Flashback on
BRAK!
"Apa itu yang jatuh?" gumam Belva melepas tautan bibir pria yang saat ini menciumnya. Kepala perempuan itu hendak menoleh kebelakang, mengecek barang apa yang sudah mereka pecahkan.
Pria itu menarik kepala Belva hingga kembali berhadapan bahkan sebelum perempuan itu mengetahui barang yang pecah tersebut. "Abaikan saja," sahut pria itu kembali memagut bibir ranum milik Belva, ciuman intens yang sarat akan gairah. Tangan kanan pria itu mencengkeram erat pinggang Belva sedangkan tangan yang kiri menekan tengkuknya guna memperdalam ciuman mereka.
Dalam sekali gerakan, pria itu membawa Belva ke dalam gendongannya bahkan tanpa melepas pagutan mereka. Membawa tubuh kekasihnya itu menuju kamar utama mansion tempat pria itu tinggal. Kemudian dengan sangat pela dia menjatuhkan tubuh Belva di atas ranjang kingsize miliknya.
Pria itu melepas pagutan itu sejenak guna menatap dalam raut wajah sang kekasih, bagaimana tatapan sarat akan gairah yang juga balik menatapnya. Peluh di sekitar dahi dan pelipis perempuan itu, juga bibir ranumnya yang mulai bengkak hingga tarikan nafas tak beraturan milik sang wanitanya menjadi pemandangan yang sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan.
Pria itu lalu mengusap peluh itu dengan ibu jarinya, kemudian menyatukan hidung mancung mereka. "Kenapa kau bisa begitu seksi dan menggoda begini?" bisiknya pelan, aroma mint dari mulut pria itu kontan menggelitik kulit wajah Belva. Membuat senyum cerah terbit di wajah yang sudah memeah karena tersipu itu.
Belva mengalungkan kedua tangannya ke leher kekasihnya. "Karena aku ingin menggoda seorang Wenas," ucap Belva membelai rambut hitam prianya.
"Dan misimu berhasil Nona Raypraja. Aku tergoda dan kau harus tanggungjawab," ucap pria itu tersenyum menyeringai .
"Baiklah," sahut Belva lalu mengecup bibir pria itu. "Bagaimana?" imbuhnya menahan senyum. Ia lalu kembali mengecup namun cukup lama. Hisapan yang dalam dan penuh gairah. "Aku sangat menginginkanmu," bisik Belva setelah menjauhkan bibirnya.
"Tunggu aku selama 5 tahun," ucap pria itu menegakkan punggunggnya hingga tautan tangan Belva di lehernya terlepas. Pria itu menatap dalam kedua manik mata milik Belva. "Dan saat aku kembali, aku akan langsung menjadikanmu istriku," imbuhnya lalu meraih tangan milik Belva dan mengecupnya lama. Ada cincin berlian yang entah sejak kapan bisa berada di jari manisnya. Pria itu sedang melamarnya?
"Ck. Tidak romantis sekali," cibir Belva sembari mengamati cincin di jari manisnya. "Apa apaan ini? Mana makan malam mewahnya? Ucapan ucapan manis. untukku? Aku bahkan bermimpi kalau kau akan berlutut dan memasangkan cincin ke tanganku," cibir Belva kesal. Tidak menyangka jika pria yang selama ini ia kencani akan melamarnya dengan cara seperti ini. "Ini apa? Kau bahkan mengucapkan perpisahan tapi juga lamaran di saat yang sama. Menyebalkan!" gerutu perempuan itu ikut duduk di hadapan kekasihnya.
"Maaf." Pria itu meraih tangan milik Belva dan menggenggamnya erat. "Aku akan melakukan semua yang kau inginkan saat aku kembali ke Indonesia," imbuhnya menjanjikan satu hal supaya kekasihnya itu tidak marah lagi.
"Jadi, kau mau pergi kemana dan untuk apa?" tanya Belva pada akhirnya, memutuskan untuk tidak marah lagi lagi percuma saja. Pria itu akan tetap pergi dan mereka tetap LDR, kecuali jika ia juga ikut pergi bersamanya ke Korea.
"Papa menyuruhku ke Korea selama 5 tahun. Menghandle masalah yang terjadi di kantor pusat sana, jadi aku harus pergi," jelas pria itu tersenyum tipis.
"Oh, begitu." Belva mengangguk mengerti. "Kapan kau berangkat ke Korea?" tanyanya kemudian.
"Besok pagi," jawab pria itu, tersenyum tipis karena waktu mereka kurang dari 24 jam lagi. Bahkan hanya beberapa jam saja.
"Baiklah." Belva mengangguk mengerti.
"Tumben kau tidak mendebatku. Biasanya kalau aku bertugas ke luar kota atau luar negeri, kau akan menjadikan Wenas lain untuk di jadikan tumbal. Kenapa sekarang tidak?" tanya Pria itu dengan kerutan heran dikeningnya. Merasa heran karena Belva menerima kepergiannya tanpa tumbal seperti sebelum sebelumnya. Meskipun pada akhirnya usaha perempuan itu tetap gagal dan ia tetap pergi.
"Aku tahu dia juga sibuk. Kasihan spesies yang satu itu," ucap Belva asal. " Lagipula, di sini ia sedang tahap pengembangan bisnis baru, dia sangat sibuk sekali." Belva diam sejenak. "Sudahlah. Sekarang peluk aku, aku butuh mengcharge energiku sebelum nanti kita kembali berpisah," imbuh perempuan itu tersenyum manja, melebarkan kedua tangannya agar di sambut pelukan oleh sang kekasih.
"Maaf ya," gumam pria itu yang langsung memeluk erat wanitanya. Menyalurkan kerinduan yang mencuranginya, tentu saja, mereka belum berpisah dan rasa terkutuk itu sudah merasukinya. Diciumnya pelipis lalu rambut wangi milik Belva, berlama lama disana hingga 5 menit kemudia Belva melepaskan pelukan itu.
"Ayo kita tidur! Besok aku ada wawancara kerja," ajak Belva kemudian, seolah olah drama barusan tidak pernah terjadi.
"Hanya begitu moment perpisahan kita. Kau hanya bersikap manja padaku selama 5 menit. Padahal aku akan meninggalkanmu selama 5 tahun, jadi bagimu itu hanya sebanding dengan pelukan 5 menit," omel pria itu tak habis fikir melihat sikap tenang kekasihnya.
"Kita sudah pernah pisah selama 10 tahun, Sayang. Waktu 5 tahun tidak ada apa apanya," ujar Belva meraih wajah prianya lalu mengecup bibir penuh miliknya pelan.
"Hemh, kau benar." Pria itu mengangguk lalu tersenyum setuju.
Flashback of
Belva menekuni cincin berlian pemberian kekasihnya di jari manis tangan kanannya. Tersenyum bahagia mengingat moment lamaran dulu di mansion pria itu, betapa bahagianya Belva saat itu.
Perempuan itu lalu menghela nafasnya pelan. "Ini bahkan belun ada 1 tahun. Tapi aku sudah sangat sangat sangat merindukanmu, kalau kau kembali nanti. Kau benar-benar harus mempersuntingku, Tuan Wenas," gumam Belva pada frame foto di sudut meja kerjanya yang menampilkan foto kekasihnya.
"Bel. Ayo makan siang!" ajak Dona sberdiri di ujung lorong.
"Kau duluan saja. Nanti aku menyusul," sahut Belva tersenyum ramah pada rekan kerjanya itu. Kemudian perempuan itu meraih ponsel di atas mejanya lalu mendial nomor seseorang. "Halo," sapa Belva ceria.
*****
"Kita dalam satu gedung Belvara. Untuk apa kau menelfonku?" ucap Jeva ditelpon. Perempuan itu sedang berada di kantin, menikmati makan siang saat ponselnya berbunyi menandakan adanya panggilan.
"....."
"Aku di kantin. Kau datang saja kesini," jawab Jeva tak acuh.
"....."
"Hehm," sahut Jeva lalu memasukan ponselnya ke saku blazernya. Ia kembali meraih sendok dan garpu untuk melanjutkan acara makan yang sempat tertunda. Ia terkejut ketika ada seseorang yang duduk di hadapannya.
"Hai," sapa Denta dengan senyum 3 jari yang menimbulkan lesung pipit di kedua pipinya.
Perempuan yang di sapa itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali makan dalam diam. Tak perduli dengan keberadaan pria yang tadi menyapanya. Kedua tangannya sibuk menyendok sedangkan mulutnya mengunyah.
Denta yang merasa di abaikan hanya diam saja mengamati cara makan perempuan yang duduk di hadapannya itu. Sesekali tersenyum saat melihat mulut mungil perempuan itu mengunyah. Kedua tangannya menopang kepala di atas meja, mengamati secara terang terangan sosok di hadapannya tak perduli jika sikapnya membuat risih.
"Kau melupakanku? Aku...."
"Kau tidak bekerja disini," ucapan Denta dipotong dengan kalimat pernyataan dari perempuan itu. "Lalu apa yang kau lakukan disini? Bertemu ibumu atau kali ini nenekmu?" ucap perempuan itu mengingat kejadian kemarin di butik.
"Hahahaha... Jadi kau mengingatku yaaa. Tidak ku sangka," kekeh Denta tertawa senang. "Aku bertemu sahabatku," imbuhnya kemudian.
Jevara hanya mengangguk sekilas dan tetap melanjutkan acara makannya.
"Kau sudah lama bekerja disini?" tanya Denta mencoba memecah keheningan.
"Aku..."
"Berapa lama ia bekerja di sini, itu bukan urusanmu," potong sebuah suara di belakang Denta. Pria itu lalu mengambil tempat duduk di samping Denta.
"Pak Daska," sapa Jeva sopan.
"Haissshh. Sudah aku bilang jangan memanggilku, Pak. Kau cukup memanggilku Das-ka," keluh Daska kesal. Berulang kali ia meminta Jeva untuk tidak memanggilnya 'Pak' tapi perempuan itu sama sekali tak mengindahkannya. Sapaan 'Pak' membuat jarak di antara mereka berdua semakin terbentang lebar.
"Maaf, Pak, memang ketentuannya harus seperti itu," jawab Jevara sopan.
Daska hanya menghela nafas lelah, selalu begitu, Jeva tak pernah melewati batasan antara bos dan bawahan. Menyebalkan sekali, padahal Daska berharab bisa lebih dari itu.
"Wuah, aku tidak menyangka kau akrab dengan karyawanmu," celoteh Denta setelah sedari tadi hanya mengamati.
"Ck, ayo kita pergi!" ajak Daska pada sahabatnya itu.
"Kau saja yang pergi! Aku masih ingin disini," tolak Denta mentah mentah.
Daska melotot tajam pada pria itu. "Denta. Aku pergi, itu berarti kau juga harus pergi," geram Daska.
Melihat aura membunuh dari pria itu, mau tidak mau Denta pun segera beranjak berdiri.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Besok aku akan ke sini lagi!" seru Denta kepada Jeva.
"Jangan coba coba," tegur Daska, menarik lengan Denta.
"Aku akan menelfonmu!" seru Denta masih belum ingin menyerah.
"Kalau kau melakukannya, itu berarti kau cari mati." Daska kembali memperingatkan.
"Kita bisa pergi makan malam bersama." Mendengar ancaman dari Daska, bukannya berhenti pria itu justru semakin ingin menggoda.
"b*****t! Tutup mulutmu!" maki Daska pada sahabatnya itu. Mereka berdua pun menghilang dari pandangan orang orang di kantin tersebut.