“Hoek... Hoek...” Belva tak henti-hentinya muntah cairan bening. Kepalanya terasa pusing, perutnya juga terasa mual. Belva membasuh wajahnya dengan air keran, menatap kaca di kamar apartemennya. Wajahnya terlihat pucat, rambutnya kusut karena ia memang baru bangun pagi. Perempuan itu duduk di atas closet karena tubuhnya terasa lemas. Melirik sekilas lemari di sudut kamar mandi, jantung perempuan itu terasa diremas saat melihat kotak tempat ia menyimpan persediaan pembalutnya. “Tidak mungkin.” Belva menggeleng pelan. “I-ini mungkin karena aku terlalu stres, makanya datang bulanku terlambat. Huft, tenang, Bel, kau pasti baik-baik saja,” imbuhnya menenangkan dirinya sendiri. Ketakutan terbesarnya perlahan singgah di benaknya, rasa takut yang teramat sangat. Tangan Belva bergetar hebat, t

