Bab 7

1339 Kata
"s**t! Apa-apaan tadi?" teriak Daska saat mereka berdua sudah ada di dalam ruang kantornya. "Apa? Aku hanya berusaha untuk mendekati calon karyawanmu. Apa itu salah? Baru kali ini kau merecoki masalah percintaanku," ujar Denta heran. Tak habis fikir dengan sikap posesif Daska barusan. Astaga, pria ini! Padahal sudah jelas Daska memperlihatkan kemarahaan- lebih tepatnya kecemburuannya- dan pria itu tidak menyadarinya. Ya Tuhan, payah sekali pria itu. "Ta, dia itu Jevara. Aku sudah menawan perempuan itu dari awal saat dia masuk ke kantor ini yang itu berarti sudah beberapa bulan yang lalu. Kau sekarang mengerti 'kan!" jelas Daska dengan rahang mengeras. "Apa? Jadi kau juga menyukainya?" tanya Denta pura pura terkejut. Padahal sejak di kantin tadi ia sudah memiliki firasat jika Daska memang punya hubungan dengan perempuan tadi. "Argh, sialan kau! Kenapa kita bisa menyukai perempuan yang sama?" imbuhnya pada akhirnya, pria itu mengacak acak rambutnya frustasi. Pasalnya perempuan bernama Jevara itu memang sangat menarik dan mempesona, tidak heran pemilik gedung berlantai 54 itu bisa jatuh cinta pada perempuan ayu itu. "Ck, payah," decak Denta kesal. "Kau ingin bertarung untuk memperebutkan Jevara?" tanya Daska was-was. Raut wajahnya menandakan jika ia sedang serius. Sangat serius malah. "b******k! Kau fikir kita ini sedang main sinetron!" maki Denta tak habis fikir. "Tanyakan pada penulis cerita ini dan akan ku pastikan dia akan membuatku mengalah pada cinta segitiga ini. Kau menang, Dude!" ucap Denta seraya memukul pundak Daska pelan. "Sial! Kau benar," ucap Daska mendengkus lalu tersenyum bahagia. Ia tak perlu bertarung dengan sahabatnya sendiri karena seorang perempuan. Meskipun jika nanti mereka tetap bertarung, ia tetap akan mengusahakan segala cara untuk menang. "Ok. Sekarang rencanamu apa? Sepertinya dia tipe orang yang sulit untuk didelati," ujar Denta lalu duduk di sofa. "Lagi lagi kau benar. Aku sudah mencoba mendekatinya secara terang terangan tapi dia tidak pernah meresponku. Dan adik sialanmu itu, dia bilang ingin membantuku tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya. Membuat orang darah tinggi saja," keluh Daska pada Denta. "Belva mengenal Jeva?" tanya Denta yang dibalas anggukan oleh pria itu. "Wuah, semakin sulit saja. Diakan sudah tahu track recordmu, sudah dipastikan dia tidak akan membiarkan Jeva jatuh ke pelukan playboy sepertimu," ucap Denta justru membuat tingkat kepercayaan Daska menurun. "Bastard! Julukan itu lebih pantas disematkan untukmu. Ck, sial sekali karena aku harus menjadi sahabatmu, imageku jadi ikutan jelak. Masa playboyku sudah hilang saat masa putih abu abu selesai, tidak sepertimu yang mengganti wanita sama seperti mengganti k****m," ujar Daska mengumpati sahabatnya itu. "Hey, Bung! Kenapa jadi menyalahkanku? Lagipula ucapanmu itu salah. Aku tidak pernah memakai komdom," ucap Denta lalu tertawa puas. "Bangkai! Sialan, mati saja kau!" maki Daska untuk kesekian kalinya. Kemudian keduanya tertawa bersama. "Baiklah, hentikan tawa konyol ini. Aku bertanya serius, apa rencanamu? Terlebih lagi hambatanya sikap dingin perempuam itu dan juga adikku," ucap Denta kembali bersikap serius. "Entahlah, aku belum memikirkannya. Yang jelas aku tidak akan pernah berhenti untuk mengejar Jevara," balas Daska. "Kenapa?" "Hehm, apanya?" tanya Daska heran. "Kau bisa mendapatkan perempuan manapun tanpa perlu usaha sedikitpun. Tapi kenapa kau memilih untuk mengejar satu perempuan yang bahkan tidak pernah menoleh padamu, maksudku belum," ujar Denta menjelaskan. "Aa... Itu karena..." "....karena dia berbeda..." "Apa? Jangan bilang kalau dia berbeda karena dia tidak pernah tertarik padamu. Wanita yang dingin selalu terlihat lebih mempersona. Begitu?" potong Denta tertawa mengejek. "t***l! Itu kalimat yang diucapkan oleh tokoh utama pria dalam sinetron. Ini bukan sinetron, Bung!" "Terus kau mau bilang apa?" "Dia berbeda karena.... Aku juga tidak tahu alasannya apa," sahut Daska tersenyum tiga jari. "b*****t! Aku kira kau akan mengatakan kalimat yang mampu membuatku terbengong saking herannya. Sialan! Ck, benar kata orang. Cinta bisa membuat orang tidak waras jadi tambah tidak waras," ucap Denta geleng geleng kepala tak habis fikir. "Ck. Aku tidak akan memakimu karena itu benar. Sialan sekali bukan, cinta itu," sahut Daska. "Hadeuh, ya sudah. Fikirkan lagi cara untuk menakhlukan Jeva dan cari lagi alasan apa yang membuatmu mengejar-ngejar dia. Aku balik ke kantor dulu," ucap Denta lalu beranjak pergi meninggalkan Daska yang masih senyum senyum tidak jelas. ****** Belva masih sibuk telfon dengan kekasihnya, bahkan saat tadi Daska dan Denta melewati mejanya dengan raut wajah kesal, perempuan itu sama sekali tidak perduli. "................." "5 tahun waktu yang lama Tuan Wenas. Tidak mungkin aku hanya setia padamu, aku tidak mungkin mengabaikan pesona para pria yang menggodaku," ucap Belva tersenyum kecil walaupun pria di negeri gingseng itu tidak dapat melihatnya. "Astaga, jujur sekali kalau kau mau selingkuh dariku," cibir pria itu. "Hehm, bagaimana yaa? Aku ini tipe perempuan yang tidak bisa mengabaikan ketampanan pria pria di luaran sana. Sayang kan kalau ketampanan mereka di anggurin," celoteh Belva. "Kalau begitu aku akan membunuh siapapun yang berani mendekatimu," sahut pria itu dengan santai. bahkan terselip tawa renyahpada ucapannya barusan. Namun Belva tahu kalau ucapan pria itu bisa ter-realisasikan dengan sangat mudah, jadi perempuan itu memilih untuk menghentikan candaannya. "Aku hanya bercanda. Serius sekali ucapanmu itu," ucapnya kemudian. "Kapan aku bicara serius? Nada bicaraku santai sekali, Belva Sayang," sahut pria itu. "Cih," decak Belva. "Kalimatmu itu lebih banyak mengandung unsur ancaman dari pada candaan," imbuhnya. "Hehm... Kau benar," ucap pria itu "Jadi kau tidak akan...." "Hei... Aku bilang bercanda. Aku tidak serius. Jadi hentikan pembicaraan ini. Okay?" potong Belva cepat. "Kita bahas saja kegiatanmu selama di korea. Hehm?" Pria itu tersenyum di balik kursi singgasananya. "Baiklah. Kegiatanku di korea cukup menyenangkan. Banyak sekali orang orang baik yang nyaman untuk di ajak hang out bersama. Kau tahu 'kan, Sayang, perempuan korea itu cantik-cantik. Mereka juga seksi, tinggi, menggoda, mereka bisa sangat...." "Sayang, topik macam apa ini? Aku menanyakan kegiatanmu di korea, kenapa kau... Oh, astaga! Jangan bilang kalau kau pernah jalan bersama perempuan perempuan itu. Benar begitu?" "Hehm... Bagaimana yaa? Aku ini tipe laki-laki yang tidak bisa mengabaikan pesona perempuan di luar an sana," ucap pria itu mengulang kembali kalimat yang sempat di lontarkan oleh Belva tadi. "YAK! Tuan Wenas! Awas saja kalau kau berani selingkuh dengan perempuan kurang gizi itu, aku akan membunuhmu! Lagipula mereka itu produk oplas, aku lebih original! Mereka&@7@7#/%78%₩$§€}₩£§£[€}€₩§€§€§€₩§€§€₩€§€§§€₩€§€§€§§€₩€}¢$$:-X:-D/₩$₩$₩$§$§:-X/₩§:-Q;;»:-D;:₩o_O/₩§:-Q-§:-D/₩:-D/₩:-D/₩:-D:-D/₩:-D/₩₩:-D....." Dan mengalirlah omelan, petuah dan ancaman yang dilontarkan Belva untuk kekasihnya. Kalimat panjang lebar yang mengandung emosi di setiap per katanya. Perempuan itu bahkan tidak sadar kalau omelan itu hanya di tanggapi dengan kekehan tawa oleh kekasihnya. ".... Jadi sekarang kau mengertikan!" celoteh Belva mengakhiri omelannya. "Aku mengerti. Mereka KW dan kau ORI," terang pria itu menahan tawanya sebisa mungkin agar tidak pecah. "Hehm. Bagus kalau kau mengerti," ucap Belva tersenyum penuh kemenangan. "Tapi Belvaku sayang, meskipun mereka KW tapi mereka itu KW SUPER lho. Sebelas duabelas lah," ucap pria itu menggoda, membuat senyum lebar menghilang di wajah cantik kekasihnya. "YAK! Prasta Wenas!" teriak Belva kesal. Mendengar teriakan kesal sang kekasih sontak menguraikan tawa renyah milik Tuan Wenas itu. Tawa renyah yang sangat di rindukan Belva. "Arrasseo.... Arrasseo. Aku tidak akan selingkuh. Promise," ujar Pria bernama Prasta tersebut setelah tawanya reda. "Tapi peraturan itu berlaku untukmu juga sayang, kau tidak boleh melirik pria lain. Aku serius saat mengatakan akan membunuh siapapun pria yang menyentuhmu, jadi jangan coba coba," imbuhnya dengan nada serius. "Bagaimana aku bisa selingkuh, kalau aku sudah mendapatkan pria sempurna sepertimu? Kau fikir aku ini bodoh." "Baiklah. Pria sempurnamu ini akan meeting dulu, bye sayang. Jangan lupa makan malam," ucap Prasta mengakhiri sambungan telfon itu. "Astaga! Ini baru beberapa bulan, tapi Tuan Wenas itu sudah membuatku sangat merindukannya," rengek Belva kembali menaruh ponselnya di atas meja. "Kau saja yang lebay," sahut suara di ambang pintu di depannya. "Ada apa? Kau butuh sesuatu?" ucap Belva ketus. "Tidak. Aku hanya mengatakan kalau Mama mengundangmu makan malam. Kau mau berangkat bersama atau sendiri-sendiri?" "Aku bawa mobil. Kau duluan saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN