Jeva sama sekali tidak bisa berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya, saat ingatan miliknya terus memutar ulang kejadian kemarin malam. Saat pria yang tidak ingin ditemuinya justru muncul bagaikan pahlawan kesiangan yang menolongnya.
Kenapa seakan-akan takdir sedang menertawakannya?
"Mbak Jeva," sapa sebuah suara membuyarkan lamunan Jeva, perempuan itu menoleh kearah datangnya suara. Di samping kanan kubikel miliknya, berdiri seorang pria tua yang memakai seragam satpam. Pak Panut namanya. "Mbak Jeva tidak pulang? ini sudah jam 23.00 wib lho, Mbak," imbuh bapak berumur setengah abad itu.
"Hehm, sudah semalam itu ya, Pak. Maaf Pak, saya terlalu serius mengerjakan tugas saya. Jadinya lupa waktu," kekeh Jeva tersenyum malu.
"Iya, ndak apa-apa."
"Ya sudah, Pak, saya pulang dulu. Selamat berjaga," pamit Jeva setelah memasukan semua barang barangnya ke dalam tas hitamnya.
"Tapi jam segini taxi sudah jarang, Mbak, mau naik apa sampeyan nanti?" tanya Pak Panut dengan logat jawanya yang kental.
Jeva hanya tersenyum tipis.
"Yo uwes, ati ati lho, Mbak."
"Iya Pak, mari."
*****
Sebuah mobil lamborgini bertengger manis di halaman depan kantor Wenas Grub. Pria yang duduk dibalik kemudian beberapa kali melirik pintu masuk kantor, berharap seseorang yang ia tunggu muncul di hadapannya.
Pria itu mendengkus kesal saat melirik jam digital di tangannya. "Astaga, wanita ini. Apa dia mau tidur di Kantor Daska? Kenapa jam segini dia belum keluar juga?" omelnya kemudian.
Pria itu langsung meluncurkan lamborgininya ke kawasan gedung perkantoran milik Wenas Groub setelah mendapat telpon dari Daska yang menyuruhnya untuk menjemput Jeva. Sebenarnya bisa saja Denta mengabaikan sikap seenaknya Daska, tapi jika hal itu sudah menyangkut gadis bernama Jeva. Dia tidak semudah itu untuk tak ikut campur. Daska dan Jeva sedang perang dingin layaknya remaja labil. Jadi mau tidak mau Denta lah yang sekarang harus menjaga Jeva.
"Akhirnya, perempuan itu keluar juga!" desah Denta saat melihat seorang wanita keluar dari lobby gedung megah milik Wenas Grub. Pria itu segera turun dari mobilnya dan bersandar menunggu Jeva mendekati mobilnya. "Hei, cantik!" teriak Denta mengambil atensi Jeva. Tangannya melambai lambai ke arah wanita itu, tak lupa disertai senyum lebar tiga jarinya.
Tetapi saat melihat sosok Denta, bukannya menghampiri pria itu, Jeva justru berlalu pergi begitu saja. Mengabaikan seorang Madenta memang keahlian wanita itu.
"Yak! Aku sudah menunggumu selama berjam jam di sini dan kau hanya melewatiku begitu saja. Kurang ajar sekali kau!" maki Denta setelah secepat kilat meninggalkan lamborgininya guna mengejar Jeva.
"Tidak ada aturan yang menyuruhmu menungguku," sahut Jeva dingin.
"Cih, semua hal dihidupku tak butuh aturan!" omel Denta. "Lagipula kenapa kau pulangnya malam sekali? Kau tidak sadar kalau ini sudah hampir tengah malam. Daska tidak mungkin mempekerjakanmu seperti kerja rodi," imbuhnya melirik sinis wanita itu.
"Aku ingin makan ramen," ujar Jeva tanpa menjawab pertanyaan dari Denta, wanita itu dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan Denta.
"Yak! Ish."
Keduanya kini berjalan berdampingan di sepanjang ruas jalan trotoar menuju supermarket tak jauh dari gedung Wenas Grub. Menikmati perjalanan singkat itu dalam keheningan, memilih untuk tak bersuara. Sesekali Denta melirik wanita yang berjalan di sampingnya, wajah cantik khas wanita indonesia. Wajah itu sudah diklaim oleh orang lain. Ah, sayang sekali, padahal Denta juga tertarik dengan wanita itu.
"Jev," panggil Denta setelah bosan dengan yang namanya keheningan. "Daska tidak...."
"Aku tahu," potong Jeva cepat. "Aku tahu, Ta." Jeva terdiam. "api aku tidak bisa mengatakan kalimat penenang atau hiburan, ungkapan suka cita dan terimakasih. Aku tidak bisa melakukan itu untuknya," imbuhnya lirih.
"Kenapa? Hanya satu kata, Jev, 'terimakasih'. Kau tidak tahu kalau satu kata itu mampu membuat Daska bahagia setengah mati. Kenapa kau memilih untuk menjadi wanita t***l yang mematahkan hati pria yang mencintaimu?" ujar Denta serius
"Karena aku tidak ingin menjadi wanita munafik yang mengatakan kalau happy ending akan menanti kisah cintaku bersama Daska. Hidup bahagia dengan kehidupan mewah, punya anak yang cantik dan tampan, punya suami yang setia dan sangat mencintaiku. Itu semua bullsyit. Tidak ada yang namanya happy ending," ujar Jeva menatap serius kedua mata elang milik Denta.
Denta menatap sendu dua mata itu. "Happy ending itu dicari, Jev, bukan ditunggu. Kau seharusnya mencari happy endingmu sendiri, bukan menanti happy ending yang dikarang oleh sutradara di hidupmu," ucapnya tegas, menatap manik mata milik Jeva lekat lekat. Mencoba membuat wanita keras kepala itu sedikit luluh.
"Sutrada b******k yang telah mengacaukan hidupku?" sahut Jeva tersenyum muak. "Cih, kau fikir aku masih mau, mempercayakan hidupku yang berharga pada sutradara itu. Aku akan menciptakan dramaku sendiri, tanpa mengusik drama kalian ataupun menghancurkan drama oranglain. Dan perlu kau tahu, juga sahabatmu itu... di dalam skenario yang aku tulis, tidak ada nama pria bermarga Wenas," sahut Jeva dingin, wanita itu masih saja keras kepala. "Tiba-tiba saja aku kenyang, lebih baik kau pulang," imbuhnya kemudian, wanita itu berjalan meninggalkan Denta yang terdiam terpaku ditempatnya.
"Kau bilang ini bukan sinetron, 'kan! Lalu kenapa kau menjadikan alasan klise seperti itu untuk mendepak Daska!" teriak Denta pada wanita itu. "Alasanmu itu sungguh konyol, kau tahu!" imbuhnya lebih keras tanpa perduli bahwa kalimatnya tak pernah dianggap oleg wanita bernama Jeva itu. "Haish! Siapa yang mengubahmu menjadi sedingin ini, Jev?" gumam Denta kemudian, berbalik arah menuju mobil yang sempat dia telantarkan hanya untuk mengejar wanita keras kepala alias tawanan dari sahabatnya.
*****
"Jeva!" panggil Belva saat melihat sosok Jeva diujung gang rumah wanita itu.
Hari ini, sleeping beauty yang biasanya bangun siang itu harus merelakan waktu tidurnya karena ingin menjemput sahabatnya.
"Hai," sapa Belva riang
"Hai," balas Jeva seadanya.
"Ayo berangkat!" ajak Belva menarik tangan sahabatnya itu agar memasuki mobilnya.
"Apa?" tanya Jeva kemudian saat mobil mulai bergerak meninggalkan kawasan tempat tinggalnya.
"Maksudmu?" tanya Belva bingung, membagi fokusnya pada jalan didepannya juga wanita yang duduk di kursi penumpang.
"Kau tidak mungkin bangun sepagi ini hanya untuk mengajakku berangkat bersama, 'kan? Jadi apa tujuanmu?"
Belva tak lagi kaget dengan pernyataan itu, wanita itu memang pintar."Jeva!" pekik Belva saat akal busuknya sudah tercium. "Aku minta maaf, tapi aku berani sumpah, bukan aku yang mengatakan semua rahasiamu pada Daska. Aku tidak mengatakan apapun. Dia tahu sendiri."
Sudah Jeva duga, Belva pasti ingin membahas masalah pertengkarannya dengan Daska kemarin. Sama seperti Kakaknya yang tengah malam merecokinya dengan ucapan maaf dan pembelaan.
"Aku tahu," bisik Jeva pelan.
"Jadi kau memaafkanku?"
"Maaf hanya untuk orang yang bersalah. Dalam hal ini, kau bukan orangnya.