Gadis Sepuluh Tahun Lalu

1047 Kata
Musim semi menjadi awal bunga mekar di dalam diri seorang gadis bernama Sakura. Bukan hanya pertemuannya dengan Haruka, tetapi dengan bolehnya ia pergi sekolah seolah menjadi celah menemukan lingkungan baru. Tempat yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari dalam kamar. "Sakura!" suara lembut wanita terdengar di sela ketukan pintu kamar. "Iya, Ma?" sahut Sakura. Di detik berikutnya setelah sahutan terdengar, pintu terbuka. Seulas senyum manis hadir dari wajah yang muncul di ambang pintu. "Sudah selesai belajar?" tanya sang ibu. Dengan senang Sakura mengangguk. "Kalau begitu, minumlah obat dan segera beristirahat," lanjut wanita seraya meletakkan nampan berisi air dan beberapa kapsul. Seperti sudah berteman baik dengan racikan obat-obatan, Sakura nampaknya sama sekali tidak keberatan saat sang ibu memberikannya beberapa butir kapsul setiap hari. Ya, gadis itu sudah bisa menerima kondisinya dengan lapang. "Apa kau bersenang-senang di sekolah?" tanya Hana. Sakura yang baru selesai menelan pil terakhir segera mengiyakan. "Tentu. Sangat menyenangkan saat berada di sekolah," ujarnya. Hana tersenyum. Ia menatap sang anak dengan tatapan lega juga khawatir di saat yang sama. Namun selain rasa senang tidak ada hal lain yang ia tunjukkan di depan Sakura. Tentu, wanita ini sangat paham Bagaimana sulitnya hidup yang anaknya rasakan selama ini. "Kalau begitu pergilah tidur." * Sementara itu, upaya Sakura dalam mendapatkan perhatian dari Haruka masih terus berlanjut di sekolah. Di dalam kelas ia terus mengganggu pria yang duduk di depannya. Meskipun tentu saja pria itu tidak merespon sama sekali. Tak hanya memanggil saat jam pelajaran dimulai. Sakura juga mengganggu dengan menusuk-nusuk punggung Haruka, ataupun melempar pria itu dengan penghapus, beberapa kali ertangkap dan ditegur oleh guru yang sedang mengajar. Tentu saat itu terjadi Sakura hanya tersenyum malu seraya menampilkan deretan gigi, sedangkan Haruka ia memandang Sakura dengan tatapan mengintimidasi, seolah mengancam jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Jingle Bells. Bel istirahat berbunyi. "Haruka," sakura berbisik tepat di telinga. Haruka yang terkejut langsung menoleh, kemudian kembali menunjukkan ekspresi tidak senang. Tanpa menjawab, pria itu langsung beranjak dari tempat duduk, keluar dari kelas. Meski sebal dengan sikap Haruka yang tak acuh, Sakura tetap berusaha mengekor pria dingin yang belum mencair. "Sakura." Belum sempat ia menyusul Haruka yang sudah pergi, seseorang menghalangi langkah Sakura. "Ke kantin yuk," ajak Nami. "Ah, maaf Nami, aku sudah membawa bekal," tolak Sakura halus. "Aku harus pergi," ucapnya lagi seraya meninggalkan Nami. Sakura menengok kanan dan kiri secara bergantian begitu keluar dari kelas. Ia bimbang hendak mengambil arah yang mana, sedangkan Haruka sudah raib dari lorong dan jangkauan mata. Gadis itu berpikir sebentar, kemudian ia menemukan satu tempat di mana Haruka berada. "Dia pasti ke perpustakaan," ucap Sakura bangga, lalu langkahnya melenggang tanpa ragu. Begitu langkahnya masuk ke dalam perpustakaan, Sakura langsung disuguhi dengan pemandangan yang baginya sangat menakjubkan. Sederet rak penuh dengan buku beragam membuat matanya berbinar, ia memang memiliki banyak buku di rumah, tapi tidak sebanyak ini. Dilihatnya satu persatu bagian yang tertulis di setiap rak. Mulai dari bagian sejarah, hingga astronomi. Terkadang ia mengeluarkan satu buku, membaca judul lalu kembali meletakkannya. Saat tiba di bagian seni, tak sengaja ia melihat Haruka dari celah rak yang tersusun, sosok yang membuatnya berlari ke perpustakaan. "Ah, itu dia," ucap Sakura lirih. Gadis itu mendekat perlahan, kedatangan dari arah belakang membuatnya memiliki peluang untuk tidak diketahui oleh Haruka. Dengan langkah yang dibuat sehalus mungkin, Sakura akhirnya sampai di belakang Haruka. Sakura memandangi buku yang tengah Haruka baca. "Blue Bird?" gumamnya tanpa sadar. Sontak Haruka terkejut, ia tidak tahu jika ada orang lain di belakangnya, terlebih orang tidak sopan itu diam-diam membaca bukunya. Dengan segera, Haruka menutup buku miliknya setelah mengetahui Sakura berada di belakang. Ia tak berkata apapun, hanya menampilkan ekspresi malas. Namun, gadis yang mengganggunya terlihat sama sekali tidak merasa jika dirinya mengganggu. Dengan santai, Sakura duduk di sebelah Haruka. "Haruka, kau suka bermain musik?" ucap Sakura antusias. "Sedikit," timpal Haruka sekenanya. Mendengar itu, Sakura semakin bersemangat. Ia merebut buku dari tangan Haruka. Meski pria di sampingnya terus melarang, gadis yang bisa dibilang seperti ekor tetap memaksa membacanya. Mata Sakura berbinar. "Wah, apa kau sedang mempelajari lagu ini?" ucapnya senang. "Oh, tunggu. Jangan-jangan kau mempunyai band?" lanjutnya memastikan. Karena dari apa yang sedang Haruka baca, harusnya ia mempelajari chorus untuk group, bukan seorangan. Akan tetapi, Haruka enggan menjawab, segera ia merebut buku dari tangan Sakura. Tak peduli dan langsung menutup buku lalu memasukannya ke dalam tas. Di menit selanjutnya, pria itu beranjak dari tempat duduk, beralih meninggalkan Sakura yang masih mengajaknya bicara. "Hei Haruka, katakan, apa kau punya band? Hah?" Sakura terus mengekor Haruka. "Apa band milikmu sudah mempunyai vokalis yang keren?" tanyanya seraya berusaha menghalangi langkah Haruka, membuat keduanya menjadi pusat perhatian sepanjang jalan. Haruka yang tidak suka menjadi pusat perhatian menghentikan langkah. "Apakah hal itu penting untukmu?" ucapnya pada Sakura. Dengan cepat Sakura mengangguk, tentu dengan raut wajah yang sangat ingin tahu. Haruka menghela napas sedikit panjang. "Aku tidak punya band dan tidak ada vokalis," tegasnya. Mendengar jawaban Haruka, justeru membuat mata Sakura semakin berbinar. Jika dia masih bocah berusia lima tahun, mungkin saat itu juga ia akan melompat girang. Sayangnya, hal itu tak pantas dilakukan oleh gadis SMA. Sakura menyusul langkah Haruka yang dipercepat. Kemudian ia sedikit berlari untuk mengimbangi di sebelah pria itu. Ia terus menempel pada Haruka, bahkan hingga mereka duduk di kursi masing-masing. "Haruka, apa kau mau membuat band bersamaku?" bisik Sakura lirih dari belakang. Tak tahan dengan ocehan gadis di belakangnya, Haruka berbalik. Ingin menegaskan jika dia tidak suka diganggu seperti ini. Namun saat ia melihat wajah Sakura yang begitu semangat, ia hanya bisa diam, tak tega rasanya jika harus membentak gadis yang terlihat masih sama sejak mereka bertemu sepuluh tahun lalu. "Mau, ya?" tanya Sakura tak menyerah. Haruka hanya menggeleng, kemudian kembali memutar tubuhnya menghadap depan. Detik kemudian, ia memasang earphone untuk mengamankan telinga. Sementara Sakura, ia terus berbicara tak jelas di belakang. Entah apa, Haruka hanya mendengar samar. Namun bukan Sakura namanya jika mau berhenti tanpa pengiyaan. Ia yang merasa diabaikan segera menarik penyumpal dari telinga pira di depannya. "Kau tidak akan menolak, kan?" tanyanya, dengan wajah yang dibuat memelas. Untuk beberapa detik, hanya tatapan yang Haruka berikan. Sebenarnya bukan masalah baginya jika Sakura ingin bermusik dengannya. Hanya saja, kenangan sepuluh tahun silam masih melekat kuat di dalam ingatan. Meski tidak tahu pasti apa yang terjadi saat itu, ia cukup khawatir. "Tidak. Aku sama sekali tidak tertarik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN