(10 tahun berlalu, musim semi ke-16)
"Pakai jaketmu dengan benar!"
Sebuah teriakan dari dalam menghentikan langkah seorang gadis yang baru saja keluar. Ia memeriksa pakaian tebal di tubuh, lalu segera berteriak saat dirasa sudah dikenakan dengan benar.
"Ya. Aku tahu, Ma," ucap gadis berusia enam belas tahun tanpa menoleh.
*
Bunga plum yang gugur bersamaan dengan seragam sekolah yang terlepas. Kelopak sakura mekar di satu waktu dengan seragam yang terganti.
Ini adalah musim semi terakhir bagi Haruka sebagai siswa SMP, tetapi di waktu yang sama, bunga sakura kali ini adalah musim semi pertamanya menjadi siswa SMA. Musim semi yang hangat, telah mengantarkan seorang anak pada tangga selanjutnya.
Di depan gerbang sekolah, ramai siswa berjalan masuk. Bagi mereka sebagai siswa baru, hari pertama masuk sekolah adalah momen paling membahagiakan dalam hidup. Masa SMA, adalah masa yang hijau seperti daun sakura sebelum gugur, usia yang sangat tepat untuk menciptakan kenangan yang hangat.
Wajar, jika banyak dari mereka yang sangat menantikan masa SMA. Katanya, ini adalah saat yang terbaik untuk berteman, bermain, atau bahkan merasakan getaran dalam hati. Bisa juga dibilang ini adalah awal musim merah muda di sepanjang hidup.
Masa yang menyenangkan, bukan? Mungkin itulah yang dilihat banyak orang dari kejauhan. Musim semi di bawah akan nampak sangat hijau, bila mata memandang dari puncak bukit tertinggi. Namun, pada kenyataannya tidak. Ada banyak sekali warna yang bisa ditemui, bahkan meskipun ini musim semi, malam akan tetap bersama dengan gelapnya.
Itulah mengapa ... at a distance, spring is green.
Lorong sekolah pagi ini penuh, para siswa baru saling berebut melihat papan pengumuman di kelas mana mereka ditempatkan. Ada yang bersorak senang, ada pula yang memasang wajah tak suka. Begitu pentingkah sebuah kelas bagi mereka?
Di antara banyaknya siswa yang berdesakan, ada beberapa anak yang tidak suka repot tetap memilih untuk menunggu di belakang. Alasannya sederhana, mereka tak ingin berebut hal yang bisa dilihat nanti. Salah satu dari mereka adalah Taguchi Haruka.
Bocah lelaki lima tahun yang sempat kita temui, kini telah menjadi pria berusia remaja. Jika dulu ia memiliki wajah bulat menggemaskan, kini sudah terganti dengan raut yang memancarkan ketampanan. Ada banyak yang berubah dari anak itu, wajahnya bahkan rambutnya. Untuk senyumnya, belum ada yang tahu apakah masih sehangat dulu, karena sejak ia terlihat di sini, sabit di bibirnya belum melengkung sama sekali. Ia belum tersenyum.
Langkah Haruka terhenti di depan papan pengumuman saat lorong itu sudah sepi. Matanya menyapu seluruh papan dari kiri hingga kanan. Satu persatu kertas ia baca, barangkali ada namanya di salah satu kelas, itu yang terpenting. Ternyata memang ada, nama Taguchi Haruka tertulis sebagai siswa di kelas sepuluh sains B.
Setelah menghela napas sedikit panjang, Haruka berlalu menuju kelas di mana ia harusnya berada. Tak jauh dari lorong, Haruka berhasil menemukan kelas sepuluh sains B.
Suasana sangat ramai begitu Haruka masuk. Bukan karena kedatangannya, tetapi memang keadaan sudah seperti itu sebelumnya. Di antara sumber keramaian adalah, banyak sekali siswa yang berkerumun mengelilingi satu meja. Entah siapa yang di sana, sepertinya pria ini tidak tertarik untuk tahu.
Kali ini, tujuannya hanya satu, yakni menemukan tempat duduk yang nyaman. Seperti kursi kosong di sudut paling belakang.
Namun belum sempat ia menyamankan posisi duduk, seseorang telah lebih dulu mencegah.
"Eits, angkat kembali tasmu," ujar seorang siswa bertubuh gempal. "Ini kursiku," lanjutnya dengan wajah garang, seperti tidak ada kata penolakan yang bisa ia terima.
Mendapati hal tersebut, Haruka hanya menghela napas panjang. Ia yang tidak ingin terlibat masalah langsung beralih, mencari kursi kosong lain yang bisa ditempati. Dapat. Kali ini pria itu menemukan satu kursi kosong di tepi jendela, cukup nyaman jika ia tengah merasa bosan.
Haruka meletakkan tas dan duduk, matanya diarahkan ke luar, tidak tertarik untuk berkenalan seperti yang dilakukan teman kelasnya. Ia menghela napas berkali-kali, sepertinya ia tidak begitu suka dengan situasi seperti ini. Oh, ataukah ia masih kesal karena kursi di sudut belakang sudah ditempati?
Sementara itu, tanpa ada yang menyadari seseorang sedari tadi memperhatikan Haruka dari balik kerumunan. Ia adalah siswa yang tengah menjadi pusat perhatian. Sejak Haruka masuk, sosoknya tak pernah lepas dari pandangan siswa itu.
Seorang gadis yang langsung terpaku heran melihat Haruka duduk dan langsung membuang muka. Tidak seperti siswa baru yang antusiasme dengan lingkungan anyar. Apakah ia tidak penasaran dengan teman-teman di kelasnya?
"Sakura, apa kau dengar kami?" tegur salah seorang siswa, menyadarkan seorang gadis dari pria yang kini meletakkan kepala pada meja di tepi jendela.
Gadis itu menoleh, tersenyum manis seraya bertanya apa kalimat yang sedari tadi ia lewatkan. Melihat pria yang tidak asing, membuat Sakura teralihkan dari teman-teman yang lain.
Benar, siswa baru yang tengah menjadi pusat kerumunan adalah Mizuno Sakura. Seorang gadis kecil yang kita temui sepuluh tahun lalu.
"Ah, itu ... apa kalian tahu dia siapa?" ujar Sakura seraya menunjuk tempat di mana Haruka duduk.
Sontak, semua teman yang bersamanya menggeleng. Kecuali satu, seorang gadis berambut sebahu yang langsung menimpali. "Dia Haruka, kami satu SMP dulu," jelasnya singkat. Di detik berikutnya ia melanjutkan, "tidak kusangka dia akan masuk ke sekolah ini," ujar gadis itu dengan senyum kecil yang sulit diartikan.
Berbeda dengan anak-anak lain yang nampak tidak peduli, Sakura justeru nampak sangat senang. Matanya berbinar. "Jadi kau mengenalnya?" tanyanya pada Nami.
Gadis dengan rambut sebahu di hadapannya mengangguk, mengiyakan tapi selanjutnya mengangkat bahu ragu. "Entahlah, aku bahkan tidak pernah berbicara dengannya. Tunggu, kau tidak tertarik padanya, kan?"
Sakura terdiam beberapa saat. Tanpa sadar ia tersenyum. "Bisa jadi, bukankah ia tampan?" ujarnya, tidak peduli dengan reaksi berlebihan dari teman-temannya.
"Ayolah, Sakura. Percaya padaku dia hanya anak kutu buku yang tidak tertarik untuk bergaul," sambung Nami sedikit berbisik.
Meski Nami terus mengatakan agar Sakura tidak berusaha mendekat pada Haruka, tapi gadis itu sepertinya tidak mendengarkan. Matanya masih sibuk menatap pria di tepi jendela tanpa berkedip. Bahkan, kini ia merasakan kehangatan musim semi menyentuh sampai dalam hatinya.
Mungkin bagi teman-teman yang lain, ketertarikan Sakura terhadap siswa antisosial adalah hal yang tidak masuk akal. Terlebih, siapa yang akan tertarik hanya dengan pandangan pertamanya? Namun yang tidak seorangpun tahu, bahwa ada benang yang kembali terikat di antara keduanya.
Musim semi benar-benar datang seperti takdir. Sakura tersenyum tanpa ingin menyudahi tatapannya pada Haruka.
Perahu kertas, bukankah ia sudah sampai sepuluh tahun yang lalu?