Bab 9

1152 Kata
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Belva begitu mereka tiba di dalam kamar milik Daska. Daska berdiri memunggungi Belva, tidak ingin menampilkan wajah marahnya pada perempuan itu. Sedangkan Belva menatap punggung tegap Daska dengan raut wajah heran sekaligus serius. Ia jarang melihat emosi di wajah Daska seperti saat ini, sudah pasti ada hal serius yang sedang terjadi. Hal serius yang melibatkan dirinya. Ada masalah apa? Daska tak menjawab karena sibuk menetralkan emosinya. Belva juga memilih diam dan tak bertanya lebih lanjut lagi. Perempuan itu memilih untuk menunggu sampai pria itu membuka mulutnya dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Hening cukup lama hingga tiba-tiba Daska membalikkan tubuhnya dan langsung menatap tajam perempuan yang saat ini berdiri di hadapannya. "Kau tahu 'kan kalau Jeva punya hutang yang cukup besar dengan para rentenir k*****t itu!" ucapnya menuntut. "Dari mana kau tahu..." Belva membungkam mulutnya rapat rapat. "E... e...e... itu...." Belva tak sanggup mengeluarkan kata katanya lagi hingga hening mengambil alih suasana di dalam ruangan luas tersebut. Lagi. "Heh." Daska mendengkus pelan. "Jadi benar," gumam Daska, menghela nasfas kasar. Diam dan terbatanya Belva cukup menjawab apa yang dia pertanyakan tadi. Belva menggigit bibirnya. "Das, itu..." "Kau mengetahui hal ini tapi kau sama sekali tidak memberitahuku!" geram Daska dengan gigi gemeletuk marah. Merasa kecewa pada sahabatnya itu, terlebih lagi marah pada dirinya sendiri. "Sialan kau!" Daska menatap nyalang Belva. "b******k!" teriak Daska tiba-tiba seraya menendang meja yang terbuat dari kaca hingga pecah dan menimbulkan suara gaduh yang membuat Belva gemetar ketakutan di tempatnya. Pria itu kembali memunggungi Belva. Dorrr...Dorrr.... (anggap saja suara pintu yang di gedor gedor yaa) "Daska, bukan pintunya!" teriak entah siapa pun dil uar kamar milik Daska. Suara gaduh di luar tak mencairkan suasana tegang di dalam ruangan luas itu. Belva melirik ke arah pintu sekilas. Berfikir apakah ia seharusnya kabur dari tempat ini atau menghadapi kemarahan Daska. Kabur. Tidak. Kabur. Tidak. "Ah, kalau akau kabur, kemarahan Daska justru akan semakin meledak. Hah, hadapi sajalah. Semoga saja malam ini aku masih bisa selamat," gumam Belva dalam hati. "Das, aku...." Belva berusaha membuka mulutnya tapi Daska menyelanya. "Aku masih bisa terima kalau kau melarangku untuk tidak mendekati Jeva. Tapi apa kau juga akan bertindak bodoh dengan tidak mempercayaiku sedikit pun!" bentak Daska marah, pria itu sudah berbalik badan dan kini menatap tajam perempuan di hadapannya. "Sumpah, demi apapun aku mencintai gadis itu! Kau fikir bagaimana perasaanku saat melihat dia hampir mati karena tidak bisa melunasi hutangnya, padahal aku punya begitu banyak uang! Aku merasa jadi orang paling t***l karena tidak mengetahui hal ini," imbuh Daska masih dengan nada tingginya. Belva masih diam di tempatnya dan menunggu Daska menyelesaikan ucapannya. "Dan perempuanitu... Perempuan itu dengan sangat keras kepalanya menolak bantuanku. s**t, kenapa ego perempuan selalu berada di atas awan? Hah!" maki Daska mengacak acak rambutnya frustasi. Memaki semua orang yang membuatnya terlihat bodoh.Suasana di dalam kamar Daska masih tegang seperti sebelumnya. Pria itu berdiri dengan kemarahan yang masih tersisa. Sedangkan Belva berdiri tak jauh darinya, meremas blouse yang ia pakai karena gugup. Mengenal pria itu lebih dari 10 tahun membuatnya tahu sifat Daska, bahkan hampir sama seperti ia mengenal kekasihnya. Baru kali ini ia melihat Daska marah seperti ini. "Kau tahu jelas bagaimana sifat Jeva," ucap Belva memberanikan diri membuka suara. Perempuan itu berusaha mati-matian mengenyahkan rasa takutnya pada pria yang mengamuk itu. "Dan sialnya, sifat itulah yang membuatku sangat marah," ucap Daska lirih. "Si bodoh itu. Apa dia tidak tahu kalau sifatnya itu sungguh menyebalkan? Berpura-pura menjadi perempuan yang bisa mengatasi sendiri masalahnya. Bersikap konyol dengan mengatasnamakan kata tegar. Membuat orang lain berfikir kalau hidupnya tanpa beban dan masalah. Cih, dia fikir jadi wanita mandiri lebih baik daripada jadi wanita yang hanya bisa menggantungkan hidupnya pada pria. Kalau semua perempuan di dunia ini punya pemikiran seperti dia, seharusnya semua makhluk pria di musnahkan saja. Dari pada hanyan diam dan tidak berguna," gerutu Daska kesal, merutuki sifat keras kepala wanitanya. "Dasar t***l, di saat seperti ini kau malah memaki hal yang tidak penting karena egomu tercoreng. Kalau kau merasa tidak berguna, itu memang takdirmu. Jangan bawa bawa makhluk sejenismu hanya karena wanitamu tidak membutuhkanmu, mungkin kau saja yg memang tidak bisa di andalkan," cibir Belva tak peduli bahwa sebelumnya dia sempat takut dengan kemarahan Daska. "Yak! Apa maksudmu? Siapa yang tidak berguna? Sahabatmu itu saja yang tidak mau mencoba untuk bersandar padaku," omel Daska. "Lagipula, kalaupun aku tidak mampu untuk mengatasi masalahnya. Aku akan tetap berusaha, berjuang melakukan apapun untuk gadis itu akan menjadi tujuanku kedepannya. Seharusnya dia tahu itu," imbuh Daska bergumam lirih. "Kalau begitu sebelum kau berjuang menyelesaikan masalah Jeva, lebih baik kau berjuang mencari tahu apa masalah itu. Dia tidak mungkin mendongengkan masalahnya kepadamu dengan suka rela, 'kan?" "Aku hanya perlu bertanya padamu," sahut Daska dengan santainya. "Aku tidak tahu apapun. Orang-orang yang di percayai Jevara... Aku rasa, aku belum masuk ke dalam daftar list itu," jawab Belva mengangkat bahunya, perempuan itu jujur. Daska hanya terdiam setelah mendengar kalimat itu, betapa dingin dan tak tersentuhnya wanita yang telah dia tetapkan menjadi tawanannya itu. "Tapi kenapa kau bisa tahu kalau Jeva punya hutang yang sangat besar pada rentenir itu?" tanya Daska penasaran. "Aku pernah melihatnya bertemu dengan salah satu anak buah dari debt kolektor itu. Saat aku bertanya pada Jeva, dia hanya mengatakan kalau ada sedikit urusan dengan orang itu. Tentu saja aku tidak percaya, lalu aku menyuruh orang untuk mencari informasi tentang orang itu. Kemudian aku tahu," jelas Belva pada akhirnya. "Kalau sudah tahu kenapa tidak membantunya?" bentak Daska tak habis fikir. "Dan mempertaruhkan hubunganku dengannya. Susah sekali untuk bisa dekat dengan seorang Jevara, kau fikir dia masih mau melihat wajahku setelah tahu kalau aku membantunya. Aku tidak ingin usahaku sia sia," sahut Belva. "Heh, kau benar. Perempuan keras kepala itu akan langsung mendepakmu keluar, kalau dia sampai tahu kau membantunya," ucap Daska membenarkan ucapan Belva barusan "Dan sekarang aku tinggal menunggu momen itu," gumam Daska mengacak acak rambutnya hingga berantakan. "Cih, memang sebelumnya kau diizinkan masuk. Kau hanya di perbolehkan menunggu di teras depan, untuk bisa masuk ke dalam ruang tamu di rumahnya kau masih membutuhkan waktu yang panjang. Sekarang kau justru membuang kesempatanmu untuk mengetuk bel pintu rumah Jeva. Yang bisa kau lakukan sekarang hanya menunggu kesempatan untuk mengetuk lagi." "Dan semoga aku mendapat kesempatan itu... ah, tidak... aku akan mencari kesempatan itu," gumam Daska tersenyum tipis. Dorr... dorrr... "YAK, DASKA! KAU APAKAN ADIKKU? HUH!" teriak sebuah suara di sertai gedoran pintu yang cukup keras. "Astaga! Sejak kapan si b******k itu ada di rumahku?" omel Daska baru mempertanyaan suara gaduh di luar kamarnya. Pria itu mengenali suara teriakan barusan. "Hahaha... Tante Shinta pasti panik sekali saat melihatmu menyeretku dengan keadaan marah marah tadi. Lalu dia menelfon Bang Denta," celoteh Belva terkekeh pelan "Bersyukurlah, karena yang Tante Shinta telfon itu Bang Denta dan bukannya Prasta. Kau pasti akan di hajar priaku itu kalau dia tahu sikap kasarmu padaku." Dor! Dor! Dor! "Das! Kalau kau tidak segera membuka pintunya, aku akan mendobraknya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN