Bab 14

1000 Kata
"Dia takut akan ending yang menantinya kelak," ucap Daska membuat Denta menoleh padanya bingung. "Apa maksudmu?" "Dia takut kalau sad endinglah yang akan menanti kisah kita kelak, bukan happy ending." "Jadi begitu," ucap Denta teringat obrolannya dengan Jeva tadi. Perempuan itu ingin menjadi sutradara dalam kehidupannya sendiri, dia ingin menulis happy endingnya sendiri. "Bukankah itu artinya dia pengecut," ucap Denta mengambil jeda sejenak. "Untuk apa memikirkan masa depan yang belum pasti dan menghancurkan masa sekarang hanya karena fikiran konyol itu," imbuhnya kemudian. "Di dunia ini tidak ada yang sempurna, 'kan? Mungkin itu salah satu kelemahannya," balas Daska diplomatis. ***** Hari ini Denta berniat menemui Jeva, membujuk wanita itu untuk mengubah pendiriannya yang keukeuh menolak Daska. Berusaha untuk memberikan pandangan baru dan juga alasan supaya perempuan itu mempertimbangkan Daska walaupun hanya sekali. Saat itu Jeva sedang duduk termenung di halte bis, menunggu bus jurusan rumahnya. Ada beberapa orang yang juga duduk disebelah kiri wanita itu, juga ada beberapa remaja SMA yang asyik mengobrol disudut kanannya. Penjual bakso yang diketahuinya bernama Mang Dudung seperti malam-malam sebelumnya sedang menjajakan baksonya tak jauh dari halte. Saking fokusnya dia melamun, Jeva sampai tidak sadar kalau ada seorang pria yang dikenalnya duduk disebelah kanannya. Mengamati wanita itu dalam diam bahkan hingga menit ke 15. Sampai sebuah bis jurusan barat berhenti dihadapan mereka, hingga Jeva naik ke dalam bus itu dan pria tadi duduk tepat disampingnya. "Keterlaluan," gumam Denta menyentak lamunan Jeva seketika. Jeva kaget dan langsung menoleh ke samping, bingung dengan keberadaan pria itu. "Sejak kapan kau ada disin--" "Sejak kita di halte bus tadi," potong Denta cepat. "Kau kemanakan mobilmu yang segudang itu, kenapa malah naik bus umum," sahut Jeva tak acuh. "Aku mengikutimu," balas Denta santai, membuat kening Jeva berkerut bingung. Namun perempuan itu tak mengatakan apapun. "Sepertinya sikapmu mulai melunak, kau jadi tidak cepat mara--" "Tutup mulutmu dan katakan apa tujuanmu mengikutiku," potong Jeva dingin "Ck, aku baru saja memujimu dan sikapmu sudah kembali dingin seperti biasanya. Kau ini sungguh wanita yang luar bias--" "Denta," geram Jeva nemperingatkan. "Tidak bisakah kau merubah pendirianmu itu?" ucap Denta pelan. Jeva sudah tak kaget lagi kalau pembicaraan mereka kali ini, lagi dan lagi menyangkut penolakannya terhadap Daska. "Kau bisa belajar untuk menerima Daska, mungkin saja kalian berdua coco--" "Dan mempertaruhkan kebahagiaanku pada sebuah kata yang kalian yakini dapat merubah segalanya. 'Cinta' tidak sekuat apa yang kalian fikirkan," potong Jeva sengit. "Jev," panggil Denta nelangsa. "Kalaupun seandainya aku menerima Daska. Apakah dia bisa menjanjikan kebahagiaan untukku?" Denta hanya diam saja. "Dalam drama kalian, hanya ada satu pemain utama yang boleh protes akan suatu hal. Di sini aku hanya sebagai pemain figuran yang tidak diijinkan untuk mengeluh. Sesakit atau seberat apapun menjalaninya, aku tidak bisa berkata 'tidak'. Karena dalam naskah drama kalian, kata itu tidak pernah tercipta untuk pemain figuran sepertiku," ucap Jeva panjang lebar. Denta mendengarkan ucapan Jeva itu dalam diam. "Jangan jadi wanita pengecut, Jev," ucapnya kemudian setelah hening sesaat, tenang namun serius. "Apa maksudmu?" tanya Jeva tidak mengerti. "Kau menolak Daska karena kau seorang pengecut," ucap Denta sinis. "Kau takut akan masa depan kalian, 'kan? Tapi sumpah demi apapun, masa depan yang kau takutkan itu belum tentu terjadi, Jev. Kau memilih untuk menghancurkan kebahagianmu saat ini hanya demi masa depan bullsyitmu itu! Apa kau ini waras?" "Kalimatmu itu yang bullsyit! Tahu apa kau tentang hidulku? Huh! Kau... Daska... kalian berdua tidak tahu apa-apa. Jadi jangan beran--" "Katakan pada kami," potong Denta cepat. "Katakan siapa kau sebenarnya, supaya kami bisa mengerti dirimu," imbuhnya nyaris memelas. Jeva mendengar sarat akan frustasi itu, nada lelah yang selalu dia rasakan selama hampir setahun ini. Apa ini titik lelahnya? "Kau fikir kenapa aku repot-repot mengarang cerita konyol itu untuk mendepak Daska?" ucap Jeva lirih. "Itu karena aku tidak menemukan alasan apapun untuk menolaknya. Aku sudah lelah mencarinya bahkan nyaris frustasi karena tidak menemukannya." "Kalau memang separah itu kenapa kau tidak menerimanya saja? Kenapa kau malah menciptakan alasan konyol itu?" bentak Dentak namun tak sampai mengusik orang orang yang ada didalam bus itu. "Sampai detik ini, apapun yang kau katakan tidak ada yang bisa ku percaya. Apapun itu," ucap Denta lirih, kemudian beranjak pergi dan turun dari bus karena kebetulan bus itu berhenti di halte. Kepergian Denta barusan membuat Jeva terhenyak dikursinya, raut kecewa itu jelas sekali tercetak diwajah tampan Denta. "Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku mencintainya, sungguh," bisik hati kecil Jeva nelangsa. Sejak pertemuan terakhir mereka di bus, Denta sama sekali tidak 'menganggu' Jeva lagi. Daska pun tidak melakukan kebiasaannya seperti mengirim chat, emoticon love ataupun mengajaknya makan siang bersama. Kehidupan Jeva bergulir seperti dalam naskah yang sudah dia tulis. Apa perlu dia merayakan kebebasannya ini? "Jeva," panggil Belva saat melihat Jeva duduk sendirian di salah satu meja kantin perusahaan. "Akhirnya aku bisa makan siang di kantin ini lagi. Kau tahu, Daska sinting itu hampir membuat kepalaku pecah. Dia menyuruhku untuk mengerjakan pekerjaan segunung yang seharusnya dilakukan oleh 5 orang. Mentang-mentang sekarang kantor sibuk dengan acara-acara tahunan dan juga tender-tender besar," ceriwis wanita itu disertai makan nasi bentonya dengan lahap. "Tapi kasihan juga sih, aku rasa dia tidak pernah makan siang karena saking sibuknya. Makanan yang aku pesankan untuknya selalu berakhir di tempat sampah karena sudah dingin. Kalau begitu terus pasti dia akan menginap di rumah sakit," imbuhnya. "Malam ini kau ada waktu? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ucap Jeva untuk pertama kalinya setelah kedatangan Belva dan segala cerita yang dibawanya. Saking kagetnya Belva mendengar kalimat tersebut, dia jadi tersedak makannya. Jeva segera memberi wanita itu minumannya, "K-kau mengajakku jalan-jalan!" teriak Belva heboh. "Kau ini benar-benar Jevara yang aku kenal, 'kan?" imbuhnya tak percaya. "Tentu saja. Kau mau atau tidak?" "Mau! Tentu saja aku mau!" Semangat Belva layaknya anak kecil. Belva tersenyum bahagia menatap sahabatnya itu. Akhirnya mereka bisa menjadi lebih dekat. Akhirnya Jeva membuka hatinya untuk berteman dengan Belva. Dia juga yakin kalau suatu saat nanti, Jeva akan membuka hatinya untuk Daska. Meskipun sikap pria itu menyebalkan padanya, tapi ia tahu kalau Daska adalah pria yang cocok untuk Jeva. Pria itu pasti bisa membahagiakan Jeva.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN