Bab 17

1028 Kata
Hidup Daska memang tak setentram seperti sebelum dia mendengar kabar kedatangan mantan kekasihnya. Buktinya sekarang, saat dia keluar dari ruangan keesokan harinya. Perempuan itu sudah menunggunya, dengan raut kesal dan marah. Well, sepertinya sambutan yang diberikan oleh Belva sukses membuatnya emosi. Daska melewati saja dua perempuan yang adu urat itu, melangkah cepat cepat meninggalkan area yang menurutnya danger. "Daska!" panggil Katnish begitu melihat sosok Daska melintasinya. "Ada yang ingin ku katakan padamu," ujarnya berusaha mensejajarkan langkahnya dengan milik Daska. "Apapun yang akan kau katakan? Simpan saja untukmu sendiri," ucap Daska datar, pria itu bergegas mendahului sang wanita. "Jangan terlalu kejam padaku. Hubungan kita tidak seburuk ini saat bersama beberapa tahun yang lalu." Mendengar itu Daska menghentikan langkahnya sejenak. "Apa itu yang ingin kau katakan?" "Sudah waktunya jam makan siang, kita bicara sambil makan saja," ujar Katnish lalu tanpa segan merangkul lengan pria itu. ***** Sementara Daska harus menahan emosi dengan menuruti permintaan dari Katnish, Belva justru sibuk menggosibkan tentang pra itu pada Jeva di kantin kantor. Perempuan itu sedikit penasaran dengan respon Jeva saat pembahasan mengenai 'masalalu' Daska terungkap. "Pasti sekarang dia sedang makan siang dengan Mak Lampir itu," dengkus Belva seraya menyendok nasi bakar pesanannya. Perempuan itu dengan menggebu-nggebu menceritakan mengenai kedatangan Katnish ke Indonesia, bahkan mengenai kisah cinta Daska dan Katnish saat SMA dulu. Niat sekali bukan? "Kau terlihat seperti perempuan yang mencemburui kekasihnya," respon Jeva santai begitu cerita itu usai. Ck. Apa apaan ini? Seharusnya itu dialogku, 'kan? "Jev..." "Bisakah kita tidak usah membahas pria itu. Hidupku cukup nyaman karena hampir seminggu dia tidak mengangguku, jadi biarkan seperti itu dulu ya. Plis," mohon Jeva. Belva menatap sebentar raut memohon sahabatnya itu. "Baiklah. Kita bahas yang lain saja. Ngomong-ngomong, kau akan ikut acara pelaunchingan parfum yang akan diadakan di Bali kan?" tanyanya mengubah topik. "Sepertinya begitu, Bu Mega tidak bisa hadir karena jadwalnya bentrok. Jadi aku yang harus menggantikannya," jawab Jeva kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. "Kau juga ikut kan?" tanyanya balik. "Tentu saja. Daska sinting itu pasti... Oh, Astaga... maksudku, Bosku tentu akan sangat senang kalau merepotkan aku. Sudah pasti aku akan sangat diperlukan," ucap Belva terbata bata. Jeva tertawa melihat raut panik di wajah Belva. "Tidak seperti itu juga, Bel. Hanya tidak usah membahas tentang Daska saja, bukan tidak boleh menyebutkan namanya," kekeh perempuan itu. Belvapun tertawa pada akhirnya. ***** "Ayo kita mulai kembali," ujar Katnish memulai, mereka sama sekali tak ingin membuang waktu bahkan hanya untuk menunggu makanan datang. "Cih." Daska berdecih pelan. "Hubungan apa yang kau maksudkan? Kau tidak mencintaiku jadi omong kosong apa in--" "Kau juga tidak perduli dengan cinta," potong Katnish. "Hubungan kita ini akan menguntungkan satu sama lain. Wenas grup dan Ge grup akan ber--" "Kau memang benar, aku tidak perduli dengan cinta," balas Daska sarkas. "Das, ini sudah lebih dari 5 tahun. Apa kau tidak bisa mengurangi rasa bencimu padaku? Aku bahkan tidak tahu kenapa kau membenciku," keluh Katnish nyaris frustasi. "Justru karena ini sudah lebih dari 5 tahun, kenapa kau belum juga menemukan pria lain yang bisa kau ganggu? Sikapmu inilah yang sangat ku benci," jawab Daska telak. "Aku sudah mencari pria lain. Tapi tidak ada yang sepertimu." "Ada, tentu saja. Kau hanya tidak menerima fakta itu." Sial! Pria kitu benar. Sebenarnya banyak sekali pria yang tampan dan kaya raya seperti Daska, pacar pertamanya ini. Hanya saja dia belum menerima fakta bahwa dalam hubungan mereka, dia satu satunya pihak yang masih berharap pada hubungan lama mereka. Maka dari itu Katnish akan berusaha semampunya untuk merealisasikan harapan itu. Mereka harus kembali bersama. "Aku akan melakukan apapun. Termasuk menandatangani surat pranikah. Fikirkan secara logis Das, jika kita menikah nanti, kau akan sangat diuntungkan karena aku anak tunggal. Saham yang akan kau dapatkan." "Well, aku punya banyak saham yang cukup untuk menghidupiku sampai aku mati. Jadi kau tidak usah repot repot," ucap Daska dingin. "Aku ada rapat. Nikmati makan siangmu." Pria itu kemudian meninggalkan Katnish sendirian. ***** "Bagaimana pertemuanmu tadi?" tanya Belva begitu melihat sosok Daska keluar dari lift, perempuan itu mengikuti Daska hingga masuk ruangan karena belum mendapat jawaban dari pertanyaannya barusan. "Das, kau mendengarku, 'kan?" desak Belva kemudian duduk disamping pria itu. "Untuk apa menanyakan hal yang sudah kau ketahui," balas Daska menoleh ke samping. "Hahahahha," tawa menyebalkan dari Belva kontan mengudara. "Jadi dia memintamu kembali padanya. Wah, lalu apa jawaban dari Tuan Wenas ini? Apa dia menerimanya?" celoteh Belva layaknya seorang reporter infotaimen. "Tentu saja aku menolaknya," balas Daska sengit. "Itu bagus. Ngomong-ngomong, tadi aku memberitahu Jeva kalau mantan kekasihmu datang menemuimu," ucap Belva kemudian. "Tebakanku dia pasti terlihat biasa saja," cibir Daska tepat sasaran. "Begitulah.Tapi yang mengusikku, bukan itu. Sikapnya ada yang aneh," ucap Belva menatap Daska dengan serius. "Sikapnya yang mana?" tanya Daska. "Dia memintaku untuk tidak membahasmu. Dia bilang hidupnya sudah cukup tenang karena kau tidak menganggunya selama hampir seminggu ini." "Ah, itu benar. Acara launching parfum sungguh menyita perhatianku," gumam Daska pelan. "Lalu letak anehnya dimana? Bukannya itu normal." Yap. Jevara mengabaikan seorang Daska tentu sudah hal biasa. "Entahlah, tapi aku merasa ada yang aneh saja. Seperti, dia sedang menutupi perasaannya. Dia sedang menentang perasaannya, yaa... kau tahu... Dia sudah terbiasa dengan segala bentuk gangguan darimu, tapi tiba tiba kau tidak mengabarinya selama hampir seminggu. Seperti itu... kau mengertikan...," jelas Belva panjang lebar. "Dia mulai...." "Hehm. Dia mulai terbiasa dengan kehadiranmu, jadi dia sedikit kesepian saat kau tidak mengganggunya." "Benar seperti itu? Teorimu sangat tidak bisa di percaya," cibir Daska sangsi. "Yak. Aku ini perempuan, aku tahu sekali soal teori itu," sahut Belva ketus. "Ini berita bagus, 'kan? Setidaknya ada sedikit kemajuan." "Semoga saja." Dan Daska mengaminkan doa Belva tersebut. ***** Suasana malam kota Jakarta sungguh memukau mata, angin yang berderu lirik menyapu dengan lembut kulit mulus Jeva, menerbangkan beberapa helaian rambut yang tidak ikut serta terikat. Perempuan itu tengah menikmati ribuan lampu pusat ibu kota di atas rumah atap yang dia tempati. Duduk bersila di bangku persegi selebar 2 x 2 meter. Menatap ke langit yang dipenuhi jutaan bintang namun dengan kedua mata yang menutup sempurna. Perasaan ini? Lagi lagi perasaan aneh ini? Selalu hadir hampir selama seminggu ini? Saat pria itu berhenti mengusiknya. Kangen? Ini bukan rasa rindu, 'kan? Apa sebutannya kalau kau begitu kesepian, kau merindukan sesuatu yang kau benci, merasa takut kalau waktu yang sudah kau lalui bersamanya tak akan terulang kembali? Jeva merindukan pria itu. Benarkah? "Aku merindukanmu," kekeh Jeva kemudian tertawa miris. Teringat dengan percakapannya dengan pria yang sedang dia rindukan. Raut kecewa pria itu, sedikit mengusik hatinya. Bertanya tanya dalam hati, apakah pria itu marah padanya? Apakah pria itu tidak ingin menemuinya lagi? Tidak ingin 'mengusik' hatinya lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN