga terlihat. "Dia terlambat?" gumamnya lirih. Tetapi setelahnya langsung mengangkat bahu. "Biarlah. Apa peduliku?" Usai mengatakan itu ia memutuskan untuk segera beranjak.
Benar katanya jika lidah tak bertulang. Bebas berkata apapun meski kadang berlawanan dengan hari.
Meski Haruka berkata pada diri sendiri jika ia tidak peduli dengan Sakura, tapi di dalam hati ia justeru terus memikirkannya. Tidak biasanya gadis itu terlambat. Sepanjang jalan matanya terus mengedar, hingga sampai ia tida di depan gerbang, Sakura belum juga terlihat.
Harapan terakhir adalah kelas. Ia berharap Sakura sudah berada di sana.
"Haruka!" Seseorang memanggil dari belakang. Suara perempuan yang tidak asing.
Haruka menoleh. Rupanya Nami yang berlari menghampiri.
"Kau tidak bersama Sakura?" tanya Nami sedikit cemas.
Dengan cepat Haruka menggeleng. Ia tidak yakin, tapi wajah Nami menampilkan garis khawatir.
"Astaga! Ke mana dia?" timpal Nami.
Haruka yang penasaran segera bertanya, "Dia belum ada di kelas?"
"Tidak ada. Dia bahkan belum menjawab pesanku dari semalam," lanjut Nami, "kau sama sekali tidak tahu kabarnya?"
Pria di depannya menggeleng.
"Ya sudah." Tak menghiraukan Haruka, Nami bergegas pergi meninggalkan pria itu di lorong. Padahal yang ia tidak tahu jika pertanyaannya barusan menciptakan tanya yang tergenggam.
Haruka diam menatap jendela yang kusam karena salju. Ia memikirkan banyak hal. Sekilas insiden sepuluh tahun lalu terngiang di kepala. Musik dingin, salju, dan Sakura yang pingsan waktu itu. Apakah ada kaitannya dengan sekarang?
Tidak. Dengan cepat Haruka menepis pikiran buruknya tentang keadaan Sakura. Ia harus berpikir positif sampai mengetahui kebenarannya.
Satu hari terasa begitu sunyi bagi Haruka. Tak ada yang mengganggu, atau sekedar menyapa dengan suara khas milik Sakura. Sulit diakui, tapi ia benar-benar sudah terbiasa dengan tingkah tidak jelas dari gadis itu. Tidak merasakan sebentar serasa ada yang berbeda.
Sesekali ia menengok ke bangku kosong di belakang. Hingga bel pulang hampir berbunyi, Sakura masih belum ada kabar.
Napas dibuang dengan panjang. Jendela di sampingnya menjadi satu-satunya hiburan di tengah kesepian kali ini. Mungkinkah Haruka telah menyadari jika ia senang seperti sepuluh tahun silam? Bagaimanapun, ia masih enggan mengakuinya.
Hari berganti dengan cepat. Satu pekan berjalan tanpa terasa. Salju tak lagi turun sederas awal musim dingin. Namun entah mengapa, Sakura belum juga memberikan kabar. Bahkan terhadap Nami yang katanya setiap hari mengirim pesan.
Tiba-tiba perasaan khawatir muncul di dalam benak Haruka. Sudah bisa dipastikan jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Ingin datang memastikan, ia terlanjur takut dengan wanita paruh baya di rumah Sakura. Tentu saja ibu dari gadis yang ia khawatirkan.
Sepuluh tahun bukan waktu yang cukup untuk melupakan kata-kata Hana saat putrinya pingsan ketika sedang bermain dengan Haruka.
Ia cemas, takut, tak berani menampakkan diri lagi di sana. Hingga mau tidak mau Haruka harus sabar menunggu kabar dengan harapan yang besar, berharap Sakura akan baik-baik saja.
Matahari cukup riang ketika Haruka keluar dari gerbang sekolah. Ia mengamati ponsel dengan selarik pesan di layar. Tanpa pikir panjang, ia segera bergegas pergi. Bukan untuk pulang, tapi menuju suatu tempat untuk mengambil sesuatu.
Rumah sakit. Adalah tujuan Haruka siang ini. Neneknya memesan untuk diambilkan obat, sebab musim masih dingin, akan kesulitan jika wanita tua keluar sendiri.
Menuju apotek untuk menebus obat, tidak sengaja mata Haruka menangkap sosok yang sangat dikenal. Bahkan akhir-akhir ini menjadi topik utama di dalam pikiran.
Seorang gadis tengah duduk di kursi roda menatap salju di luar. Di tangannya terpasang infus, juga selang pernapasan di kepala.
Deg! Mata Haruka membulat. "Sakura?"