Bab 5

1040 Kata
Pegawai kantor Wenas Grub berbisik-bisik saat melihat dua pria tampan berdiri menunggu lift. Mereka yang kebanyakan kaum hawa melirik sekilas sembari senyum-senyum saat melewati lorong depan lift. Denta yang melihat gelagat pegawai perempuan di kantor sahabatnya memasang senyum andalannya, membuat kaum hawa itu semakin salah tingkah. "Tukang pamer," cibir Daska yang mengamati tingkah Denta barusan. "Beberapa menit yang lalu kau baru saja mengaku tobat padaku, lalu sekarang kau melupakannya begitu saja." Pria itu mengomel layaknya ibu ibu di pasar. "Ya, itu namanya sopan santun, Bodoh," sahut Denta memberi alasan. "Cih, sopan santunmu itu hanya berlaku untuk kaum hawa saja, t***l," balas Daska tak mau kalah. "Itu karena..." Ting! Ucapan Denta terpotong oleh suara denting dari lift yang terbuka. Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong. Daska segera memencet tombol dan lift kembali tertutup. Pria itu kemudian menekan angka lantai yang diinginkan. "Lihat! Adikmu masih mengomel padaku, bahkan lewat chat." Daska memperlihatkan ponselnya ke arah Denta. "Hahaha." Denta langsung tertawa setelah membaca makian dari adiknya untuk Daska. "Aku jamin, beberapa jam nanti Si Wenas sialan itu akan memaki-maki kita karena sudah membuat kekasihnya kesal dan bahkan hampir menangis seperti tadi," celoteh Denta menanggapi pesan ultimatum dari adiknya. "Atau mungkin dia akan langsung menghajar kita. Bukan tidak mungkin kalau dia akan mengambil penerbangan langsung ke Indonesia demi menghajar kita yang sudah membully Belva," sahut Daska menyeringai geli. Di otaknya sudah terbayang betapa kalimatnya tadi bisa terealisasikan dengan sangat mudah, pria bermarga Wenas seperti dirinya itu sangat mencintai sang kekasih. Sudah pasti dia rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menghajar mereka berdua. "Kau benar. Pria itu bisa melakukan apapun demi adikku." Denta setuju dengan ucapan Daska barusan. "Cih! Pakai mantra apa si Belva sampai kekasihnya itu bertekuk lutut padanya?" imbuhnya tak habis fikir. "Hahaha. Kau fikir adikmu itu penyihir." Daska tersenyum geli mendengar pertanyaan Denta barusan. Ting! Pintu lift terbuka di lantai yang mereka berdua inginkan. "Kau.... Hei! Kau mau kemana? Kantin sebelah sana, Bung," ucap Daska saat melihat Denta justru melangkah ke arah kiri dan bukannya kanan. "Aku ingin mencari seseorang. Salah satu pegawaimu," sahut Denta tak acuh. Fokus pria itu hanyalah deretan pegawai WENAS GROUB yang masih sibuk mengerjakan tugas padahal 10 menit lagi sudah tiba jam makan siang. "b*****t! Sekarang siapa lagi korbanmu itu? Huh! Jangan meracuni pegawaiku dengan virus kelaminmu," maki Daska memperingatkan. "s**t! Jangan bawa-bawa masa depan laki laki. Kau fikir aku serendah itu. Aku tidak sembarangan menebar benih. t***l!" maki Denta menyeringai bodoh. "Ck. Who's talking?" Daska memutar matanya bosan. "Mulutmu dan kejantananmu sama sama tidak bisa di pegang," imbuhnya mencibir. "Tidak!" Denta menggeleng pelan. "Kejantananku bisa dipegang. Kau mau mencobanya?" ujar Denta menyeringai bodoh "Biadab! Kau mau mati? Huh!" maki Daska meninju bahu Denta cukup keras. "Hahahaha. Ayo pergi!" Denta berbalik arah dan pergi ke arah kanan, alias menuju area kantin Wenas Groub. Mereka pun akhirnya tiba di ruangan luas yang di jadikan kantin oleh WENAS GROUB, ruangan yang didesain layaknya cafe. Cukup berkelas sebenarnya, tapi tidak ada petinggi besar yang akan makan siang disini. Mereka lebih memilih delivery makanan atau pergi ke restaurant dekat gedung pencakar langit itu. Tapi hari ini, dengan sedikit keterpaksaan 2 CEO beda perusahaan itu terlihat memasuki ruangan di lantai 3 tersebut dengan gaya maskulin mereka. Tidak perduli dengan tatapan memuja kaum hawa, tatapan sinis dari kaum sejenisnya ataupun tatapan heran yang lainnya. "Ayo duduk di situ!" ajak Denta mengarah pada meja kayu di sudut ruangan. "Kau fikir dengan duduk diam di situ, makanan akan datang sendiri padamu. Ini bukan restaurant, Bodoh! Ambil makanan dan minumanmu sendiri. Dasar payah!" Daska meraih kerah bagian belakang jas Denta hingga pria itu nyaris terjungkal. "Kau mengajakku makan di kantin seolah-olah CEO sepertimu sering melakukannya, padahal ternyata kau tidak pernah makan di kantin. Masuk ke kantin saja mungkin kau tidak pernah. Ck,ck," omel Daska tersenyum mengejek. "Sialan!" Denta melepaskan tangan Daska dengan kasar, ia merapikan setelan jasnya yang sedikit kusut lalu bersikap santai demi menutupi kebodohannya. Dengan langkah bosan Daska dan semangat 45 Denta , mereka ikut mengantri seperti karyawan yang lain untuk mendapatkan makanan dan minuman mereka. Terdengar beberapa orang yang berbisik bisik membicarakan mereka, moment langka yang memang harus diabadikan. 2 pria tampan mengantri makanan di cafetaria kantor bersama dengan pegawai seperti mereka. Lihat! Betapa rendah hatinya mereka berdua ingin berbaur dengan pegawai rendah seperti mereka. Tak tanggung-tanggung orang nomor satu di perusahaan masing-masing. Daska mengantri dengan mata yang fokus pada ponsel canggih di tangannya, sedangkan Denta masih sibuk mengamati ruangan kantin tersebut. Sampai akhirnya mereka mendapatkan makanan dan mengambil tempat duduk di samping jendela besar di sudut kanan ruangan. Misi Denta hari ini adalah untuk mencari perempuan cantik yang kemarin berhasil memikat hatinya. Dan sepertinya, dewi fortuna sedang berbaik hati pada pria tampan itu. Karena dari arah masuk pintu kantin, retina matanya menangkap sosok yang dia cari sedari tadi. "Das... Itu... Perempuan yang baru datang. Arah jam 9," ucap Daska, tak perlu repot-repot menurunkan volume suaranya. Daska pun menoleh ke arah yang dimaksud oleh sahabatnya itu, arah jam 9. Sosok yang dimaksud Denta tercetak sepenuhnya di retina hitam milik pria itu. Rambut bergelombang di biarkan terurai, setelan suit warna lilac dengan aksesoris di bagian pinggang. Sosok perempuan itu terlihat anggun dengan pakaiannya saat ini. "Jadi dia yang kau maksud?" tanya Daska dengan tatapan mata yang masih mengamati perempuan yang di maksudkan oleh Denta. Perempuan itu kini duduk di sebuah meja, lalu melahap makanannya seorang diri. "Hehm... Cantik, bukan?" jawab Denta dengan wajah penuh senyum. Bangga karena selera matanya tak pernah mengecewakan. "Madenta Ray Praja," panggil Daska lirih. Suaranya dalam dan terkesan menakutkan. "Kalau kau tidak ingin mati. Buang imajinasimu tentang perempuan itu sekarang juga," desis Daska tanpa mengalihkan tatapannya pada sosok perempuan yang menjadi objek pembicaraan mereka berdua. "Hah? Apa maksudmu?" seru Denta menoleh cepat ke arah sahabatnya, senyum milik pria itu sudah hilang. Kalau sahabatnya itu sudah memanggilnnya dengan panggilan lengkap, itu artinya ia tengah serius. "Dia itu....." Daska baru akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba saja sahabatnya itu beranjak berdiri lalu pergi. Meninggalkan Daska yang terbengong di tempatnya. Pria itu mengumpat saat melihat bahwa Denta ternyata menghampiri perempuan itu. "Apa-apaan dia itu?" geram Daska melihat pemandangan sahabatnya yang sok akrab dengan wanitanya. "Dia benar-benar cari mati." Dengan gigi gemeletuk Daska menyumpahi sahabatnya itu dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN