Bab 8

1021 Kata
19.24 wib, kediaman keluarga Wenas. "Hallo, semua!" sapa Belva dengan riang saat mendapati seluruh keluarga Wenas berkumpul di ruang makan. Tuan Wenas senior menempati kursi paling ujung, lalu di samping kirinya ada sang istri yang tersenyum ke arah Belva alias ke arah calon mantu. Kemudian di samping perempuan paruh baya itu ada pria jangkung yang sedang sibuk dengan ponsel di tangan kanannya. Pria bermarga Wenas itu hanya melambaikan tangannya ke arah Belva. Tak terlalu perduli dengan kedatangan calon kakak iparnya tersebut. Belva hanya melengos saat melihat sikap tak acuh calon adik iparnya tersebut. Perempuan itu lalu berjalan menuju kursi di hadapan calon ibu mertuanya. "Rega, simpan dulu ponselmu. Mama pernah bilang 'kan, tidak ada gadget di meja makan," tegur sang ibu kepada si bontot. Melirik anak bungsunya sembari menunuk gadget dengan dagunya. "Sebentar, Ma. Tanggung banget ini," sahut pemuda bernama Rega itu masih memainkan ponselnya. Ia tengah memainkan sebuah game legend di ponselnya. Mengasah hobinya sebagai seorang gamers. "Memangnya apa yang membuatmu sibuk, seperti ini? Chatting dengankekasihmu ya?" goda Belva tersenyum meledek calon adik iparnya itu. Bagi pemuda yang baru saja menginjak bangku kuliah, wajar jika Raga lebih banyak menghabiskan waktu dengan lawan jenis alih alih keluarganya. "Punya kekasih saja tidak, bagaimana bisa chattingan. Dia itu tidak tertarik dengan yang namanya perempuan," sahut Sinta, membuat 2 orang di meja makan itu tertawa terbahak bahak. Sedangkan yang di tertawakan hanya menggerutu sebal sembari melirik ibunya sinis. "Ucapan itu doa lho, Ma, memangnya Mama mau kalau aku benar-benar tidak tertarik sama perempuan," omel Rega sebal. Jemarinya masih terus bermain di atas layar ponsel. "Bagi Mama sih tidak apa-apa." Sinta mengangkat bahunya tak acuh. " 'Kan Mama masih punya 2 anak yang normal. Jadi Mama tidak terlalu rugi kalau pun pada akhirnya kau itu tidak normal," balas Sinta sukses membuat Rega menganga shock. Rega bahkan mengabaikan permainannya hingga ia harus menerima kekalahan. "Aish," desisnya pelan, pemuda itu menaruh ponselnya ke atas meja sedikit kasar. "Jadi gimana? Kamu masih normal atau tidak?" Rama ikut mengejek putra bungsunya. "Astaga, Ma! Pa! Jahat banget! Aku masih normal! Aku masih suka sama perempuan. Aku masih suka menonton fim bokep. Aku masih suka menggoda Iyem pembantu tetangga sebelah," omel Rega mencak-mencak. Membuat semua orang jadi tertawa melihat tingkah kekanakan juga aib yang baru saja pemuda itu katakan. "Jadi, selama ini kau suka suka menggoda Mbak Iyem.Terus kau juga suka nonton film bokep," ujar Tuan Wenas tersenyum menyeringai. "Eeh,.... itu..." Pertanyaan Tuan Wenas barusan membuat Rega gelapapan. "Alhamdulillah deh, kalau begitu. Mama fikir kau itu tidak normal. Umur sudah 20 tahun tapi belum pernah membawa perempuan ke rumah," ujar sang Mama lagi-lagi membuat Rega kaget bukan main. "Yah Salam, Mamaku ajaib banget sih," gumam Rega tak jelas. "Oh, iya, Tan. Daska dimana? Dari tadi aku belum melihatnya. Kenapa dia tidak ikut makan malam?" tanya Belva merubah topik pembicaraan. Perempuan itu celingak celinguk mencari keberadaan Daska. "Lho, bukannya masih di kantor ya." Itu suara Tuan Wenas. "Sudah pulang kok, Om. Tadi memang Daska mengajak Belva pergi bersama, tapi aku menolak karena memang aku membawa mobil sendiri," terang Belva. "Jadi sampai sekarang, Daska belum sampai rumah?" tanyanya bingung. "Dia tidak ada di rumah." Bosan bermain game, kini Raga tengah mengecek akun sosial medianya. Tak perduli jika tadi sang ibu sudah menegurnya. "Lalu dimana dia sekarang?" gumam Sinta pelan. "Hah." Rega memutar matanya jengah. Ibunya selalu berlebihan jika sudah menyangkut tentang kakak kakaknya. Padahal Daska sudah lebih dari 'dewasa' untuk pulang malam dan tidak melapor layaknya anak kecil. "Biar aku telfon, Bang Daska," ujarRega kemudian mendial nomor sang kakak. Tut. Tut. Tut Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Anda terhubung dengan- "Ponselnya mati, Ma," lapor Rega saat sambunganya tak terjawab. "Astaga, terus dia kemana ya?" Sinta semakin khawatir saat ponsel putranya tidak bisa dihubungi. "Tenang, Ma, Daska itu sudah dewasa. Sudah bisa menjaga dirinya sendiri, lagipula untuk ukuran Daska ini masih terbilang sore. Biasanya 'kan dia pulang lewat tengah malam juga tidak apa-apa," ucap Rama pada istrinya. Mencoba menenangkan istrinya yang selalu berlebihan. "Tapi perasaan Mama tiba-tiba tidak enak, Pa. Mama takut terjadi sesuatu pada Daska," sahut Sinta masih tetap khawatir. "Daska pasti tidak apa-apa, Tan. Mungkin baterai ponselnya habis, makanya tidak bisa dihubungi," ucap Belva menenangkan sang calon ibu mertua. "Iya, Ma. Ya udah yuk kita lanjut makan. Nanti kalau lapar, Bang Daska juga pulang," ucap Rega dengan santainya. "Ya sudah, ayo kita lanjut makan," ucap Tuan Rama. Sinta masih melirik ke arah pintu masuk ruang makan. Mungkin saja sebentar lagi Daska muncul. Ia lalu menghela nafasnya pelan setelah harapannya tak terkabul, ia lalu menoleh ke ara calon menantunya. Sinta tidak ingin makan malam hari ini kacau hanya karena sikap paranoidnya. "Belva, makan yang banyak ya," ucapnya kepada Belva dengan senyum ramahnya. Mencoba tak terlalu memikirkan tentang Daska yang belum pulang. "Iya, Tan." Belva mengangguk pelan dan mulai lanjut makan. Beberapa menit kemudian, Daska tiba di rumahnya. Pria itu melirik mobil milik Belva yang terparkir di halaman rumahnya. Kemudian dengan langkah tergesa-gesa, ia berjalan melewati ruang tamu, ruang keluarga dan sampailah ia di ruang makan. "Daska! Ada apa dengan wajahmu?" tanya Sinta kaget saat mendapati wajah tampan putranya lebam-lebam dengan sudut bibir yang robek. Pria itu tak mengabaikan pertanyaan Mamanya dan malah berjalan ke arah Belva yang tengah menatapnya heran. "Ikut aku sebentar!" ucap Daska dan langsung menarik tangan perempuan itu bahkan sebelum mendengar persetujuan dari calon kakak iparnya itu. Semua orang yang berada di ruang makan hanya melihat kepergian Daska dan Belva dengan tatapan heran. Merasa cemas dengan apa yang terjadi pada Daska saat ini, terlebih lagi saat melihat kemarahannya sewaktu menarik lengan Belva tadi. "Aku harus menyusul mereka," ujar Sinta beranjak dari kursinya. Rama langsung mencegah istrinya pergi. "Kita tunggu saja dulu, Ma. Kalau memang kondisinya tidak kondusif, baru kita ke sana," nasehatnya kemudian. "Tapi kalau mereka kenapa-kenapa bagaimana? Papa bisa lihat kalau Daska sedang emosi, Mama takut kalau dia melampiaskannya pada Belva." Sinta tak setuju dengan ide suaminya barusan. "Aku telfon Bang Denta saja, Ma," ujar Rega yang juga menyadari emosi sang kakak. "Iya, iya, telfon Denta dan suruh ia ke sini sekarang," suruh Sinta cepat. Rega segera menuruti perintah Mamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN