Setahun sudah keluarga Satria tinggal di Kalimantan. Kini Hana dan Hanif sudah memasuki Sekolah Dasar sementara Ayu di Sekolah Menengah Pertama.
Ayu menatap mejanya. Sekotak s**u coklat dan secarik kertas tergeletak di mejanya. Ayu mengambil kertas itu dan membacanya.
Semoga s**u coklat ini menambah semangat belajarmu.
•G•
G? Siapa? Tanya Ayu di benaknya.
Keesokan paginya Ayu menemukan hal yang sama di atas mejanya.
Senyummu bahagiaku
•G•
Ayu semakin curiga. Ia coba bertanya pada teman-temannya di kelas perihal s**u coklat itu minus suratnya tentu saja. Tetapi teman-temannya tidak ada yang tahu siapa pelakunya.
Keesokan paginya lagi Ayu menemukan hal yang sama.
Diminum bukan untuk disimpan
•G•
Rupanya sang pemberi s**u tahu kalau Ayu selalu menyimpan s**u itu di laci mejanya. Ayu menyimpulkan bahwa si pemberi s**u memperhatikannya. Maka Ayu berinisiatif menulis di sebuah kertas yang diletakkannya di meja sebelum pulang sekolah.
Saya tidak minum minuman dari orang yang tidak saya kenal. Maaf.
-Ayu-
Rupanya surat Ayu dibaca oleh si pemberi s**u itu. Ia kembali meletakkan s**u dan menulis di secarik kertas.
Tunggu sepulang sekolah di halaman, aku akan menghampirimu.
•G•
Ayu membaca pesan itu. Ia akan menemui si pemberi s**u yang misterius itu.
Bel tanda pulang berbunyi, Ayu mengemasi barang-barangnya. Lalu ia bergegas pergi ke halaman sekolah. Ayu duduk di kursi yang ada di sana.
Selama Ayu duduk banyak siswa melewatinya dan teman-teman sekelasnya melambaikan tangannya tanda perpisahan. Tidak ada satupun siswa yang menghampiri. Ayu merasa sia-sia menunggu. Ia menggendong tasnya lalu berdiri.
"Tunggu!" Suara siswa laki-laki yang berdiri tidak jauh dari Ayu terdengar. Ayu menoleh ke asal suara.
"Kak Galih?" Siswa yang bernama Galih berjalan mendekati Ayu.
"Maaf ya kamu harus nunggu, ada yang harus aku urus di ruang OSIS." Galih sang ketua OSIS berujar.
"Jadi G itu kakak?"
"Ya"
"Kenapa kak Galih tiga hari berturut-turut ngasih s**u?"
"Karena kamu spesial buat aku" dahi Ayu mengernyit mendengar penuturan Galih.
"Aku. Suka. Kamu" Galih menatap Ayu.
"Ayu!" Sarah memanggil dari kejauhan.
"Sorry kak, saya udah dijemput ibu" Ayu menggendong tas ranselnya lalu pergi menghampiri ibunya. Galih hanya bisa menatap Ayu dalam diam.
"Yang tadi itu siapa Yu?" Sarah bertanya saat mobil mereka keluar dari parkiran sekolah.
"Kak Galih, ketua OSIS"
"Ngobrolin apa sama Galih? Ibu lihat dari jauh serius banget."
"Udah 3 hari ada yang naruh sekotak s**u tiap pagi di meja Ayu. Ternyata kak Galih orangnya."
"Terus kenapa dia ngasih kamu s**u?"
"Katanya Ayu spesial, dia suka sama Ayu."
"Kamu emang spesial Yu terutama bagi ibu dan daddy. Karena itu kalau ada laki-laki yang ingin mendekati kamu harusnya dia izin sama ibu dan daddy."
Kayak Kak Juna. Ayu membatin
"Laki-laki yang baik jika dia benar suka sama kamu, dia akan datang pada ibu dan daddy meminta izin dan dia bukan hanya sekedar ingin pacaran sama kamu tapi dia siap bertanggung jawab atas diri kamu."
"Siap bertanggung jawab? Maksud ibu?"
"Menikah. Dengan meminta kamu pada ibu dan daddy untuk menjadi istrinya berarti dia siap bertanggung jawab penuh atas diri kamu bukan hanya ingin enaknya aja. Kalau pacaran kan berarti dia cuma mau enaknya aja, jalan-jalan berdua,asyik-asyikan tapi kalau terjadi sesuatu pada kamu belum tentu dia mau tanggung jawab."
"Jauh banget bu sampe menikah segala, Ayu kan masih SMP."
"Karena itu nggak usah mikirin cowok dulu."
"Kalau kak Juna? Bukannya dulu pernah ngomong ke daddy mau lamar Ayu" Ayu takut-takut bicara.
"Hm.. Juna ya, kita lihat nanti. Dulu dia janji 7 tahun lagi kembali, sekarang berarti 5 tahun lagi. Kita tunggu saja apakah dia kembali melamar kamu."
"Kalau kak Juna beneran kembali 5 tahun lagi terus ngelamar Ayu seperti janjinya, apa kak Juna termasuk lelaki yang baik?"
"Menurut ibu, iya."
Kak Juna, aku menunggumu. Benak Ayu bicara.
■□■□
Juna mengerjakan tugas kuliahnya di macbook putih miliknya. Sesekali ia melirik pada sebuah frame di meja belajarnya. Sebuah frame yang berisi foto seorang gadis cilik.
"Jadi gadis ini yang bikin lo rajin belajar bro?" Alfian room mate sekaligus teman kuliahnya di MIT mengambil foto yang ada di meja.
"Yup" Juna mengambil foto itu dari tangan sahabatnya.
"Dia juga yang bikin lo nolak ajakan kencan Leslie?"
"Ya" Juna memgusap foto itu dan menatapnya.
"Gila lo ya, setia banget sama cewe yang bahkan nggak pernah lo hubungin. Kalo gue sih nggak tahan deh."
"Dia spesial, dia berharga. Gue janji sama bokap nyokapnya 2 tahun lalu kalau dalam 7 tahun gue bakal balik lagi dan gue udah jadi orang. Gue udah 2 tahun ngejalanin janji gue tinggal 5 tahun lagi."
"Janji lo berat banget bro. Jadi orang dalam 7 tahun dan waktu itu lo masih SMA kan"
"Gue berani janji gitu karena gue liat masa depan gue sama anaknya bukan sama cewe lain."
"Yakin lo bisa penuhin janji lo"
"Gue berusaha sebisa mungkin menuhin janji gue."
"Tapi itu berarti lo nggak bisa senang-senang dong bro? Belajar terus"
"Lo tau kan peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian? Nggak masalah bagi gue kalau sekarang terasa berat yang penting nantinya gue bisa punya masa depan yang gue mau bersama Ayu pastinya."
"Kayaknya lo udah cinta mati sama dia bro"
"Bisa dibilang begitu"
■□■□
"Ayu, saya mau bicara" Pagi hari Galih sudah menyambangi Ayu di kelasnya.
"Oh iya kak ada apa?"
"Soal yang kemarin. Mm... saya suka kamu"
"Makasih kakak sudah suka saya"
"Kamu mau nggak jadi pacar saya?"
"Mm... maaf kak saya tidak pacaran, nggak boleh sama ibu dan daddy"
"Gitu ya? Kamu nggak mau kasih saya kesempatan?"
"Maaf nggak bisa" saya menunggu seseorang. Lanjut Ayu dalam hati.
***