Bab 16

951 Kata
Mentari pagi menyambut para penghuni bumi yang memulai aktivitasnya masing-masing. Termasuk Daska yang beberapa hari ini disibukkan dengan kegiatannya launching produk parfum terbaru dari Wenas Brand. Daska memasuki ruangnya setelah sebelumnya meminta Belva menyiapkan persiapan rapat untuk siang hari itu. Rapat penting mengenai persiapan acara launching produk parfum, kerjasama Wenas Groub dengan perusahaan Adhyasta. "Persiapan rapatnya sudah selesai?" tanya Daska pada Belva yang berdiri di hadapannya. "Sudah, Pak." "Kalau begitu suruh semua manager yang terlibat tender itu, ke ruang rapat sekarang juga. Setelah aku menyelesaikan berkas-berkas ini, aku akan menyusul," perintah Daska tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-bekas dihadapannya. "Baik, Pak." 15 menit kemudian, Daska baru memasuki ruangan rapat yang sudah diisi setidaknya 20-an orang. Termasuk Belva yang bertugas sebagai notulen. "Baiklah. Saya tidak ingin berbasa basi lagi, minggu depan kita akan mengadakan launching parfum terbaru kita yang berkolaborasi dengan perusahaan dari Adhyasta Groub. Saya ingin semua kepala bagian menginformasikan perkembangannya masing-masing. Dimulai dari bagian pemasaran," perintah Daska dengan wibawanya. "Terimakasih sebelumnya. Perkembangan dibagian pemasaran sejauh ini mencapai 70%, kami BLA BLA BLA ..." Drdrdrdrdrtttt drdrdrdtttttt Belva melirik ponsel pintarnya yang bergetar pelan, muncul notif salah satu aplikasi chat dilayar ponselnya dengan id pengirim Prasta alias kekasihnya. Jemari wanita itu dengan perlahan meraih ponsel tersebut, membawanya ke bawah meja agar Daska tidak dapat melihatnya bermain ponsel. Dengan cepat dia menyentuh layar ponselnya agar notif tersebut terbuka. From : Prasta Text : Ada masalah!!! From : Belva Text : Apa? Kau merindukanku? ^_^ From : Prasta Text : Kalau itu sudah pasti... T_T. Dan aku nyaris frustasi karena tidak bisa menyelesaikan masalah terbesarku itu. Tapi masalah yang aku maksud bukan itu, Sayang! From : Belva Text : Lalu apa? From : Prasta Text : Katnish pulang! Dia baru saja mengunjungi kantorku. Katanya dia baru melakukan pemotretan di Jeju, karena dia tahu aku berada di Korea jadi dia sekalian mampir. Dia juga mengatakan padaku kalau dia akan mengunjungi Daska setelah acara pemotretannya di Bali! Mungkin dia sekarang sudah ada di pesawat. "APA!" teriak Jeva terlonjak dari kursinya sendiri. Teriakan wanita itu nyaris membuat semua orang yang berada di ruang rapat itu berjengit kaget. Kecuali Daska yang duduk di ujung meja, pria itu hanya menatap tajam Belva dengan alis terangkat. Wanita yang ditatap itu tentu saja hanya bisa nyengir tanpa merasa bersalah. "Nona Belvara! Kalau kau memang tidak bisa berkonsentrasi lagi dengan pekerjaanmu. Lebih baik kau mengirimkan surat pengunduran dirimu ke mejaku sekarang juga!" tegur pria itu sadis. "Dasar b*****t!" maki Belva dalam hati. "Maaf, Pak," ucap Belva tersenyum sopan. "Lanjutkan rapat ini!" perintah Daska tegas. Belva meraih ponselnya di atas meja, dengan sembunyi sembunyi wanita itu mengetik pesan untuk Daska. From : Belva Text : SIALAN! Kalau kau tahu apa yang membuatku shock tadi,kau pasti tidak akan berani memakiku. Si Mak Lampir Katnisha sebentar lagi akan mengunjunginmu, jadi tunggu saja penderitaanmu. kirim. Daska hanya melirik Belva bingung saat melihat notif sosmed di ponsel pintarnya. Belva memberi kode pada pria itu agar membaca pesan darinya. Wanita itu kemudian mengetik lagi pesan kedua. From : Belva Text : Katnisha Genadi! Perempuan sinting yang yang tergila gila padamu sejak SMP. Pacar pertama sekaligus cinta pertamamu, kau merindukannya, 'kan? ;-p. Cih! Hidupmu pasti akan lebih menarik hahahahha. kirim. "APA!" Kali ini teriakan menggelar itu datangnya dari mulut Daska, pria itu memandang ngeri layar ponselnya. Kemudian menatap wajah mengejek milik Belva. "Maaf, tapi rapat hari ini saya tunda dulu, kita lanjutkan lagi besok pagi," perintahnya secara sepihak tanpa perduli dengan tatapan heran dari para bawahannya. Tanpa mengatakan apapun, satu persatu bawahan Daska meninggalkan ruangan hingga menyisakan mereka berdua-Daska dan Belva-. Belva dengan tenang duduk di kursinya, sedangkan Daska langsung beranjak mendekati wanita itu setelah memastikan pintu tertutup rapat. "Yak! Apa maksudmu?" desak Daska duduk di samping Belva. "Pesa Lin* ku sudah menjelaskan semuanya, 'kan? Kenapa bertanya lagi?" balas Belva tak acuh. "Bukankah dia menetap di Milan? Untuk apa perempuan sinting itu kembali ke Indonesia?" cerca Daska heran bercampur kesal. "Kata Prasta dia ada pemotretan di Bali. Jadi dia akan mengunjungimu sekalian." "Mengunjungiku atau mengacaukan hidupku," gumam Daska kesal. "Damn! Cobaan apalagi ini ya Tuhan," keluhnya dramatis. Pria itu bergidik ngeri membayangkan betapa suram kehidupannya nanti apabila perempuan sinting itu kembali lagi ke hidupnya. "Nikmati sajalah. Mungkin dia hanya beberapa hari tinggal di Indonesia, kau 'kan bisa menghindarinya. Bilang saja kalau kau sibuk, ada tugas di luar kota atau sekalian saja bilang kalau kau sudah dijodohkan," celoteh Belva asal. "Kau seperti tidak mengenal Katnish saja. Dia bahkan pernah membuat anak orang hampir bunuh diri hanya gara gara melihat orang itu tersenyum padaku. Wanita gila itu pasti akan terus menempel padaku." Belva mengerutkan dahinya berfikir keras. "Bagaimana kalau kau memanfaatkan Si Mak Lampir itu untuk membuat Jeva cemburu? Biasanya 'kan cara itu cukup ampuh untuk memancing seseorang supay--" "Kalau itu benar-benar aku lakukan, sudah pasti Jeva akan menggunakan hal itu untuk mendepakku. Kau fikir dia t***l!" potong Daska cepat. "Dan hasil terburukknya, aku akan terjebak oleh dramaku sendiri dan hidup menderita bersama Katnish. Kau pasti tahu kalau wanita itu adalah wanita yang paling berpotensi untuk menjadi menantu keluarga Wenas, bibit bebet bobot yang sangat setara," imbuh pria itu mengacak acak rambutya frustasi. "Ck, benar juga," decak Belva membenarkan. "Yak! Kau harus membantuku! Singkirkan perempuan sinting itu dari hidupku," mohon Daska. Belva menghembuskan nafasnya berat, kemudian tersenyum lebar kalau suatu ide melintas dikepalanya. "Bang Denta!" teriaknya. "Suruh saja Bang Denta untuk merayu Katnish. Dulu sebelum pacaran denganmu, dia pernah naksir Si b******k itu, 'kan?" imbuhnya semangat. "Dulu saja dia lebih memilih membuang cintanya dan kemudian memilihku, apalagi sekarang. Aku ini lebih keren dari Si b*****t itu! Kau fikir Katnish mau menurunkan level pria idaman hatinya," cemooh Daska sombong. "Kau yang b*****t! t***l! Seenaknya saja mengatai kakakku begitu, dia itu lebih keren darimu," omel Belva. "Cih, kau saja baru memanggil dia 'Si b******k', kenapa sekarang malah mengomeliku?" cibir Daska pelan. "Terserah kau sajalah! Pokoknya kau harus membantuku," ujar Daska tidak ingin ribut dan memilih mengalah. "Sayang sekali, tapi aku tidak punya ide." "Kalau begitu carilah ide!" "Aku tidak bisa berfikir jernih." "Kalau begitu jernihkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN