Bab 18

1097 Kata
3 hari menjelang launching parfum di Bali. Daska sudah berada di pulai dewata ini untuk menyiapkan segala urusan acara megahnya, termasuk Jeva dan juga Belva. Ketiganya sedang terlibat rapat penting di sebuah restaurant bernuasa Jawa, membicarakan terkait persiapan pesta. Makanan, tempat,dekorasi,tamu undangan dan sebagainya yang hampir mencapai 100%, tinggal pembahasan mengenai hal hal kecil seperti hadiah maupun kejutan kecil di pesta nanti. "Bagaimana kalau pesta topeng?" usul Belva ceria, perempuan itu memang menyukai segala hal berbau disney. "Ini bukan pestanya anak ABG. Ide konyol apa apaan itu!" tolak Daska mentah mentah. Membuat Belva memanyunkan bibirnya tak perduli dengan tatapan 2 orang lainnya, kecuali Jeva yang sibuk menatap berkas berkas dihadapannya. "Bagimana kalau pesta dansa?" usul Mbak Weni dari bagian pemasaran. "Itu sudah biasa. Kita harus membuat sesuatu yang lebih istimewa lagi," tolak Daska lagi. "Bagaimana kalau Find Me?" ujar Jeva setelah sebelumnya hanya menyimak. "Maksudmu?" tanya Daska tak mengerti. "Kita akan melakukan permainan, Find Me. Para perempuan di pesta harus menggunakan parfum milik kita, kemudian di tengah tengah pesta kita akan mematikan semua lampu kecuali penerangan untuk berjalan saja. Pihak lelakilah yang harus menemukan para wanitanya. Hanya untuk 7 pasang sesuai dengan 7 aroma yang kita miliki. Hitung hitung sebagai bentuk promosi kalau parfum kita bisa tahan lama dan juga mempunyai wangi yang khas," jelas Jeva panjang lebar. "Menarik sekali!" seru Belva. "Tapi bagaimana kita menentukan 7 pasang tersebut?" "Kita bisa mengundinya. Lewat kertas, jadi transparan dan para tamu undangan bisa lebih percaya," sahut Mbak Weni. "Iya.Saya setuju!" sahut Pak Lubis membenarkan usul Jeva dan juga Mbak Weni. "Baiklah. Saya juga setuju," ucap Daska kemudian. "Segera urus segala keperluannya. Laporkan padaku paling lambat besok pagi," imbuhnya sebelum beranjak meninggalkan ke 4 orang yang masih sibuk membahas masalah eksekusi ide Jeva. Daska dengan setelah kasualnya melangkah santai menuju pintu keluar rastaurant. Dengan paduan kaos v-neck warna putih serta celana warna hitam membuat penampilan pria itu berbeda dari biasanya. Earphone warna hitam ditelinga kirinya, juga kacamata hitam menggantung di kaosnya. Rambut pria itu juga di tata asal namun malah terlihat seksi. "Yak... Tuan Wenas!" panggil Katnish saat melihat Daska keluar dari restaurant. Ya salam. Baru saja dia memuji cerahnya siang hari ini karena bisa berlama lama menatap wajah ayu Jeva. Sekarang malah mendung menghampirinya tiba tiba... Daska hanya melihat sekilas dan dengan malas berdiri dihadapan wanita itu. "Apa ini? Sudah lebih dari 5 tahun dan kau masih saja dingin padaku. Bukankah sikapmu ini sangat berlebihan," cibir Katnish pura pura kesal. "Kenapa kau ke Bali?" tanya Daska tanpa memperdulikan kalimat sindiran dari wanita itu. "Hehm... bukankah kau sudah mendengar alasannya dari informanmu. Kenapa bertanya lagi?" "Karena aku bukan orang bodoh makanya bertanya. Bohong kalau tujuanmu kesini hanya untuk pekerjaan apalagi sekedar menyapaku," ucap Daska dingin. "Welll... kau sama sekali tidak berubah," ujar Katnish tersenyum tipis. "Aku merindukanmu. Aku melintasi samudera hanya untuk melihatmu. Setidaknya kau bisa menghargai usahaku kan, makan sianglah bersamaku." "Aku sudah makan dan aku sibuk," sahut Daska tetap dengan nada dinginnya. "Hei.... Kau bisa meluangkan waktumu sebentar untukku kan. Ayolah Das, hargai hubungan kita dulu," bujuk Katnish meraih lengan kanan pria itu. "Lepaskan tanganmu sekarang juga," geram Daska "Kau perlu tahu kalau waktuku terlalu berharga untuk dibuang buang apalagi itu untukmu." "Wah. Sepertinya ucapanmu semakin kurang ajar saja." "Kalau sudah tahu, kenapa tidak menyerah saja?? Obat di apotek tidak akan cukup untuk mengobati perih dihatimu akibat racauan pedasku," balas Daska dengan kejam. Katnish mencoba mengabaikan ucapan pedas Daska barusan,sudah kepalang tanggung untuk jadi wanita pemalu. Sebut saja dia murahan, Katnish tidak perduli dengan itu. "Aku tidak akan menyerah. Sepertinya kau sibuk, kita bicara lagi lain kali," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Daska yang memaki sifat keras kepala perempuan itu. Jeva melihat semua percakapan Daska dengan wanita yang kata Belva mantan kekasih pria itu saat SMA. Jeva tahu, kalau wanita cantik itu seorang model. Bisa dilihat juga dari tubuh proporsionalnya, gaya penampilannya yang senilai jutaan dollar, make up tebal namun terasa pas walau bukan di suasana formal. "Kalau difikir-fikir, Katnish itu calon istri idaman lho. Bang Denta saja sempat menyukainya," ujar Belva tiba tiba, ikut mengamati interaksi antara Daska dan juga Katnish tadi. Jeva terlihat tertarik. "Denta pernah menyukainya?" tanyanya. Belva sedikit heran karena respon yang diberikan Jeva barusan. "Ya.. begitulah, tapi Katnish lebih memilih Daska daripada Bang Denta," jawabnya tak acuh, menutupi keheranannya sebaik mungkin. "Kenapa? Denta berada di level yang sama dengan Daska, 'kan?" tanya Jeva lagi. "Aku juga tidak tahu. Kau tanya sendiri saja pada Denta, sepertinya dia mengetahuinya," sahut Belva. "Sudahlah. Jangan membahas kisah cinta mereka, membuat perutku mual saja," cibirnya. "Ayo jalan-jalan," ajaknya lalu menyeret tangan Jeva agar mengikutinya. Belva dan Jeva sedang menikmati es kelapa segar dipinggir pantai kala sosok Denta menyapa mereka dengan tengil. "Hei, cantik!" teriak pria itu memamerkan senyum andalannya. "Kenapa Bang Denta ada disini?" tanya Belva heran, sama seperti Jeva. "Hehehe... Aku meliburkan diri. Yah, suasana Jakarta yang penat sungguh membuatku frustasi," sahut Denta asal. Kemudian dengan tidak tahu malunya duduk merapat ke arah Jeva, berkedip genit sebelum meneguk es kelapa milik wanita itu. "Dasar! Papa tidak memarahimu?" tanya Belva. "Tentu saja marah. Tapi aku bilang saja, kalau aku ke Bali untuk menjagamu dan... Boom, Papa langsung memberiku izin," balas Denta tersenyum sumringah. "Sial. Kau senang sekali setelah menjual namaku," cibir Belva ketus. "Btw. Kenapa kau diam saja? Kau tidak merindukanku. Aku hampir semingggu tidak menemuimu," sapa Denta menoleh kearah Jeva, berkedip genit kepada wanita itu. "Kenapa Katnish lebih memilih Daska daripada kau?" tanya Jeva tiba tiba, membuat Belva tersedak air liurnya sendiri sedangkan Denta menatapnya kaget. "Kau bilang apa?" tanya Denta memastikan,siapa tahu penerbangannya tadi membuat telinganya terganggu. "Kenapa Katnish memilih Daska dan mengabaikanmu?" ulang Jeva masih dengan nada tenang serta raut datarnya. "Yak! Kau menceritakan kisah cintaku pada Jeva," bisik Denta menyenggol kaki Belva "Aku tidak menyangka kalau dia benar benar bertanya padamu," balas Belva juga berbisik. "Bel, bisa tinggalkan kita berdua," pinta Jeva menoleh kearah Belva. "Hah? Eh... Oke," ucap Belva terbata, kemudian beranjak pergi meninggalkan dua orang itu. Dua orang itu hanya terdiam begitu Belva melipir pergi. "Jadi kenapa?" tanya Jeva sekali lagi. "Well. Mungkin karena Daska lebih tampan,lebih kaya, lebih segalanya," sahut Denta tak acuh. Pria itu kemudian berganti posisi duduk di tempat Belva tadi, menghadap Jeva sepenuhnya. "Kalau aku tidak mengenalmu, aku pasti akan langsung percaya dengan bualanmu itu," cibir Jeva "Kau belum mengenalku, Jev," balas Denta tersenyum miris, membuat Jeva bungkam seketika. Denta beralih menatap deburan ombak pantai saat mengatakan,"Entahlah, aku lupa kenapa saat itu Katnish menolakku dan justru menerima Daska." Kembali, Denta menatap raut wajah serius Jeva. "Itu sudah lama. Otakku akan rusak kalau kau memaksaku untuk mengingatnya," keluh Daska memasang tampang memelas. "Kau masih mencintai Katnish?" tanya Jeva tiba tiba, masih dengan raut serta nada serius yang sama. Dan lagi lagi pertanyaan tersebut membuat Denta berjengit kaget. "Mencintai seperti dulu sih, tidak. Tapi tertarik dengannya, itu mungkin," jawab Denta jujur "Kenapa bertanya?" tanya pria itu kemudian. Jeva tersenyum sejenak. "Hanya penasaran."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN