Perbedaan

1064 Kata
"Silahkan duduk," ucap Pak Yamamoto begitu Sakura tiba di ruang guru. Tanpa menunggu perintah diulang, Sakura mengiyakannya, duduk di kursi paling depan sesuai dengan apa yang diperintahkan. "Mizuno Sakura." Pak Yamamoto mengawali dengan pandangan tertuju pada kertas seraya memasang ekspresi yang sulit diartikan. Sedangkan gadis yang baru saja disebut namanya hanya bisa mengangguk mengiyakan sembari menunggu kalimat apa yang akan disampaikan. "Sebelumnya, apa kamu tahu jika saya adalah wali kelas sepuluh sains-B?" Pelan Sakura menggeleng. "Belum, Pak," jawabnya jujur. Sebab selama mereka masuk, belum pernah bertemu dengan wali kelas. Beberapa alasan seperti tidak berada di sekolah menjadi penyebab mereka belum pernah bertemu dengan beliau. Namun agaknya sekarang Sakura sudah tahu jika ternyata yang membawanya adalah wali kelas. Sekarang alasan kenapa hanya ia yang dibawa masih menjadi tanda tanya. Selembar kertas diletakkan tepat di hadapan gadis yang masih menyimpan tanda tanya. Sedikit menengok, sepertinya ia telah menerima lembar jawaban. Apakah ia akan melakukan ujian secara mendadak? Seketika jantung di dalam sana berdegup kencang. Akan tetapi belum sempat Sakura menanyakan maksud dari sang guru memberikan lembar jawaban, ia sudah lebih dulu menerima jawabannya. Setelah menyerahkan satu lembar kertas, Pak Yamamoto meletakan satu buku materi. Tidak terlalu tebal, dari judulnya bisa ditebak jika isi adalah materi pendidikan jasmani. "Orangtuamu memberikan kabar jika kamu tidak bisa mengikuti pelatihan olahraga karena kesehatan," ujar sang guru mengawali penjelasan. Sedangkan Sakura masih menyimak, dalam hati menyesal tidak enak, khawatir ia akan dipandang sebelah mata oleh wali kelasnya. Namun sepertinya kekhawatiran Sakura tidak terjadi. Sebab setelah mengatakan hal barusan, lelaki di depannya terlihat tersenyum ramah. "Tidak masalah, Sakura. Kamu bisa menggantinya dengan mempelajari materi di buku ini," lanjut Pak Yamamoto. Sakura yang sudah terlanjur cemas refleks menghela napas lega. Bibirnya tersenyum tipis, tanda ia senang mendengar penuturan Pak Yamamoto. Tanpa disuruh, Sakura kang membuka buku materi yang gurunya maksud. Ya, tentu ia akan dengan senang hati mempelajarinya. Lalu untuk lembar jawaban, ia harus mengerjakan satu latihan di sana. Tidak masalah, gadis itu tetap merasa lebih baik seperti ini daripada dibiarkan dengan alasan kasihan. Usai keduanya sepakat, sang guru berpamitan untuk pergi ke lapangan. Benar, Pak Yamamoto tidak mungkin mengabaikan dua puluh empat siswa lain hanya untuk satu siswa di dalam kelas. Satu dua lembar Sakura habiskan dengan penuh perhatian. Hingga saat tiba di lembar ketiga, rasa bosan mulai menyergap gadis berusia enam belas tahun tersebut. Untuk menanganinya, ia mengalihkan pandangan ke segala arah, mencari apa yang kiranya bisa menyegarkan mata. Hingga matanya berhenti pada sekumpulan siswa yang tengah berlari mengitari lapangan. Sakura tersenyum, ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan di balik lengkung bibirnya. Bahkan sejak kecil ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya bersenang-senang dengan langkah kaki yang cepat. Setiap kali ia berlarian, pasti jantung akan segera protes dan membuat napasnya sesak. Itu sungguh merepotkan. "Ah, itu dia." Sakura tersenyum senang ketika mendapati seorang pria berlari tepat di depan mata, meski terhalang jendela. Tanpa sadar, pandangannya terus mengekor pria yang baru saja ditemukannya, Haruka. Sementara di lapangan itu sendiri, beberapa siswa masih mengeluh meski kaki mereka terus berlari tanpa henti. Di antara mereka, Haruka menghabiskan langkah dalam diam. Entah ada atau tidak yang dipikirkan, sepertinya hening menjadi satu-satunya yang bisa ia lakukan. Ia terus berlari, menatap ke depan tanpa peduli dengan sekitar. Sampai, nalurinya merasa jika ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari jauh. Awalnya Haruka tidak mengindahkan perasaan tersebut, akan tetapi tanpa sadar matanya beralih pada jendela dengan seorang gadis tengah menatapnya lekat. Sakura, satu-satunya yang Haruka tangkap adalah nama itu. Ia mengunci pandangan sejenak, tapi beberapa detik kemudian mengabaikan senyum yang Sakura layangkan. Bisa dipastikan gadis di balik jendela akan menggerutu memajukan bibir. "Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh Sakura?" Nami, gadis itu tiba-tiba berhenti di samping Haruka. Pria yang sudah berdiri di sana menoleh sekilas. "Susul dia jika kau sangat penasaran," ujarnya ketus. Sontak saja, kalimat Haruka barusan berhasil mencipta sungutan kesal pada Nami. "Ish! Aku tidak sedang mengajakmu berbicara!" ucapnya. Kedua alis Haruka menyatu, sementara matanya mengedar singkat. "Oh, mungkin kau sedang mengajak batu-batu ini berbicara," lanjutnya sinis. Sebab dengan siapa lagi Nami berbicara sedangkan hanya ada mereka berdua di sana? "Ish kau ini sangat menyebalkan!" Tangan Nami terangkat hendak memukul, tapi segera diurungkan dengan helaan napas panjang. "Aku hanya sedih khawatir dengan Sakura. Beberapa kali kudapati wajahnya pucat. Dia tidak sakit, kan?" Gadis itu menoleh ke arah pria di sebelahnya. Namun apa yang akan Nami dapat adalah hal yang sudah bisa ditebak. Lagi-lagi Haruka hanya mengangkat alis terkesan sama sekali tidak peduli. "Aku tidak tahu," ucapnya datar. Padahal sebenarnya, ketika Nami mengatakan hal barusan, pikiran Haruka langsung terbang ke ranah sepuluh tahun silam. Ia yang tahu betul Sakura berusia lima tahun sakit-sakitan, pingsan tepat di depan matanya saat salju berjatuhan. Mungkinkah sakitnya masih terbawa sampai sekarang? Seketika Haruka menyadari sesuatu. Mungkin apa yang terjadi ada kaitan dengan dengan pelajaran olahraga kali ini. Sakura tidak bisa kelelahan. Itu saja. Terakhir gadis itu berlari dan langsung didapati sesak napas tak berhenti jika tidak ia bantu waktu itu. "Apa yang terjadi?" gumam Haruka. Ia pikir suaranya sudah sangat pelan, tapi Nami tetap mendengar. "Apa yang kau bicarakan?" tanya Nami. "Tidak ada." Lalu Haruka bergegas pergi menuju ring basket di ujung lapangan. Bel berbunyi setelah delapan puluh menit waktu berlalu. Sakura berjalan menyusuri lorong menuju kelas. Waktu istirahat sudah tiba, seharusnya teman-temannya sudah berada di kelas. Benar saja, apa yang diharapkan terjadi. Kelas sudah penuh dengan siswa yang kepanasan. Beberapa sudah lari keluar mencari penyegaran. "Sakura!" pekik Nami begitu mendapati temannya masuk. "Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya penasaran. Untuk beberapa saat Sakura terdiam, tak lama menemukan alasan yang pas. Ia berkata, "Aku perlu mengisi beberapa data di sana. Ya, hanya itu." Mendengarnya Nami tidak begitu yakin. Namun belum sempat ia menanyakan lebih jauh, pandangan Sakura sudah berbinar menuju tempat lain. Tentu saja sosok itu adalah Haruka. Sakura bergegas menuju tepi jendela, ia sengaja membawa minuman kaleng dari kantin, ingin memberikannya pada Haruka. "Ini. Kau pasti kepanasan," ujar gadis itu seraya menyodorkan minuman kaleng pada Haruka. Pria yang disodorkan minuman hanya menatap, tak berbicara maupun menerima. Ya, Haruka tidak senang meski ia cukup tersentuh dengan perhatian Sakura. Seseorang memeluk pundak Sakura. "Hei! Aku belum selesai bertanya padamu!" Nami protes. Sebuah senyum dengan gigi ditampilkan. "Maaf. Aku ingin segera memberikan ini pada Haruka." Di sela itu, Haruka tiba-tiba meraih tangan Sakura. Ia memeriksa telapak tangan gadis yang pipinya mulai merona. Entah apa yang dilakukan, tapi setelahnya mengangguk dengan tatapan terangkat. "Kau baik-baik saja?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN