Dor!
Dor!
Dor!
"Das! Kalau kau tidak segera membuka pintunya, aku akan mendobraknya!""Kau fikir aku takut dengannya," sahut Daska datar lalu membuka pintu kamarnya. "Berisik sekali, sih!" gerutu Daska begitu pintu terbuka dan Denta muncul di hadapannya. "Lagipula pintu ini tidak di kunci bodoh, untuk apa gedor-gedor pintu segala." Daska berjalan ke dalam kamar dengan santainya, tak mengacuhkan wajah bingung serta panik Denta.
"Sial, mana aku tahu kalau pintu itu tidak di kunci!" teriak Denta kesal. "Tante Shinta menelfonku dalam keadaan panik dan bahkan hampir menangis. Siapa orang yang masih waras setelah di telfon begitu," omel Denta mencak mencak dan langsung berhambur masuk ke dalam.
"Astaga, Abangku so sweet sekali sih. Takut aku kenapa-kenapa, ya?" ledek Belva tersenyum menggoda ke arah Denta.
"Tutup mulutmu!" maki Denta pada adiknya. "Sial, kenapa acara olahragaku jadi berubah begini," gerutunya masih kesal.
"Hhahahaha." Daska dan Belva mengeluarkan tawa sama yang menyebalkan bagi Denta.
"Tertawa saja sepuas kalian!" gerutu Denta melempar bantal sofa ke arah Daska. "Ngomong-ngomong, kenapa wajahmu babak belur? Jeva yang melakukan itu padamu?" tanya Denta kemudian. "Aku yakin dia bisa melakukan hal itu, dia itu 'kan bar-bar," imbuh Denta dengan senyum konyolnya.
"Siapa yang kau bilang bar-bar? Enak saja," celoteh Daska tidak terima, pria itu melempar kembali bantal sofa yang ditangkapnya tadi. "Tapi, luka ini memang karena Jeva, sih," imbuhnya tersenyum miris.
Denta terdiam sejenak. "Karena apa?" tanyanya penasaran.
"Aku menghajar rentenir k*****t yang sudah mengancam Jeva," jawab Daska menyentuh sudut bibirnya. Ia meringis pelan saat merasakan nyeri di bibirnya yang memang berdarah.
"Apa?" Denta terlihat terkejut. "Jad kau juga sudah tahu kalau..."
"Tunggu... tunggu... apa maksudmu dengan kata 'juga'?" " tanya Daska yang kembali terkejut.
Denta menutup mulutnya rapat rapat. Ia melirik ke arah Belva untuk meminta bantuan tetapi perempuan itu justru tersenyum mengejeknya.
"b******k! Sialan! b*****t! Kau sudah tahu dari awal?" sembur Daska dengan berbagai u*****n serta makian kepada Denta.
Daska marah besar kepada Denta, tapi pria itu sedang mengkhawatirkan nyawanya di tangan orang lain. "Aissh, mampus. Aku pasti akan mati," gumam Denta mengacak acak rambutnya frustasi.
"Kau benar. Kau memang akan mati ditanganku!" ucap Daska langsung menerjang Denta, memberi pemuda itu satu bogeman di wajah playboynya.
"Ck, dasar kekanak-kanakan," dengkus Belva sebelum berlalu pergi. Tugasnya sekarang adalah menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada sang calon ibu mertua.
"Yak, hentikan, b******k! Jeva pasti akan membunuhku, kau mau aku mati 2 kali," maki Denta berusaha menghindari pukulan Daska.
"Dan kenapa Jeva harus membunuhmu?" ucap Daska lalu bangun dari posisinya yang semula menduduki perut Denta. Pria itu kini duduk di sebelah pria itu.
"Dia sudah mengancamku supaya tutup mulut. kenapa kau bisa tahu kalau dia berurusan dengan rentenir, sih? Merepotkanku saja!" keluh Denta terduduk di tempatnya.
"Aku tidak mau jadi orang bodoh," geram Daska. "Lagipula kalau pun aku tahu, kenapa dia berfikir kalau aku tahu darimu," imbuhnya kemudian.
"Entahlah, mungkin karena dia sudah mempunyai dendam dan fikiran negatif tentangku. Kau tahu kalau dia sangat membenciku," celoteh Denta asal.
"Bodoh," maki Daska pelan. "Tapi aku serius. Aku tidak ingin menjadi orang bodoh lagi, Ta. Aku tidak tahu apa apa tentang perempuan itu," imbuhnya dengan nada serius.
"Dan membuat Jeva jadi semakin merasa bersalah," ucap Denta membuat Daska menoleh cepat ke arahnya. Keningnya berkerut mendengar ucapa serius Denta, juga tatapan tajam pria itu.Sebenarnya ia mengerti dengan perasaan Daska saat ini. Ia pun pasti juga akan melakukan hal yang sama, melakukan apapun demi wanita tercinta. Hanya saja, menghadapi wanita seperti Jeva harus menggunakan cara yang tidak biasa. Kita harus mengikuti alur yang sudah wanita itu tetapkan.
"Apa maksudmu?" tanya Daska tak mengerti.
"Dia juga terluka karena menutupi rahasianya, masalahnya dan terutama... perasaanya," geram Denta, tiba tiba ia menjadi marah karena Daska bersikap egois dan paling merasa terluka.
"Perasaannya?" Daska mengerutkan keningnya samar.
"Perasaannya padamu, bodoh," maki Denta karena Daska tak cepat tanggap. "Seharusnya kau tetap diam di tempatmu. Jangan melakukan apapun yang membuat Jeva takut untuk melangkah maju. Diam dan menunggu. Apa susah sekali melakukan 2 hal itu?"
Daska hanya diam mendengar semua ucapan Denta barusan, pria itu tidak pernah bersikap serius. Tapi kali ini, Denta benar benar serius. Itu karena pria itu perduli, 'kan?
"Apa kalau aku diam dan menunggu, dia akan bisa menyambut perasaanku? Kalau dia tidak bisa mencapai posisiku, bukankah seharusnya aku yang datang kepadanya?" tanya Daska lirih. Lelah. Sebenarnya ia lelah jika terus berperan sebagai pengikut saja. Ia ingin mulai berjalan mendekat, lebih dekat dari sebelumnya.
Denta tersenyum tipis. "Terkadang menjadi bodoh dan tidak berguna adalah pilihan terbaik," ujarnya kemudian.
Daska tersenyum kecut mendengar ucapan Denta barusan. "Masalahnya bukan karena aku yang menjadi bodoh dan tidak berguna. Tapi efek dari keduanya yang hanya akan menyakiti kita berdua." Pria itu menghela nafas lelah untuk kesekian kalinya.
"Jeva sudah menetapkan pilihan, walaupun dia tahu kalau mencintaimu hanya akan membuat hatinya berdarah darah." Denta diam sejenak. "Tapi dia tetap melakukan itu, Das," lanjutnya kemudian. "Seharusnya kau juga bisa menahan rasa sakit itu. Jeva hanya menunggu waktu yang tepat, Das," imbuhnya menepuk nepuk pundak Daska sebelum beranjak berdiri. Diam dan menunggu." Denta berjalan keluar kamar Daska.
"Diam dan menunggu. Puluhan tahun pun, aku bisa melakukan hal itu," ucap Daska pada keheningan. Ia menatap punggung Denta yang menjauh.
Flashback On
"Cuih, Lepaskan tanganku b******k!" teriak Jeva saat salah satu anak buah Tuan Wega mencengkeram lengannya erat. "Katakan pada Bosmu, kalau aku akan melunasi semua hutang hutangku padanya. Jadi menyingkirlah dari hadapanku," imbuh perempuan itu meludahi wajah pria bertato kalajengking itu.
"Dasar jalang!" teriak pria itu marah, tangan kekarnya menampar pipi mulus Jeva hingga meninggalkan sudut bibir yang robek.
"Dengar ya, kalau kau tidak bisa membayar hutangmu dengan uang, kau bisa melakukannya dengan tubuhmu," ucap pria yang lain mencengkeram pipi Jeva "Tuan Wega pasti sangat senang kalau ka--"
"Tutup mulutmu! Kau fikir aku mau menyerahkan tubuhku pada pria menjijikan seperti Bosmu itu. Disentuh olehnya saja aku tidak sudi, apalagi sampai lebih dari itu!" teriak Jeva mencoba melepas tangannya yang di cengkeram oleh pria bertato.
"s**t! wanita ini benar-benar menguji kesabaran ku," maki pria berjanggut yang mencengkeram pipi Jeva tadi.
"Bagaimana kalau kita mencicipinya dulu? Akan sangat menyenangkan bermain main dengan wanita agresive sepertinya," ujar pria bertato tertawa puas.
"Ide bagus! Bos Wega pasti tidak keberatan kalau kita menyentuhnya sedikit."
"Kalian mau apa? Kalau kalian macam-macam, aku akan berteriak!" teriak Jeva mulai panik.
"Teriak saja, Sayang. Teriakanmu justru akan membangkitkan libidoku. Kau mau coba?" ucap pria berjanggut tertawa meremehkan.
"Aargh." Jeva berteriak sekuat tenaga saat tangan pria itu mulai menyentuh wajahnya.
"Singkirkan tangan busuk kalian dari wanita itu," ucap sebuah suara bas dari ujung tangga rumah atap Jeva.
"Siapa kau? Tidak usah ikut campur urusan kami," balas pria bertato melepaskan cengkeramannya pada lengan Jeva.
"Siapa aku itu juga bukan urusanmu!!! Kalau kalian tidak segera enyah dari sini, akan ku pastikan kalian pulang tinggal nama," desis pria itu dingin.
"Cih, kau fikir kita takut," balas pria berjanggut tidak terima dianggap remeh.
Ketiga pria itu akhirnya saling beradu otot, saling melemparkan bogem dan juga tendangan. Hingga memuat wajah ketiganya babak belur. Namun rupanya pria yang baru datang itu memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, terbukti bahwa detik ini kedua pria berbadan kekar suruhan Bos Wega itu terkapar di lantai dengan nafas kembang kempis.
"Sebutkan satu nama! Dan aku akan melepaskan kalian berdua," geram pria itu menatap tajam keduanya.
"W-wega R-respati. Bos kami bernama Wega Respati," ucap pria bertato dengan tergagap.
"Bagus! Sekarang menyingkir dari hadapanku dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Katakan pada Bosmu kalau urusannya dengan wanita itu selesai sampai disini. Kalau dia sampai datang kesini lagi, aku tidak segan segan untuk mengobrak abrik dunia hanya untuk menemukan dan membunuh Bosmu itu. Mengerti!" gertak pria itu mennyeramkan, kedua pria suruhan Bos Wega itu langsung kabur.
Pria yang hanya menggunakan kemeja warna biru donker dengan lengan di tekuk sampai siku itu berjalan menghampiri pemilik rumah atap ini. Rambut pria itu terlihat berantakan, sudut bibir yang berdarah dan juga beberapa lebam di wajahnya. "Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanya pria itu lembut.
"Siapa yang mengijinkanmu untuk ikut campur? Kau sudah melewati batasmu, Tuan Wenas," desis Jeva tajam.
Yap. Pahlawan yang telah menolong Jeva barusan adalah Daska Wenas. Pria tampan yang secara terang terangan menunjukan kertarikannya pada wanita dingin itu.
"Kaulah yang sudah kelewat batas. Aku tidak perduli dengan sikapmu yang mengabaikanku. Tapi aku mulai terusik kalau kau sudah membahayakan dirimu sendiri seperti tadi," balas Daska tak kalah dinginnya. "Demi Tuhan! Kalau aku sampai terlambat sedikit saja, kau fikir apa yang akan mereka lakukan? Hah!" bentak pria itu kalap. "Mungkin mereka akan memperkosamu, tapi bagaimana kalau mereka juga membunuhmu? Nyawamu dalam bahaya dan kau masih bisa bersikap angkuh seperti ini."
"Mereka tidak mungkin membunuh ladang uang Bos mereka sendiri," ujar Jeva dengan tenang, semakin menyulut amarah Daska.
"Sialan kau, Jev! Bagaimana bisa sikapmu sesantai ini? Kau bahkan tidak perduli bagaimana perasaanku," maki Daska marah "Aku benar-benar akan membunuh k*****t itu kalau sampai kau kenapa-kenapa!"
Jeva menghela nafasnya kasar. "Lebih baik sekarang kau pulang."
"Aku tidak akan pulang sebelum kau mengatakan padaku, apa masalahmu dengan rentenir k*****t itu," ucap Daska keras kepala.
"Bukankah kau itu pintar, seharusnya kau bisa menebak sendiri akar dari kedatangan mereka ke rumahku. Gunakan otak pintarmu itu! Cukup mengetahuinya, Das. Bukan menyelesaikannya," ucap Jevara sebelum berlalu pergi meninggalkan Daska sendirian.
Flashback Off