Bab 13

1135 Kata
Denta dengan susah payah membopong tubuh Daska keluar mobil. Pria itu segera menekan bel pintu rumah Daska supaya tugasnya cepat selesai. "Astaga! Daska, kau ken--" "Eee, Tante Shinta! Ngomelnya nanti saja ya. Saya harus membawa pria menyedihkan ini ke kamarnya," potong Denta cepat, sebelum rentetan kalimat omelan keluar dari mulut Ibunya Daska. "Iya-iya, cepat bawa anak nakal ini ke kamarnya," sahut wanita itu akhirnya. "Rega! Cepat turun sekarang! Bantu Denta membawa Abangmu ke kamarnya," imbuh wanita itu pada Si Bungsu keluarga Wenas. "Bang Daska kenapa, Ma?" tanya Si Jangkung itu saat turun dari tangga. "Dia mabuk? Waw, aku harus memberi applause pada siapapun yang mampu merubah prinsip Bang Daska untuk hidup sehat," oceh Rega dengan santai. Pletak! "Dasar adik kurang ajar! Cepat sana bantu Denta!" perintah Sang Ibu setelah sebelumnya memberi satu jitakan kecil dikepala anak bungsunya. "Aish. Iya, Ma... Iya...," dengkus Rega sembari ikut memapah tubuh tegap Daska. Dengan sangat susah payah, kedua pria itu memapah tubuh Daska melewati tangga hingga menuju ke kamar pria itu yang memang berada dilantai 2. "Siapa yang membuat Si b******k ini mabuk?" tanya Rega menatap Sang kakak yang terbaring tak sadarkan diri diatas kasur. "Anak kecil tidak perlu tahu," sahut Denta tak acuh. "Yak, kau! Mulai sekarang, kau harus mengubah panggilanmu padanya! Berani sekali kau memanggil Abangmu dengan sebutan sekasar itu," omel Denta kemudian. "Cih," dengkus Rega kemudian berlalu pergi. "Denta," panggil Mamanya Daska saat memasuki kamar anaknya. "Iya, Tante," sahut Denta sopan. "Lebih baik kau menginap disini saja, tidur di kamar tamu. Ini sudah lewat tengah malam, bahaya kalau menyetir malam malam begini," nasehat Mamanya Daska. "Siap, Tante!" "Ya sudah, kau cepat tidur sana! Biar Tante yang ngurus Daska." "Ok, Tan. Denta pamit tidur dulu ya." Pandangan wanita paruh baya itu terfokus pada tubuh tegap yang berbaring di atas tempat tidur dengan pulas, sebelum kemudian duduk disamping ranjang milik putranya tersebut. Wanita itu kemudian melepas kaus kaki juga sepatu putih yang masih melekat di kaki panjang putranya. "Daska... Daska...," gumamnya pada keheningan. "Malam, Ma," sapa Daska dengan suara seraknya, pria itu kemudian bangkit duduk bersandar pada kepala tempat tidur. "Lho... kau sudas sad-" "Daska sih pengennya mabuk, Ma, tapi walaupun aku sudah menghabiskan banyak minuman keras. Kesadaranku masih tetap100%, bahkan aku merasa kalau minuman keras yang membasahi kerongkonganku tadi hanya air putih biasa. Sepertinya indra perasa Daska sudah tak berfungsi dengan baik, Ma," racau pria itu kemudian. Shinta hanya bisa diam mendengar racauan dari salah satu putra kembarnya,wanita itu lebih memilih untuk jadi pendengar tanpa berniat menginterupsinya. "Otak Daska juga sedang bermasalah. Hati. Jantung. Paru paru. Semuanya tidak dapat berfungsi dengan baik, sekarang Daska harus bagaimana, Ma?" racau Daska nelangsa. "Daska, kau ada mas--" "Ma, aku tidak bisa menyerah atas Jeva," potong Daska lirih. "Aku tidak bisa melepaskan wanita itu begitu saja." Suara Daska sungguh menyayat siapapun yang mendengarnya, terlebih lagi Shinta. Melihat putranya terpuruk seperti ini membuat wanita itu juga ikut bersedih. "Daska, Sayang. Hubungan itu harus diperjuangkan oleh 2 orang, bukan hanya sepihak saja. Kau harus menerima keputusan yanga diambil Jeva," nasehat Shinta mengusap usap tangan putranya menguatkan. "Mama salah... Kami sama-sama berjuang, Ma. Aku berjuang untuk mendapatkan hati Jeva dan dia berjuang untuk menemukan keberaniannya. Jika kita berdua terluka, maka luka kita sama berdarahnya," jelas pria itu. "Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima keputusan konyol perempuan itu." Shinta semakin iba melihat betapa nelangsanya Daska saat ini. "Kau tahu kalau perjuanganmu akan sangat sulit, 'kan?" "Aku tahu. Aku tahu itu, Ma, tapi aku tidak perduli. Aku tidak bisa melihat dia bersama pria lain. Aku fikir... aku fikir, aku akan mati kalau dia tidak berada disampingku." "Daska, jaga ucapanmu!" tegur Shinta memarahi anaknya. "Dengarkan Mama, semua perjuangan yang dilakukan seseorang akan selalu mendapat hasil yang terbaik. Kalau kau memang ingin terus berjuang, maka berjuanglah. Tapi kalau misalkan, suatu saat nanti kau lelah, maka berjanjilah untuk berhenti. Apapun yang akan kau lakukan, Mama pasti mendukungmu. Jadi kau harus semangat," ujar Shinta panjang lebar. "Terimakasih, Ma. Daska sayang Mama," balas Daska lalu memeluk erat Ibunya. Satu keputusan telah Daska ambil. Pria itu tidak akan pernah menyerah atas wanita pujaannya. Tidak akan pernah. "Wuah, dasar b******k! Aku susah payah mengangkutmu ke kamar ini tapi ternyata kau malah membodohiku. Kurang ajar sekali kau!" maki Denta saat memasuki kamar Wenas, pria itu rupanya tidak benar benar tidur saat izin dengan Mamanya Daska tadi. "Kau baru sadar sekarang? Aku sudah membodohimu sejak kita bersahabat," kekeh Daska tersenyum mengejek. "Ck," decak Denta pura-pura kesal. "Jadi kau tidak akan menyerah ya?" tanya Denta menatap Daska serius. "Hehm," sahut Daska mengangguk. "Lebih tepatnya aku tidak bisa menyerah," imbuhnya tersenyum lemah. "Ck ck ck, perempuan itu sungguh luar biasa," gumam Denta. "Huh?" "Aku mendengar semua yang kau bicarakan dengan Mamamu tadi," sahut Denta. "Kalau begitu aku akan mendukungmu, kau tahu kan kalau waktu akan selalu berpihak pada orang yang sabar. Kau hanya perlu menunggu dan bertahan," nasehatnya kemudian. "Itu juga yang aku fikirkan." "Ok. Bagus... Eh, Ngomong-ngomong... menurutmu kenapa Jeva begitu dingin kepadamu? Dia aneh sekali bukan, wanita manapun pasti memimpikan bisa bersanding dengan pria sempurna sepertimu. Tapi dia malah menolakmu mentah-mentah," celoteh Denta tiba tiba,mengutarakan rasa penasarannya. "Jangan-jangan keluarga Wenas musuh bebuyutan keluarganya Jeva, makanya dia sangat membencimu." "Kau fikir ini kisah klasik romeo dan juliet," cibir Daska memutar matanya bosan. "Kalau begitu, mungkin karena Jeva melihat reputasimu. Track recordmu bersama wanita pasti sudah mengusik hati dan fikiran seorang Jevara," ucap Denta masih menerka nerka. "Jeva bukan wanita seperti itu, aku tahu dia tidak akan menggunakan alasan konyol itu untuk mendepakku. Semua pria normal pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, hanya pria munafik yang mengatakan kalau mereka suci padahal faktanya mereka pernah mencoba -coba. Kau fikir di dunia ini masih ada pria suci yang tidak tertarik dengan godaan iblis, seorang wanita," ucap Daska panjang lebar "Ck, kau benar," sahut Denta membenarkan "Aku bahkan sudah kehilangan keperjakaanku saat SMA," imbuh pria itu tidak tahu malu. "Ck. Tidak heran kalau otakmu itu sama dengan p***s," dengkus Daska mengejek. "Sial! Otak dan penisku sama-sama berharganya. Jadi jangan melibatkan keduanya saat mengejekku!" maki Denta kesal. Daska tertawa lepas mendengar kalimat absurd dari sahabatnya itu, juga ekspresi yang Denta perlihatkan. "Oh, aku tahu," ucap Denta setelah jeda beberapa menit. "Apa?" "Pasti karena Jevara masih trauma"sahut Denta masih belum menyerah juga. "Kau pernah mencari tahu latar belakang Jeva? Orangtuanya broken home mungkin? Papanya tukang selingkuh atau dia pernah dicampakan oleh kekasihnya dulu?" "Setahuku orangtuanya masih sangat harmonis, ya walapun mereka hidup sederhana tapi mereka tidak pernah bertengkar apalagi sampai mengucap ikrar perceraian. Ayahnya Jeva tidak pernah selingkuh. Kekasih? Kau fikir masih ada pria yang mau mendekati wanita sedingin Jeva. Aku ini satu-satunya... Lagipula, ini bukan sinetron yang selalu melibatkan alur cerita klasik seperti itu." Mendengar alasan masuk akal tersebut membuat Denta menghela nafasnya lelah. "Kalau begitu kenapa? Sampai saat ini aku masih tidak mengerti apa alasan Jeva menolakmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN