Hana dan Hanif menatap sekolah barunya. Gedung sekolah yang penuh warna warni. Pepohonan rindang di sekitar halamannya. Berbagai permainan di samping lapangan sekolah.
Hana dan Hanif duduk diam di ruang kepala sekolah. Di depan mereka Satria berbincang dengan kepala sekolah. Kondisi Sarah belum pulih benar sehingga urusan sekolah anak-anak diambil alih sepenuhnya oleh Satria.
"Ayo Hana dan Hanif kita ke kelas kalian!" Ajak ms. Eva kepala sekolah TK Samudera.
Sampai di depan kelas, Hana dan Hanif mencium tangan ayah mereka. Satria mencium pipi kedua anaknya lalu mengusap kepala mereka. Satria meninggalkan kedua anaknya dan mempercayakan mereka kepada pihak sekolah.
Hana dan Hanif mengikuti proses pembelajaran dengan baik sampai waktu istirahat tiba.
"Hanif main yuk!" Kata Hana
"Hanif mau di sini aja." Hanif memilih duduk di kursi taman bermain. Hana mendekati sekumpulan anak perempuan yang bermain ayunan.
"Aku Hana, aku mau ikut main. Boleh?"
Hana menjulurkan tangannya tanda perkenalan. Anak-anak perempuan di dekat Hana hanya menatap Hana tanpa menjawab.
Hana mendekati anak-anak yang sedang bermain perosotan. Ia ingin ikut main, baru saja ia mendekati tangga perosotan seorang anak menggesernya.
"Awas, aku mau naik" anak itu menggeser Hana menjauhi perosotan.
Hana merasa diabaikan lalu kembali duduk di samping Hanif. Wajah Hana terlihat sedih.
"Ndak jadi main?"
"Ndak, pada ndak mau main sama Hana."
Dug!
Sebuah bola tepat mengenai kaki Hanif.
Hanif bangkit berdiri. Karena kesal melihat Hana yang diabaikan teman-teman mereka Hanif menendang bola sekeras mungkin. Bola melayang lalu tepat masuk gawang.
"Wow kamu jago juga!" Seorang anak laki-laki menghampiri Hanif.
"Aku shakti, kamu siapa?"
"Hanif"
"Main bola yuk!"
"Ndak ah, aku mau temenin adek aku"
"Adek kamu ikut aja maen bola juga"
"Hana, kamu mau?"
"Mau"
"Yaudah, ayo ke lapangan!"
◆□◆□◆
"Nama saya Ayu saya pindahan dari Jakarta" Ayu memperkenalkan dirinya di hadapan kelas.
"Hai Ayu" jawab murid-murid itu.
"Ok Ayu, silakan duduk di bangku yang masih kosong itu." Kata ibu guru.
Ayu berjalan menuju kursi yang ditunjuk. Baris keempat paling kiri. Ayu duduk di kursi itu. Di sebelahnya ada anak perempuan yang gemuk yang menyambutnya dengan senyum lalu menunduk.
Selama pelajaran berlangsung, gadis di sebelah Ayu hanya terdiam tidak sedikitpun mengajak Ayu bicara. Sampai waktu istirahat tiba.
"Nama kamu siapa?" Ayu bertanya.
"Ra..ra...rahma"
"Rahma, ke kantin yuk!"
"A...a..yuk"
Ayu dan Rahma berjalan menuju kantin. Sepanjang jalan menuju kantin, ada saja anak-anak yang melihat mereka sambil memicingkan mata.
Kenapa ya? Ada yang salah? Benak Ayu.
Ayu dan Rahma membeli makanan lalu duduk di kursi kosong. Mereka asyik menikmati jajanannya. 3 anak seusia mereka menghampiri.
"Woi anak baru, mau aja jalan sama si Rahma" kata gadis kurus berkawat gigi.
"Jangan mau maen sama dia, dia kan 3G" gadis berpipi tembam ikut bicara.
"3 G?" Ayu bertanya.
"3 G itu ... Gendut ...Gagap ...Goblok." ketiga anak itu kompak bicara.
Rahma menunduk, air matanya mulai menggenang.
"Kalian nggak boleh seenaknya aja ngatain orang. Semua manusia itu sama di hadapan Allah."
"Ah anak baru, dikasih tau malah jawab."
"Kalian ngatain Rahma seenaknya, emang kalian makhluk suci? Biarpun saya baru kenal Rahma saya yakin hati Rahma baik tidak seperti kalian."
"Anak Jakarta sok tau!"
"Ayo Rahma kita pergi dari sini, nggak usah dengerin omongan mereka yang nggak berfaedah!"
Ayu menggamit tangan Rahma dan menariknya pergi dari kantin.
"Te...te...ri..ma...ka...sih A..yu"
"Sama-sama." Ayu tersenyum.
◆□◆□◆
Setelah makan malam keluarga Satria berkumpul.
"Hana Hanif gimana hari pertama sekolah? Sudah punya teman?"
"Sudah daddy, namanya Shakti" jawab Hanif
"Hana?"
"Hana main sama Hanif dan Shakti. Anak-anak pelempuan ndak mau maen sama Hana"
"Mungkin karena mereka belum kenal kamu. Besok coba ajak mereka main lagi."
"Iya ibu"
"Ayu kamu gimana?" Tanya Satria.
Ayu menceritakan semua kejadian secara detail.
"Yang kamu lakukan sudah benar Yu. Daddy dan ibu bangga sama kamu, ya kan bu?"
"Iya, kamu hebat Yu"
◇■◇■◇
Arjuna menatap laptopnya. Berkali-kali mengetik lalu mengklik sesuatu. Ada yang ia cari.
"Argh... instagran keluarga tante Sarah isinya gini doang, cuma foto-foto" Arjuna bicara sendiri.
"Mereka tinggal dimana sekarang?" Arjuna mengetuk-ngetuk mejanya.
"Kamu cari apa sih Jun? Dari tadi di depan laptop. Kirain belajar taunya buka instagram."
"Ini Ma cari alamat temen aku, katanya pindah ke Kalimantan."
"Temen SMA kamu?"
"Bukan"
"Temen SMP?"
"Bukan Ma"
"Terus temen apa?"
"Mm... temen spesial"
"Wah anak Mama udah gede. Ternyata udah punya temen spesial. Siapa? Cewek kan?"
"Ya cewek lah Ma. Juna masih normal"
"Syukurlah. Terus kapan dong Mama dikenalin?"
"Ya ampun Ma ini alamatnya aja Juna belum tahu."
"No telponnya?"
"Juna nggak punya Ma"
"Katanya temen spesial, kamu gimana sih?!"
"Ibu sama daddy nya galak Ma, jadi Juna nggak berani minta no telponnya"
"Anak Mama masa gitu aja nggak berani, jangan malu-maluin ah. Kalau dia spesial buat kamu perjuangkan Jun, jangan menyerah!"
"Ini juga Juna lagi berjuang Ma"
"Jun kamu ketemu dimana sama dia?"
"Ayu Ma namanya"
"Oh Ayu, ketemu dimana sama Ayu?"
Arjuna menceritakan semua yang dialaminya saat di Jakarta.
"Kalau gitu sekarang kamu berjuang di sini belajar yang bener sampe selesai S-2 kamu terus balik ke Jakarta, punya karir bagus. Buktiin ke daddy nya Ayu kalau kamu pantas bersanding sama anaknya. Mama mendukung kamu!"
"Mama emang yang terbaik!" Arjuna memeluk ibunya.
Setelah keluar dari kamar Arjuna. Sang mama membuka smartphone nya, mengetik nama Satria di mesin pencari. Lalu tersenyum.
****