Bab 12

926 Kata
Keesokan harinya. "Cih, dasar payah! Jelas saja dia marah," dengkus pria di seberang telpon. "Kau terlalu ikut campur, Das. Kau sudah menyentuh ego seorang wanita," imbuhnya kemudian. "Nah, itu dia, Bang. Sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu, tapi... ya... kau pasti juga akan melakukan hal yang sama kalau Belva terlibat masalah. Preman sialan itu sampai melukai wajah wanitaku, tentu saja aku langsung ikut campur," balas Daska memutar kursi kerjanya ke arah jendela besar yang menampilkan view pemandangan kota Jakarta. "Tentu saja," balas Prasta cepat. "Kau bahkan akan melihat namaku sebagai 'tersangka' dan nama k*****t itu sebagai 'korban' di surat kabar, televisi dan sosmed. Membunuh akan menjadi pekerjaanku kalau sampai ada orang yang melukai Belva," imbuhnya dengan serius. Ya. Pria itu serius dengan ucapannya barusan. "Sebelum kau membunuh k*****t itu. Papa yang akan lebih dulu menggantung kepalamu di Monas!t***l!" dengkus Daska mencibir. "Hahahaha, kau benar juga," tawa Prasta membenarkan. "Kalau begitu membuatnya 'hancur', harus membuatku cukup puas," imbuh pria itu disela sela tawa renyahnya. "Dan aku yakin definisi 'hancur' yang kau maksud itu, seribu kali lipat lebih parah dari arti yang sebenarnya." "Tentu saja. Ngomong-ngomong, siapa nama wanitamu itu? Kau selalu menggunakan kata ganti ketiga dan bukannya nama," tanya Prasta baru teringat. "Tanyakan itu pada pembuat naskah ini," balas Daska menantang "Dia mengatakan belum saatnya." "Kalau begitu memang belum waktunya kau mengetahui namanya. Mungkin saat aku menikah dengannya nanti." Daska tersenyum puas saat berhasil membuat Abangnya itu memakinya kesal lantaran sikap sok misteriusnya itu. "Kau fikir dia mau menikahimu? Jangan bermimpi!" kesal Prasta sebelum mematikan sambungan telpon tersebut. ***** "Dasar licik!" dengkus Jeva saat melihat sosok Daska menghampiri meja tempat ia menunggu Belva. Wanita itu baru sadar kalau sahabatnya telah bersekongkol dengan pria itu untuk menjebaknya. Dasar wanita ular! Ingatkan dia untuk menjabak rambut Belva saat bertemu nanti. "Please, hanya sebentar," ujar Daska seraya menahan tangan Jeva yang mau beranjak pergi. Jeva menghela nafasnya lelah. "Waktumu 5 menit," ujarnya membuat Daska tersenyum senang. Pria itu dengan semangat duduk di hadapan Jeva. Daska berdehem sebentar sebelum memulai obrolan, tentu saja dia tidak ingin membuang waktu melakukan hal lain misalkan saja memesan makanan. "Ayo kita buat kesepakatan!" ujarnya. Jeva mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?" "Aku akan mengikuti alur cerita yang sudah kau buat," ucap Daska. "Tapi sebagai gantinya, jangan ubah peran atau sifatku. Biarkan aku tetap mencintaimu. Biarkan saja seperti itu." Mendengar penawaran Daska barusan, membuat Jeva menghela nafasnya lelah. "Bukankah dari awal memang seperti itu. Aku tidak melarangmu untuk jatuh cinta padaku, aku hanya mengatakan aturan permainan yang sudah kau mulai. Investasi pada hubungan kita, tidak akan membuatmu mendapatkan apa-apa. Jadi lupakan perasaan bodohmu padaku!" "Aku ini orang kaya, investasi sebesar apapun akan aku lakukan kalau itu menyangkut dirimu." "Das," desah Jeva putus asa. "Kalau dalam alur ceritamu, kita tidak bisa bersama. Aku akan menerimanya, tapi kau tidak boleh memintaku untuk berhenti mencintaimu." Kalimat pria itu berhasil membuat Jeva sedikit kaget. Banyak orang yang mengatakan kalau, kalimat yang terurai dari mulut pria adalah suatu kebohongan. Lalu apakah ini, salah satunya. Tapi sinar dalam sorot mata elang itu mengatakan kejujuran. Jeva tahu itu. Haruskah dia menyerah. Pria itu baru saja mengucap ikrar kesetiaan bukan? Apakah sekarang waktunya Jeva untuk menerimanya? Menerima perasaan yang ditawarkan pria itu. . . "Terserah padamu. Asalkan perasaan itu tidak mengusikku, kau boleh lakukan hal sesukamu," ucap Jeva sebelum beranjak pergi. ****** Klub malam. Dunia hiburan yang menjadi destinasi malam untuk pemuda tampan dan juga wanita sosialita. Kaum borjuis yang rela menukar tumpukan uangnya menjadi cairan k*****t yang mereka sebut kenikmatan. Para pria sibuk berlomba lomba demi mendapatkan dara cantik yang akan menemani mereka malam ini. Oh, siapa yang menjamin kalau penghuni di sini masih bisa disebut perawan? Sedangkan para wanita, sibuk memamerkan kecantikan mereka yang dibalut oleh make up termahal dan juga baju rancangan designer terkenal. Heh, percuma saja kalau kecantikan kalian semua, hanya kalian pemerkan pada pria laknat macam penghuni disini! t***l! Mubazir! Salah satu pria t***l yang menikmati kenikmatan itu adalah CEO dari Wenas Groub. Pria itu masih terlihat segar walaupun sudah menegak beberapa botol minuman hingga tandas. "Hei, Das, berhenti membasahi kerongkonganmu dengan minuman k*****t itu!l!" teriak Denta yang baru saja datang. "Cih, kau mau jadi pria suci yang menceramahiku!" balas Daska juga dengan teriakan. "Aku tidak mau jadi kacungmu yang membopongmu pulang saat kau mabuk, Bodoh!" maki Denta kesal. "Aku tidak mabuk... Heh, lebih tepatnya aku tidak bisa mabuk. Aku sudah menegak cairan ini sebanyak apapun, tapi aku sama sekali tidak bisa mabuk. Apa otakku sedang bermasalah atau tubuhku yang bermasalah?" gumam Daska nelangsa. "Aku rasa dua-duanya," sahut Denta sekenanya. "b******k!" umpat Daska. Denta mengamati Daska sejenak, sebelum megulurkan tangannya untuk mengambil sloki berisi cairan hitam pekat lalu meneguknya. "Tidak bisakah kau melepaskan Jeva," ucap pria itu kemudian, sontak membuat Daskan dengan cepat menoleh padanya. "Kalian tidak bisa bersama, jadi untuk apa kau masih berharap padanya?" imbuh Denta tanpa perduli dengan aura membunuh yang ditujukan Daska. "Jika aku melepaskannya. Apa kau akan mengencaninya?" sahut Daska tersenyum menantang. "Saat aku melihat tingkahmu sekarang, rasanya aku justru berkewajiban untuk mengencaninya," sahut Denta tanpa beban. "YAK!" teriak Daska emosi "Wae? Mwo? Apa kau keberatan?" tantang Denta dengan suara meninggi. "s**t! Kau mau mati? Huh!" teriak Denta kalab. "Kau yang mau mati! Haish," balas Denta juga berteriak. "Oh, tidak! Kalian berdua yang berniat membunuhku secara perlahan. Terlibat dalam drama kalian sungguh menyusahkan! Tidak bisakah kalian berdua satu pemikiran, sudahi atau jalani. Sangat mengenaskan saat melihatmu terpuruk karena cinta, dan menyedihkan juga saat melihat Jeva terluka akan pilihannya sendiri. Kenapa kalian membuat hal yang mudah menjadi lebih rumit?" jelas Denta panjang lebar,membungkap emosi dan juga makian Daska. "Tanyakan itu pada wanita yang kini menjadi tawananku. Bisakah dia tidak mempersulitku dan hubungan ini?" balas Daska. "Sudah pasti dia akan menjawab 'tidak bisa'. Lalu dia akan balik bertanya, 'Kapan kau akan melepaskan tawananmu ini?'. Dan jawabanmu nanti akan membuat segalanya jadi lebih mudah," ucap Denta membuat Daska bungkam seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN