Bab 15

774 Kata
Seperti rencana saat makan siang tadi, Belva dan Jeva jalan-jalan ke Mall bersama. Mereka menghabiskan waktu untuk menonton film, menjelajah ke toko-toko dan melakukan banyak hal lainnya. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan beristirahat di foodcourt Mall, membeli beberapa camilan dan juga minuman. "Wah, aku tidak menyangka kalau kita bisa jalan-jalan seperti ini. Mengingat betapa dinginnya sikapmu padaku," celoteh Belva sembari meneguk minumannya. Jeva hanya tersenyum tipis mendengar kalimat Belva barusan. "Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Terakhir kau bilang dia akan ke Indonesia," tanya Jeva mencoba mencari topik pembicaraan. "Oh, iya. Katanya dia akan ke Indonesia September mendatang," jawab Belva antusias. "Bulan depan ya," gumam Jeva pelan. "By the way, kau belum menceritakan keluargamu padaku," ujar Belva. "Kau juga belum," balas Jeva. "Kau 'kan sudah tahu tentang Kak Denta." "Apa keluargamu hanya Denta saja?" cibir Jeva kesal. "Baiklah. Aku akan menceritakan seluruh keluargaku. Setelah aku selesai, kau juga harus menceritakan keluargamu padaku. Setuju," ujar Belva kemudian. "Baiklah. Aku setuju!" "Ok. Jadi keluarga Raypraja itu... Pertama, ada Tuan Raypraja. Dia itu orangnya tegas, galak, tapi sangat mencintai keluarganya. Dia itu cerminan Denta saat tua nanti, tampan dan berkharisma." "Tampan dan berkharisma. Kau menyebut Si b*****t itu begitu?" potong Jeva meremehkan. "Yah, sedikitlah," balas Belva terkekeh pelan "Sifat mereka itu hampir sama, kecuali masalah pekerjaan. Papa orangnya pekerja keras dan disiplin, sementara Denta hanya suka bersenang senang. Bahkan saat itu...." Belva mencoba menceritakan kisah ayah dan anak itu melalui sepenggal cerita di masa lalu. Denta berjalan pelan disamping Papanya yang sepanjang perjalanan-dari ruang kantor Papanya hingga lobby-mengomelinya tanpa henti lantaran Denta kabur dari acara rapat dengan keloge-kolega bisnis Praja Groub. "Kalau kau melakukannya lagi, kau tidak akan mendapat kesempatan lain. Bahkan jangan bermimpi kau akan mewarisi perusahaan Praja Groub," kesal Tuan Ray pada putra sulungnya itu. "Baiklah," jawab Denta seadanya, tanpa mendebatkan apapun yang dikatakan Papanya barusan. "Apa? Baiklah?" kaget Tuan Ray saat mendengar nada santai milik putranya. "Hehm. Aku sama sekali tidak tertarik dengan warisan Papa. Serahkan saja Praja Groub pada Prasta, dia 'kan nanti akan meinkah dengan Belva," jawab Denta tak acuh, pria itu benar benar tak tertarik dengan warisan keluarga ataupun raut marah pada wajah Papanya. "YAK! Keluarkan dia dari daftar keluarga Raypraja!" teriak pria paruh baya itu pada sekretaris pribadi yang setia berjalan di samping kirinya. "Pa, pekerjaanku tidak ada hubungannya dengan hubungan biologis kita. Jadi Papa hanya akan membuang waktu memohon pada hukum untuk mendepakku karena kita akan tetap terikat oleh darah," jawab Denta tersenyum polos. "Ck, Dasar anak kurang ajar!" "Wah, ternyata dia tipikal pemberontak ya. Trus kenapa sekarang dia mau mengelola perusahaan keluarga kalian?" ujar Jeva setelah mendengar cerita Belva barusan. "Papa pernah mencoret Kak Denta dari silsilah keluarga. Menahan dompet beserta kartu kredit dan juga apartemen miliknya," jawab Belva. "Oh, ya? Wah, Papamu ternyata tegas juga ya." "Hehm, tentu saja." "Terus Denta," ucap Jeva sengaja menggantung kalimatnya. "Awalnya Kak Denta menuruti kemauan Papa, pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Dia tetap keukeh pada pendiriannya, kau tahukan kalau Kak Denta itu keras kepala. Tapi keras kepalanya itu hanya bertahan selama 22 jam," cibir Belva menertawakan tingkah konyol abangnya. Kalimat tersebut sukses membuat Jeva tertawa terpingkal pingkal. "Hahaha. 22 jam? Heh, itu bahkan belum genap satu hari. Dasar konyol!" ceriwis Jeva disela sela tawanya. "Hahahahha... Mana bisa tahan, penjahat kelamin sepertinya hidup tanpa uang. Mau menebar benih saja dia harus bayar mahal," ledek Belva ikut menertawakan tingkah Abanya itu. "Terus? Mamamu bagaimana?" tanya Jeva setelah tawanya reda. "Kanjeng Ratu. Perempuan paling baik sedunia, overprotective, cerewet. Dia itu selalu menganggap kami-Belva dan Denta-seperti anak kecil. Makanya Kak Denta lebih suka tidur di apartemennya dan jarang pulang kerumah, soalnya Mama sering diam-diam nyium kening Kak Denta malam-malam setelah dia tidur. Kata Mama supaya tidak mimpi buruk. Hehehehe, padahalkan umur kami sudah kepala 2," celoteh Belva disertai omelannya akan tingkah absurd ibunya. "Terus, Mama juga sering jodoh-jodohin Kak Denta sama anak dari teman arisan Mama. Alasannya sih, mengeratkan tali silaturahmi." "Dijodohkan? Denta mau?" "Tentu saja tidak. Tapi Kak Denta itu licik, dia selalu membuat wanita yang akan dijodohkan dengannyalah yang pada akhirnya menyerah. Jadi dia tidak akan kena omelan Mama dan juga dicap buruk oleh mantan calon mertuanya." "Begitu ya." "Nah, aku sudah menceritakan seluruh keluargaku. Sekarang giliranmu," desak Belva. "Keluargaku. Kami keluarga yang bahagia. Ayah dan Ibuku seorang petani. Aku punya satu kakak yang sudah menikah dan satu adik yang masih duduk dibangku SMP," ujar Jeva. "Terus?" "Hanya itu. Keluarga bahagia pada umumnya, tidak ada yang spesial," sahut Jeva seadanya. "Ck, tidak seru," cibir Belva. "Yak, memangnya kau berharap keluargaku bermasalah," omel Jeva. "Hahahahha... tidak juga, sih." "Ya sudah, ayo pulang!" "Ayo!" Semenjak jalan-jalan kecil itu, Jeva mulai membuka diri kepada Belva. Menceritakan betapa menyebalkannya pemilik kontrakan tempat dia tinggal, betapa bossynya Pak Danuar selaku manajer keuangan bagian Jeva bekerja, betapa kesalnya saat dia harus lari-lari akibat telat naik bus atau betapa senangnya dia saat hari gajian tiba. Jevara. Si wanita kaku itu sudah mencairkan es dihatinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN