Arus yang Deras

1069 Kata
"Apa yang kau katakan?" Mata Nami membulat ketika ia tidak sengaja mendengar pertanyaan Haruka yang mengejutkan. Apakah baru saja pria itu bertanya kabar dari Sakura? Di sampingnya gadis yang ditanya juga tak kalah kaget. Jika diingat, mungkin baru kali ini ia merasa seperti mendapat perhatian dari Haruka. Siapa yang berharap hal itu terjadi dari pria yang lebih dingin dari salju? Namun Haruka tidak mengindahkan pertanyaan Nami. Ia justru kembali duduk, tanpa peduli dengan apa yang barusan ia lakukan. Menggenggam tangan Sakura dan membuat pipi gadis itu merona. Haruka beringsut menatap jendela. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun lagi meski Nami terus saja mengusiknya. "Sudahlah, Nami. Dia hanya bercanda." * Sungai di musim gugur bersuhu lebih rendah dari sebelumnya. Hari ketiga puluh. Sakura tersenyum seraya meletakkan lipatan kertas berwarna jingga. Jika dipikir, ini adalah kali kesekian gadis itu mencoba memenuhi satu tahun penuh dengan perahu kertas dan harapan. Tetapi sebanyak yang ia coba, belum satupun yang berhasil. Seringnya berhenti di musim dingin. Kali ini gadis yang lemah terhadap dingin mencoba mengakalinya dengan waktu ia keluar, lebih tepatnya datang ke sungai untuk melayarkan perahu kertas. Siang atau sore hari, adalah waktu yang Sakura pilih. Setidaknya suhu di saat-saat itu lebih hangat dari saat matahari baru menampakkan diri. Seperti siang ini. Masih dengan seragam dan tas di punggung, gadis itu sudah berada di tepi sungai. Menatap aliran dengan senang sembari meletakkan lipatan perahu kertas yang sudah disiapkan sebelum pulang sekolah. Ia sengaja tak pulang lebih dulu, karena akan sulit baginya untuk keluar setelah berada di rumah. "Pergilah dengan baik," lirihnya setelah melepas ekor perahu kertas di atas arus sungai yang tidak terlalu deras. Perahu kertas berlayar terbawa aliran sungai, dengan segenggam harapan yang hanya Sakura saja yang tahu, air membawanya pergi menuju hilir, tempat di mana gadis berusia enam belas tahun yakin akan ada yang membacanya di sana. Sakura tak kunjung beralih, matanya masih mengekor arus yang membawa harapan miliknya sampai tak terlihat. Memang ini yang selalu ia lakukan, belum ingin pulang sebelum perahu kertas hilang dari pandangan. Duduk di tepi sungai, menatap air dengan bayangan kabur di antara arus. Sakura sangat menikmatinya. Setidaknya ia bisa berkaca di sana, mengenal lebih jauh seorang gadis yang kesepian selanjutnya hidup, hanya ditemani dengan jantung yang kurang sehat. Ya, begitulah hari-hari berat Sakura. Namun tidak ada yang tahu, sebab gadis itu berharap orang lain memandang sebagai gadis yang ceria, bahagia, serta membahagiakan. "Harapan kecil yang selalu aku ulang." Sakura tersenyum samar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Jika bukan karena operasi besar yang ia pertaruhkan di pertengahan sekolah menengah pertama dulu, mungkin saja ia kini masih harus meringkuk menghabiskan hari di dalam rumah, bahkan untuk urusan sekolah. Sementara di tepi jalan, tanpa ada yang tahu seorang remaja pria tengah berdiri dan mengamati dari balik pohon rambat. Haruka, entah apa yang membuatnya tiba-tiba tertarik dengan sungai. Mungkin sekilas kenangan sepuluh tahun silam hadir dalam angan. "Dia masih melakukannya?" gumam Haruka dengan mata lekat menatap gadis di tepi sungai. Sengaja bersembunyi, mungkin lebih tepatnya menengok dari kejauhan. Haruka masih berlagak tidak peduli terhadap Sakura, padahal hati kecilnya tidak bisa dibohongi, bahwa ada kekhawatiran kecil yang mengganggu. Bertanya langsung tidak mungkin untuk saat ini. Benar, melihat dari kejauhan adalah pilihan terbaik. Samar tapi jelas, terdengar suara yang terangkai dalam nada dari seseorang yang masih duduk di tepi sana. Ya, sepertinya Sakura tengah bersenandung. Tak ingin mendengar tapi juga enggan mengabaikan, dengan seksama Haruka menyimak lagu yang tengah Sakura nyanyikan. Jarang beberapa meter membuatnya kesulitan menyimak lirik yang ada. Namun satu yang pria ini yakini, bahwa suara gadis di sana cukup baik, bahkan bisa terbilang bagus. Pelan senandung yang Sakura layangkan berhasil membuat Haruka terbius untuk beberapa saat. Membuat pria itu tidak sadar, jika ia kini terlalu mepet dengan bahu jalan. Hingga suara klakson kendaraan membuatnya melompat di tempat. "Astaga!" pekik Haruka, masih mencoba memelankan suara. Namun sayang, rasa terkejut membuatnya tak bisa mengontrol kaki untuk diam. Dengan mulut yang ditutup, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Haruka terlempar dari tepi jalan menerobos tanaman menjalar. Mendengar suara gaduh di belakang, membuat Sakura refleks menoleh. Ia berpikir jika seseorang terjatuh dari jalan. Nyatanya memang benar. Akan tetapi gadis itu belum tahu siapa tuan malang di sana. Hingga saat seseorang bangkit dari balik dedaunan, mata Sakura membulat. "Haruka! Kau kah di sana?" Sakura memekik kuat. Antara terkejut dan ingin tertawa, tapi kasihan sebab wajah pria di sana sudah memerah. Daripada sakit, sepertinya rasa malu lebih melukai Haruka. Tanpa menunggu jawaban dari pria yang terpental, Sakura bergegas menghampiri. Ia hampir tertawa kalau-kalau tidak ditahan sekuat tenaga. "Astaga, Haruka. Lihatlah dirimu," ledeknya dengan senang, "sesuatu mendorongmu dari sana?" lanjut Sakura. Sedangkan Haruka, pria itu hanya bisa menunduk malu. Alih-alih ingin menguntit malah justeru tertangkap basah dengan kecelakaan memalukan pula. Namun mau bagaimana lagi, ia hanya bisa menutupi dengan wajah datar tanpa ekspresi seraya membersihkan debu di pakaian. "Kau terluka?" tanya Sakura setelah menyelesaikan tawa. Gelengan kepala Haruka telah menjawab pertanyaannya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Sakura tidak tahu lagi harus mengatakan apa, lagipula terus mengejek Haruka mungkin bisa membuat pria itu marah, dan Sakura tidak pernah menginginkannya. Hingga bak pelangi datang tanpa hujan, Haruka tiba-tiba mengawali pembicaraan. Mungkin rasa malu membuatnya berpikir sudah terlanjur untuk tidak diteruskan. "Sedang apa kau di sini?" tanya pria itu pura-pura tidak tahu. Padahal, ia telah mengawasi Sakura sedari tadi. Sakura terdiam sejenak, meski setelahnya ia tetap menjawab, "Ah, aku hanya senang berada di sini." Ia belum jujur. Haruka yang paham segera menimpali, "Kau masih menghanyutkan perahu kertas, kan?" "Eh?" Sakura terkejut. "Itu ...." "Tenanglah. Itu bukan hal buruk," ujar Haruka memotong kalimat ragu dari gadis di depannya. Mendengar itu, kedua mata Sakura berubah berbinar. Ia sangat senang. "Kau tidak berpikir itu kekanak-kanakan?" tanyanya memastikan. Dua bahu terangkat. "Entahlah. Lagipula aku juga masih melakukannya beberapa waktu lalu," pungkas Haruka. "Benarkah?" Sakura semakin berbinar. "Apa kau sudah menyelesaikannya selama satu tahun penuh?" Tak langsung menjawab, helaan napas panjang keluar begitu saja dari bibir pria di samping Sakura. Pandangannya mengedar ke sungai beberapa saat. Setelahnya berujar, "Belum pernah. Aku tidak sesabar itu." Sakura hanya mengangguk paham. Tentu tidak mudah untuk konsisten menulis dan menghanyutkan perahu kertas selama satu tahun penuh. "Kau sendiri, sudah selesai?" tanya Haruka di tengah keheningan. Gadis di sampingnya tersenyum kecil, kemudian menggeleng pelan. "Belum sampai sekarang. Ternyata aku belum banyak berubah dari sepuluh tahun silam." "Apa ada sesuatu?" Sakura menatap Haruka, ia kembali tersenyum lalu menggeleng. "Bukan sesuatu yang besar." Namun matanya tak bisa membenarkan perkataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN