Seperti Perahu yang Mengalir

1023 Kata
Kau hanya perlu meletakan di atas air, lalu membiarkan arus membawa perahu kertas dengan harapan yang tertulis. Perahu kertas, musim gugur tahun pertama. * "Kau sedang membuat apa?" Nami, gadis yang cukup dekat dengan Sakura mendekat. Sebuah origami tengah dilipat oleh temannya beberapa kali membuat gadis itu penasaran. Sakura menoleh sekilas, tersenyum lalu kembali menunduk melipat kertas. "Aku sedang membuat ini," ucapnya seraya menunjukkan origami yang sudah terbentuk. "Perahu?" tanya Nami memastikan, padahal sudah sangat jelas apa yang ia lihat. Mendengar itu gadis dengan origami perahu mengangguk. "Ya. Apakah ini tidak terlihat seperti itu?" Ia balik bertanya. Dengan cepat Nami menggeleng. "Bukan seperti itu," ucapnya terpotong, lalu segera melanjutkan, "maksudku, aku hanya penasaran kenapa kamu membuat perahu dengan kertas-kertas itu?" "Ah, aku hanya iseng melipatnya. Hanya ini yang bisa kubuat," timpal Sakura dengan senyum malu tak enak. Tentu ia tidak bisa mengatakan jika perahu yang dibuat akan dihanyutkan dengan sebuah permintaan. Untuk remaja seusianya mungkin hal tersebut akan terdengar sangat kekanak-kanakan. Alasan Sakura langsung mendapat anggukan dari temannya. Hingga sepertinya Nami menyadari sesuatu. "Tunggu!" Mata Nami tertuju pada perahu berwarna merah di tangan Sakura. Ia mengamati tanpa berkedip, seperti ada sesuatu yang baru saja ditemukan. "Apa kau menulis sesuatu di dalam sana?" Kedua mata Sakura sedikit membulat, ia tidak menyangka Nami akan menyadari tulisan di dalam. Namun dengan segera ia mengelak. "Tidak," ucapnya seraya membuang wajah ke arah jendela, menutupi mata yang tidak bisa diajak berbohong. "Benarkah?" Alis Nami menyatu. "Tapi sepertinya aku melihat tulisan di sana. Atau mungkin itu motif?" Gadis itu masih meyakinkan diri sendiri. Tak ingin membuat Nami semakin curiga, dengan segera Sakura mengiyakan. Ia mengangguk cepat. "Ah, kau benar. Maksudmu ini? Ini memang motif bawaan. Bukankah sedang trendi origami bergambar akhir-akhir ini?" Lagi-lagi Nami mengangguk. "Kau benar. Tapi kenapa melipatnya terbalik, bukankah harusnya gambar di luar?" Entah kenapa, gadis itu banyak bertanya kali ini. "Eh?" Sakura tak bisa mencerna apa yang gadis di depannya katakan. Namun beruntung ia segera paham. "A-ah, ini ... sepertinya aku salah melipatnya tadi," kilahnya. Tidak ada yang Nami tanyakan lagi. Agaknya alasan yang dibuat Sakura sudah cukup untuk membuatnya percaya. Lagipula, siapa yang akan berpikir menuliskan surat di dalam origami, bukankah itu kuno sekali. Bahkan anak kecil sekarang rasanya enggan melakukan hal seperti itu. Sedangkan tanpa suara, di depan mereka seseorang tengah menyimak obrolan. Haruka. Sebenarnya pria itu enggan mendengar apapun dari belakang, hanya saja suara Nami dan Sakura masuk begitu saja ke dalam telinga. Mendengar alasan yang dibuat-buat oleh Sakura, Haruka menghela napas kasar. Tetapi entah mengapa sudut bibirnya sedikit terangkat. Apa yang pria ini pikirkan? "Dasar. Kenapa dia membuatnya di sekolah seperti ini?" gumam Haruka. Ia pikir suaranya cukup pelan, tapi nyatanya seseorang yang mendengar samar menyahut dari belakang. "Kau mengatakan sesuatu, Haruka?" tanya Nami, di dekatnya Sakura turut penasaran. Sedikit terkejut tapi segera bisa menutupi. Haruka menoleh sekilas. Dengan wajah datar ia berkata, "Bukan urusanmu." Setelahnya kembali menenggelamkan wajah di atas meja. Nami yang mendengarnya langsung terbawa emosi. "Dasar!" Sebuah tangan terangkat hendak memukul, tapi tidak sempat sebab Sakura sudah lebih dulu mencegah. "Sudahlah, Nami. Dia memang seperti itu," ujar Sakura menengahi. Diputarnya bola mata dengan Malas. "Lagian, kenapa kamu mau berteman dengannya?" ujar Nami, tentu sangat mengherankan, apalagi ia yang sudah mengenal Haruka dari SMP. Namun Sakura justeru tersenyum. Sembari menggeleng pelan gadis itu berujar, "Entahlah. Bukankah dia cukup baik?" Perbincangan pagi berakhir dengan suara langkah pria dewasa yang memasuki kelas. Yamamoto, seorang guru dengan tubuh bagus langsung bertanya tanpa basa-basi sebelumnya. "Apakah siswi bernama Mizuno Sakura ada di kelas ini?" Di detik yang sama, seluruh mata langsung beralih pada gadis yang duduk di tepi jendela. Sakura, ia yang merasa terpanggil perlahan mengangkat tangan. Sejujurnya, ada perasaan takut yang menjalar. Ada apa dengannya, dan sejumlah pertanyaan sejenis mampir di kepala begitu saja. "Kau Mizuno Sakura?" tanya guru di depan mengulang. Pelan Sakura mengangguk. "Benar, Pak. Saya Mizuno Sakura," ucapnya sedikit takut. Terlihat Yamamoto mengangguk. "Ikut bapak sebentar." Dengan wajah tak yakin, Sakura hanya bisa menurut. Ia benar-benar tidak tahu kenapa hanya dirinya yang dipanggil. Apakah ada kesalahan yang diperbuat? Sepertinya tidak. Mereka baru masuk satu pekan di SMA ini. "Sakura!" Nami berbisik dari sebelah, "ada apa?" Namun Sakura yang juga tidak tahu hanya bisa menggeleng. Ia tetap maju, mengekor guru yang masih menunggu di depan. "Untuk yang lain segera ganti baju olahraga. Bapak tunggu di lapangan." Usai mengatakan itu, Yamamoto segera pergi dari kelas. Tentu saja dengan Sakura yang mengekor keluar. Hanya dalam beberapa langkah, sosok Sakura hilang dari pandangan beserta segenggam tanya yang ditinggal. Tetapi, tanya tinggal tanya. Sebab di detik setelah Yamamoto pergi, kelas kembali riuh, diperebutkan kubu mana yang lebih berhak untuk mengganti baju di kelas. Apakah siswa ataukah siswa, tak ada yang mau mengalah. Sementara di tepi jendela yang lain, Haruka hanya menghela napas panjang berulang. Ia sungguh tidak menyukai kebisingan yang terjadi. Apa susahnya pergi ke ruang ganti daripada ribut di dalam kelas hingga bel berbunyi? "Haruka, kau mau ke mana? Menyusul Sakura?" tanya Nami ketika melihat pria yang ia anggap menyebalkan hampir keluar dari kelas. Ya, Haruka memilih menepi dari perebutan hak kelas yang terjadi. Namun bukan berarti ia ingin menyusul Sakura. Dengan tatapan tajam, pria itu berujar, "Ke lapangan. Lagipula aku sama sekali tidak peduli dengannya." Setelah mengatakan itu, Haruka segera beranjak dari sana. Ia bahkan tidak lagi mempedulikan Nami yang terus mengatainya hingga benar-benar keluar. Lapangan, tiang, bola besar. Untuk pertama kalinya siswa kelas sepuluh sains-B berbaris dengan seragam olahraga yang serupa. Awalnya mereka pikir pelajaran jasmani akan terasa seperti permainan yang menyenangkan. Namun sepertinya pemikiran seperti itu harus segera ditinggalkan. Sebab ternyata yang terjadi ialah .... "Dalam pelajaran saya, sebelum dimulai kalian wajib lari mengitari lapangan sebanyak tiga kali tanpa berhenti. Dan itu wajib dilakukan!" Sontak, peraturan yang sang guru sampaikan menimbulkan riuh protes dari banyak siswa, terutama perempuan yang tidak ingin kelelahan. Namun sayangnya, Yamamoto tidak menerima toleransi sedikitpun. Apa yang dikatakannya adalah mutlak. Hingga mau tidak mau anak didiknya harus segera berlari satu persatu. Sedangkan di tepi jendela lantai tiga, Sakura duduk dengan tatapan mengedar ke luar. Lebih tepatnya menyapu lapangan dengan teman-teman yang tengah berlarian. Sakura tersenyum samar, lalu beralih menatap kertas di hadapan. "Ternyata mama benar-benar mengkhawatirkanku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN