"Haruka." Sakura berhenti persis di samping pria dengan kepala yang tenggelam pada lengan. "Hei, Haruka!"
Beberapa saat tak ada tanggapan apapun dari pria di hadapannya. Hanya sebuah helaan napas malas yang terdengar.
Merasa tak mendapat perhatian, gadis itu beralih mendekat. Semula hanya berdiri di samping meja, kini duduk tepat di hadapan Haruka.
"Hei! Jangan pura-pura tidak mendengarku seperti itu," lirih Sakura kesal. Tak cukup dengan ucapan, ia juga menambahkan pukulan.
Berhasil! Dengan pukulan kecil yang Sakura berikan berhasil membuat Haruka mengangkat kepala. Tatapan malas langsung terlihat, terlebih saat gadis yang mengganggunya tersenyum tanpa wajah berdosa.
Sederet gigi tampil dari balik senyum cerah yang mengembang. "Kau masih ingat denganku?" tanya Sakura dengan mata berbinar.
Haruka terdiam sejenak, melihat wajah gadis di depannya sekilas, lalu tak lama menggeleng malas. "Tidak," ujarnya, dan kembali menatap ke luar jendela.
Mendapati jawaban yang dingin, Sakura membulatkan mata tidak percaya. Mungkinkah ia dilupakan setelah sepuluh tahun tidak pernah bertemu? Itu mungkin saja terjadi. Seketika, keraguan menyeruak dalam benak gadis itu. Namun, bukankah ia juga tidak banyak berubah sebagaimana ia mengenali Haruka yang terlihat masih sama?
Tak mau menyerah, Sakura mencoba memperkenalkan diri untuk kedua kali. Mungkin Haruka tidak ingat dengan wajahnya, tetapi jika mendengar nama barangkali ia akan ingat.
Tangan melambai tepat di antara jendela dan wajah Haruka. Sakura mencoba mengambil kembali perhatian dari teman masa kecilnya dulu.
"Aku Sakura. Mizuno Sakura. Kau benar-benar tidak ingat?" tanya gadis yang kini mulai khawatir.
Haruka menatap Sakura beberapa saat. Seolah tengah mengamati dan mengingat apa yang gadis di depannya katakan. Namun setelah sekian detik berlalu, tidak ada satu katapun yang terlontar, kecuali hanya sebuah helaan napas sebagai jawaban. Sepertinya benar kata Nami tadi, ia hanyalah kutu buku yang tidak tertarik untuk bergaul.
Haruka tetap terdiam, bahkan ia terlihat enggan menanggapi jika ada gadis yang tengah mengajaknya bicara.
Belum ingin menyerah, gadis yang masih penasaran terus berusaha untuk mengembalikan ingatan Haruka tentangnya. Sakura yakin, pria di depannya sekarang adalah pria yang sama dengan sepuluh tahun lalu, saat dua perahu kertas dihanyutkan bersama.
"Perahu kertas. Kau pasti mengingatnya, kan?" tanya Sakura. Seolah belum cukup, ia melanjutkan, "Ayolah, Haruka. Aku tidak percaya jika kau melupakannya!"
Namun lagi-lagi, Haruka hanya menunjukkan ekspresi malas, ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang gadis di depannya bicarakan dari tadi. Tak cukup dengan abai, ia mengambil sebuah earphone dari dalam tas, memasangnya di telinga sembari kembali meletakkan kepala di atas meja. Ya, ia mengabaikan Sakura secara jelas dan gamblang.
Atas perlakuan Haruka barusan, sejumput perasaan kecewa hadir di dalam hati Sakura. Ia benar-benar tidak menyangka jika satu-satunya teman yang selalu ia jaga dalam ingatan, kini terlihat sama sekali tidak mengenalinya.
Benarkah Haruka melupakannya, ataukah pria itu hanya malas bergaul dengan orang lain termasuk Sakura?
Gadis yang masih duduk di depan Haruka terdiam sejenak. Entah apa yang tengah ia pikirkan, tetapi netranya menyapu seluruh ruangan. Hingga, pandangannya terhenti pada kursi di belakang Haruka.
"Apa kursi ini kosong?" tanyanya.
Seluruh siswa di kelas mengangguk.
Dengan semangat, Sakura mengambil tas miliknya dan meletakkannya pada kursi kosong di belakang Haruka. Ia akan berusaha untuk mengingatkan Haruka bahwa Sakura adalah teman masa kecilnya. Meskipun, ia sendiri tidak yakin dengan perlakuan pria itu. Namun kendati begitu, ia tetap ingin melakukannya. Terlalu berharga kenangan sepuluh tahun silam untuk dilupakan.
Sementara Sakura memindahkan tas miliknya, siswa yang melihat tingkah gadis itu merasa semakin heran, bisa-bisanya gadis secantik dirinya mau menempel pada siswa kuper seperti Haruka.
"Apa sekarang gadis cantik tidak tertarik dengan pria menawan?" keluh salah seorang siswa di ujung sana.
*
Pagi datang di musim semi yang sama.
"Haruka!"
Sakura berteriak dari seberang jalan penyeberangan, menatap seraya melambaikan tangan pada sosok yang perlahan melenggang, pergi tanpa menoleh.
"Haruka! Ish," panggil gadis itu lagi seraya berkali-kali melihat lampu lalu lintas yang terpasang di puncak tiang.
Detik berikutnya lampu berganti warna, mengganti warna merah pada gambar pejalan kaki menjadi hijau, tanda kendaraan harus berhenti. Di saat yang sama, Sakura langsung berlari menyusul Haruka yang sudah pergi lumayan jauh.
Namun, belum genap dua menit Sakura berlari, tekanan dalam dadanya mulai terasa berat. Sepertinya jantung miliknya belum stabil, meskipun ia sudah melakukan operasi berkali-kali. Namun aktivitas sedikit berat belum bisa diterima oleh jantung miliknya.
Gadis itu menghirup napas dalam, mencoba menstabilkan napas yang tidak beraturan. Sedangkan tangannya menepuk keras d**a yang terasa tersekat. Hingga tiba-tiba seseorang menarik Sakura dari tengah jalan, lalu mendudukkannya di salah satu kursi yang sedikit basah karena gerimis pagi tadi, menepuk-nepuk punggung Sakura, mencoba membantu gadis itu untuk mengambil napas. Tak lama, napas Sakura kembali stabil.
Beruntung, setelah beberapa saat napas Sakura lebih tenang. "Terima kasih," ucap gadis itu tanpa menoleh, karena tangannya masih sibuk mengurut d**a.
Sementara orang di sebelahnya tidak memberi jawaban, diam sepanjang jeda yang Sakura berikan.
Khawatir orang yang menolongnya sudah pergi, Sakura menoleh memastikan. Namun begitu ia melihat pria di sampingnya, kedua mata gadis itu membulat. "Haruka?" ucapnya tak percaya.
Akan tetapi, keterkejutannya hanya berlangsung sesaat. Sebab setelahnya sebuah helaan napas lega keluar dari bibir Sakura. "Ah, syukurlah aku bisa mengejarmu."
Mendengar itu, dahi Haruka mengernyit. Namun tak ada sepatah katapun yang ia berikan. Ia hanya memandang Sakura dengan raut yang, entah. Antara khawatir dan bingung sepertinya.
"Ish!" Sakura memukul lengan pria di sampingnya. "Apa kau benar-benar lupa padaku?" ujarnya dengan wajah yang dibuat merajuk.
Melihat tingkah Sakura, untuk pertama kalinya akhirnya Haruka tersenyum. "Syukurlah kau baik-baik saja."
Deg! Hawa panas mengalir deras menuju pipi Sakura yang perlahan memerah. Apakah baru saja Haruka mengkhawatirkannya? Tunggu, ini bukan saatnya untuk tersipu. Ia menggeleng kuat.
"Kau tidak benar-benar melupakanku, kan? Jahat sekali!" ucap Sakura, merajuk seraya berusaha menutupi wajah yang merona.
Namun lagi-lagi, Haruka tak menimpali. Seakan satu kata sangat mahal untuknya.
Takut terlalu, keduanya beranjak, bel sekolah yang hampir berbunyi membuat mereka harus bergegas. Di perjalanan yang sudah tak terlalu jauh dari sekolah, Haruka masih dalam mode hening, tak mengeluarkan sepatah katapun meski gadis di sampingnya terus mengeluarkan suara, sibuk bertanya ataupun bercerita pada Haruka. Gadis yang sangat ceria dan aktif.
"Haruka, kau mendengarkanku?" ucap Sakura saat mendapati tak ada respon satupun yang diberikan Haruka.
Namun lagi-lagi, Haruka tidak bergeming. Ia masih saja tak menanggapi satupun celotehan Sakura. Bahkan ia memasang earphone untuk menunjukkan bahwa dirinya tak ingin diajak bicara.
Sakura kembali menunjukkan wajah merajuk setelah mendapati tanggapan sarkas tanpa kata. "Kau harusnya lahir di musim dingin," ucapnya seraya terus berusaha mengimbangi langkah Haruka yang dipercepat.