Ikhlas

1457 Kata
Keluarga Satria tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman di wilayah Sepinggan Balikpapan. Di terminal kedatangan keluarga Satria dijemput oleh seorang laki-laki berusia 24 tahun. "Om Hary!" Ayu berseru. "Ayu!" Ayu memeluk Haryanto. Haryanto atau biasa dipanggil om Hary oleh Ayu adalah adik dari almarhum ayahnya. Saat ini ia tinggal di Balikpapan dan bekerja di perusahaan tambang batubara yang beroperasi di wilayah Balikpapan. "Apa kabar Har?" "Baik mba. Alhamdulillah." Mereka memasuki mobil yang dikendari oleh Haryanto. Menuju Balikpapan selatan, kediaman sementara keluarga Satria. Balikpapan adalah kota dengan tingkat ekonomi paling tinggi di pulau Kalimantan. Balikpapan kaya akan hasil tambang; minyak gas dan batubara. Diantara kota lainnya di Kalimantan Balikpapan merupakan kota dengan biaya hidup paling besar. Rumah berlantai dua dengan gaya minimalis disewa oleh Satria selama dua tahun untuk dihuninya bersama keluarga. Mereka belum memiliki Asisten Rumah Tangga sehingga semua pekerjaan dilakukan oleh Sarah dibantu oleh anak-anak. Hari kedua di rumah baru cukup melelahkan. Sarah dan anak-anak membuka kerdus-kerdus barang mereka lalu merapikannya sementara Satria sudah harus beraktivitas ke kantor. Merapikan barang-barang yang dibawa dari Jakarta menguras tenaga mereka. Menjelang sore langit mendung di atas kota Balikpapan. Tidak lama hujan pun turun dengan derasnya. "Bu Hanif mau mandi hujan, boleh ya?" "Hana juga mau bu, ya bu ya?" Kedua anak itu memohon pada ibunya dan Sarahpun memberi anggukan tanda membolehkan. Hana dan Hanif berlarian ke halaman menikmati hujan pertama mereka. Mereka mengambil mainan berupa ikan yang terbuat dari plastik untuk menemani mereka hujan-hujanan. "Hanif itu ikan Hana!" "Punya Hanif!" "Punya Hana!" Hanif berlari diikuti Hana yang mengejarnya. Sarah menyaksikan mereka dari teras rumah. Hanif berlari ke arah ibunya dan bersembunyi di balik tubuh Sarah. Hana mengejarnya. Kedua tubuh mereka basah, tetesan air membasahi lantai. Hanif memutari ibunya saat Hana mengejarnya. Tubuh Sarah limbung karena bajunya ditarik kedua anaknya ditambah lagi lantai yang licin karena basah. Buk! Sarah jatuh terduduk di lantai. "Hanif, ibu jadi jatuh tu" kata Hana "Kamu juga kejar-kejar aku." Sarah meringis merasa perut bawahnya terasa sakit. "Ibu, ibu beldalah" Darah merembes dari s**********n Sarah. Lantai berwarna putih sehingga aliran darahnya terlihat sangat jelas. "Kak Ayu ibu beldalah!" Hanif teriak. Ayu yang sedang menonton TV segera menghampiri ibunya. "Ayu telpon daddy, minta daddy anter ibu ke rumah sakit!" Ayu segera melaksanakan perintah ibunya. Sarah bangkit perlahan menahan perih di perut bawahnya. "Kalian berdua segera mandi! Ayu bantu adik-adikmu!" Sarah berusaha ke kamar lalu mengganti bajunya dan memakai pembalut lalu berbaring di kasur. 30 menit kemudian Satria tiba. Sarah terbaring di kasur ditemani anak-anaknya. Ayu dan kedua adiknya sudah mandi dan berpakaian rapi. Satria mengangkat istrinya yang terbaring lemah menuju ke mobil. Ayu membantu dengan membuka pintu mobil dan memangku kepala ibunya. Si kembar naik si kursi penumpang depan. Sampai di Rumah Sakit, Sarah langsung ditangani oleh dokter di bagian gawat darurat. Tidak lama kemudian Sarah dipindah ke ruang perawatan. "Ibu, alhamdulillah kondisi ibu tidak membahayakan calon bayi si rahim ibu." "Saya hamil dok?" "Iya ibu, menurut hasil pemeriksaan usianya sudah 6 minggu" "Makan makanan bergizi, istirahat dan jangan banyak pikiran ya bu. Ini saya resepkan vitamin, nanti perawat yang bawakan ke sini vitaminnya. Saya permisi" "Terima kasih dok" Dokter berlalu, di ruang itu kini tinggal Satria dan Sarah. Sarah memegang perutnya yang masih rata. "Hik...hiks...hiks..." Sarah mulai menangis. "Sayang kamu kenapa?" Satria mengelus kepala istrinya. "Aku ...ibu... yang buruk mas." "Kamu ibu yang baik sayang, Ayu dan si kembar kamu rawat dengan sangat baik. Mereka tumbuh sehat dan cerdas." "Nggak mas... aku bahkan nggak nyadar kalau hamil padahal haidku sudah telat. Dan dia hampir aja pergi." Sarah mengelus perutnya. "Buat mas dan bagi anak-anak kamu adalah ibu terbaik. Jangan menyalahkan diri sendiri." Tok tok tok! Ayu masuk bersama kedua adiknya. "Ibu, maafin Hanif. Gala-gala Hanif ibu sakit, beldalah." "Ibu nggak sakit Hanif tapi di perut ibu ada dede bayi" "Ibu hamil?" Ayu bertanya. Sarah mengangguk. "Yeay, Hana mau punya adik!" Hana bersorak. "Benel bu?" Tanya Hanif. "Iya sayang" Selama 3 hari Sarah dirawat di Rumah Sakit. Setelah pendarahannya berhenti ia akhirnya diperbolehkan pulang dengan catatan di rumah ia masih harus bedrest selama seminggu. Di rumah Sarah tidak melakukan aktivitas apapun. Dokter hanya mengizinkannya bangun untuk ke toilet. Urusan rumah sudah ada ART yang menangani. Anak-anak pun sudah mulai masuk sekolah. 4 hari sudah Sarah menjalani bedrest. Terasa sangat membosankan. Sarah menelpon mamanya di Jakarta. Bicara dengan ibunya lumayan mengobati rasa bosan. Anak-anak di hari libur bermain di rumah saja. Mereka belum punya banyak teman. Ayu asyik dengan komiknya sementara Hana dan Hanif bermain di sofa. Entah siapa yang memulai Hana dan Hanif melompat-lompat di atas sofa. Bruk! Hanif terjatuh dari sofa dengan kepala yang terantuk meja. "Aww... sakit!" Hanif memegang dahinya. Darah mengucur deras. "Hanif beldalah, Hanif beldalah!" Hana teriak. Sarah yang mendengar suara teriakan Hana dan tangisan Hanif berlari menuju ruang keluarga. Ia melihat darah mengucur dari dahi Hanif. Rumah Sakit, Hanif harus dibawa ke Rumah Sakit. Batin Sarah. "Bi Rum, ambil kotak P3K cepet!" Bi Rum asisten rumah tangga yang belum genap seminggu bekerja di rumah itu segera mencari kotak P3K. "Ayu bilang daddy Hanif luka, harus ke Rumah Sakit. Daddy di kamar mandi, cepetan!" Ayu melesat menuju kamar kedua orang tuanya dan mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. "Daddy Hanif luka, kepalanya berdarah. Kata ibu bawa ke Rumah Sakit!" Satri bersegera menyelesaikan mandinya lalu mengambil kunci mobil. Ia menghampiri Sarah yang sedang menahan lajunya darah dari dahi Hanif dengan kasa. "Ayo ke rumah sakit!" Satria berniat menggendong Hanif tapi Hanif menolak. "Nggak pa-pa mas aku aja yang gendong" Selama perjalanan Hanif yerus memeluk ibunya dan merintih kesakitan. Darah di dahi Hanif merembes ke bajunya dan jilbab Sarah. Hanif segera ditangani dokter, dahinya dijahit 4 jahitan. Dan tidak boleh sekolah selama 3 hari. Untunglah Hanif tidak perlu dirawat jadi mereka bisa pulang. "Kamu nggak pa-pa?" Tanya Satria saat mereka akan beranjak tidur. "Nggak pa-pa mas" "Dede yang di perut gimana?" "Kayaknya dia juga baik-baik aja." Malam kian larut, Sarah belum juga tertidur. Ia merasakan perutnya tidak nyaman. "Kamu gelisah, kenapa?" "Perutku nggak enak mas" "Nggak enak gimana?" "Agak nyeri" "Sini mas usap-usap, tidur ya!" Satria berkata lembut. Usapan lembut diberikan Satria di perut istrinya namun rasa nyeri itu semakin menjadi. Keringat dingin mulai keluar dari kening Sarah. "Masih sakit?" "Iya mas" Sarah meraba bagian belakang tubuhnya karena merasa ada yang basah. "Mas, darah" Satria melihat darah merembes di baju tidur istrinya. "Kamu tunggu di sini mas siapin mobil, kita ke Rumah Sakit" Tengah malam keduanya kembali ke rumah sakit. Anak-anak tetap di rumah bersama bi Rum. Satria menelpon Hary agar sepagi mungkin datang ke rumahnya untuk mengecek keadaan anak-anak. "Bapak, ibu, mohon maaf kondisi janin ibu tidak bisa dipertahankan. Tanda-tanda kehidupannya sudah tidak ada." Dokter memperlihatkan hasil USG. Perkataan dokter bagaikan batu besar yang menimpa Sarah. Sarah terpaku, penjelasan dokter berikutnya tentang prosedur kuretase yang harus dijalaninya seakan tak terdengar di telinganya. Anakku meninggal, aku ibu yang buruk. Hanya kalimat itu yang terus berulang di kepalanya. Sarah masih terbaring di ranjang rumah sakit, ia baru saja sadar dari efek bius saat proses kuret. Sarah terdiam lalu perlahan air matanya turun. Satria yang melihat itu lalu mengusap sayang kepala istrinya. "Aku ibu yang bodoh mas, aku ibu yang lalai." Sarah memukuli dirinya sendiri. Satria lalu memeluknya. "Ini sudah takdir, kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi." "Kalau aku saat itu nggak panik, nggak lari terus nggak gendong Hanif semua ini nggak akan terjadi mas." "Ini takdir Allah sayang, kita nggak akan bisa menghindar dari takdirnya. Walau saat itu kamu nggak panik, kalau sudah takdir Allah pasti kita tetap kehilangan dia." "Huhuhu...." Sarah menangis kencang. "Kita harus terima takdir ini, kita memang sudah kehilangan. Sayang ikhlaskan dia, waktu hidupnya di rahim kamu sudah ditakdirkan hanya sebentar. Berdoa pada Allah agar menggantinya dengan yang lebih baik." Sarah sudah kembali pulang ke rumah namun ada yang berbeda dari dirinya. Ia menjadi pendiam, mengurung diri di kamar. Anak-anak ikut sedih melihat kondisi ibunya. "Sudah seminggu kamu mengurung diri sayang. Anak-anak merindukan kamu." Ucap Satria. Sarah tetap diam. "Tidak baik kamu seperti ini terus. Dia sudah pergi dan kami butuh kamu. Aku dan anak-anak butuh kamu. Relakan dia, ikhlaskan kepergiannya." "Hiks...hiks...hiks...aku bukan ibu yang baik." "Maka jadilah ibu yang baik untuk anak-anakmu yang saat ini ada bersama kita." "Ibu...ibu..." Hanif menerobos masuk. "Maafin Hanif ibu, gala-gala Hanif dede bayi meninggal. Maafin Hanif ibu." "Kamu nggak salah nak" kata Sarah. "Hanif nakal jadi dede meninggal, ibu jadi sedih" "Siapa yang bilang begitu?" Tanya Satria. "Kak Ayu" "Dede bayi meninggal karena takdir Allah. Allah sudah menentukan hidupnya tidak lama. Bukan karena kamu nak." "Hanif ndak bakal nakal lagi, jadi kalau ada dede bayi ndak bakal meninggal lagi." Sarah memeluk Hanif erat. Rasa bersalah Hanif membuat Sarah tersadar bahwa anak-anak membutuhkannya. Ada anak-anak yang perlu dididiknya.Dan ia harus bangkit dari keterpurukannya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN