Pindah

745 Kata
Satria duduk di ruang kerjanya menimbang-nimbang keputusan besar yang akan diambilnya. Keputusan yang terkait perusahaan sekaligus keluarganya. "Mas, diminum s**u hangatnya" Sarah berdiri di depan meja kerjanya sambil menyodorkan segelas s**u coklat hangat. "Makasih sayang." Satria meneguk habis susunya. "Duduk sini, ada hal penting yang mas mau bicarakan." Satria menepuk pahanya. "Di pangkuan mas?" "Iya." "Nggak di sofa aja? Kan ada yang penting katanya, nanti nggak fokus loh." "Mas pengennya kamu di sini!" Sarah berjalan ke arah Satria lalu duduk di pangkuannya. Lengan kiri Satria melingkar di pinggang istrinya. "Ada investor baru di perusahaan. Beliau berani inves besar tapi minta mas buka cabang di Kalimantan." Tangan kiri Satria mengusap punggung istrinya. "Terus?" "Mas sudah kirim tim ke Kalimantan untuk survey dan ternyata prospeknya bener-bener bagus." Satria memainkan jari-jari istrinya. "Investor itu berharap mas bisa pegang langsung cabang di sana." "Jadi mas mau ke Kalimantan?" "Iya, dan cukup lama sampai cabang di sana bisa jalan sendiri." "Berapa lama?" "Sekitar 2 tahun" "Aku dan anak-anak gimana?" "Mas bisa pulang seminggu sekali" "Boros mas, boros ongkos boros tenaga juga. Boros perasaan juga." "Boros perasaan?" "Kalau mas lagi butuh aku terus akunya nggak ada yang ada perempuan model Carla. Gimana?" "Mas nggak bakal selingkuh. Percaya deh." "Anak-anak juga kasian jarang ketemu daddy nya." "Kalau kamu?" "Aku juga nggak mau. LDR tuh jarang yang berhasil. Mas mau aku nangis-nangis karena kangen?" "Emang kalau mas keluar kota kamu segitu kangennya?" "He-eh." Sarah mengangguk lalu Satria membelai rambutnya. "Kalau kamu dan anak-anak ikut pindah aja gimana?" "Hm... gimana ya? Kalau nggak ada pilihan lagi ya... aku ikut kata mas aja." "Kamu emang istri terbaik sayang, pengertian." Satria mencium jari-jari istrinya. "Aku mau ke dapur dulu, naruh gelas kotor." Sarah ingin berdiri. "No, stay here! I want you." Satria menarik tubuh istrinya. □■□■□ Sore itu keluarga Satria sudah duduk di ruang keluarga. Satria ingin menyampaikan berita kepindahan mereka. "Kita akan pindah ke Kalimantan." "Pindah?" Hana dan Hanif bertanya bersamaan "Kalimantan?" Ayu ikut bertanya. "Anak-anak, perusahaan daddy mau buka cabang di Kalimantan dan Daddy harus mengurus itu semua. Daddy harus tinggal di sana lama. Kalian nggak mau pisah kan sama daddy?" "Hanif Nggak mau pisah." "Hana maunya sama daddy terus." "Karena itu kalian akan ikut daddy pindah ke Kalimantan." "Tapi di Kalimantan Hana ndak punya teman daddy." "Hanif juga nggak kenal siapa-siapa di sana." "Nanti di sana kalian akan punya teman baru." ucap Sarah. "Sekolahnya gimana bu?" Tanya Hanif. "Kalian akan sekolah di sekolah baru" jawab Satria "Ada kandang kelincinya?" Hana ingin tahu. "Ada." jawab Sarah "Ada pelosotannya?" Hanif bertanya. "Ada." "Ayunan?" Hana bertanya lagi. "Ada." "Gulunya galak ndak?" Tanya Hana "Gurunya baik semua." jawab Sarah "Sekolah kalian nanti di sana tidak jauh berbeda dari di sini." "Ayu, kamu diam aja?" "Nggak pa-pa bu" "Kita berangkat seminggu lagi" "Nanti di rumah ini siapa?" Tanya Ayu. "Bi Inah nanti yang urus rumah ini. Kalau daddy harus ke kantor yang di Jakarta ya nginepnya di sini. Kalau liburan sekolah juga kita kembali ke sini." "Alhamdulillah" Ayu merasa lega. "Kenapa yu?" "Seneng aja bu rumah kita nggak dijual" jadi kak Juna nggak kesulitan. Lanjut Ayu dalam hati. "Malam ini kita mulai packing ya. Yang kita bawa cukup buku-buku, mainan dan baju-baju saja. Barang-barang yang lain sudah ada yang menyiapkan di sana." ■□■□ Darius menatap layar smartphone nya, sepupunya dari Kanada menghubungi lewat video call. Wajah Arjuna terpampang di layar. "Darius, paket yang gue kirim udah nyampe?" Tanya arjuna dengan wajah serius. "Baru nyampe sejam yang lalu." Darius memperlihatkan paket itu pada Arjuna. "Good, sekarang buka!" "Bentar." Darius membuka paket itu menggunakan cutter. Paket itu berisi berbagai barang. "Udah gue buka." Darius mengarahkan smartphone nya ke arah paket kiriman Arjuna. "Gue minta tolong, kotak yang warna marun jangan lo buka. Lo boleh ambil yang lain." "Lah emang napa?" "Itu bukan buat lo." "Buat siapa?" "Tolong anterin kotak itu ke rumah om Satria. Itu buat anaknya, Ayu." "Cewe lo?" "Belom jadi cewe gue." "Selera lo ya, daun muda gitu. Muda banget malah." "Ck... ah rese lo. Kalo nggak mau nolongin gue lapor tante Winda nih" "Iya iya gue ke rumahnya sekarang." 10 menit kemudian.... "Gimana? Udah lo kasih kotaknya ke Ayu?" "Gue udah ke sana tapi rumahnya sepi banget, terus kata security komplek... mm...." "Apa kata security?" "Keluarga Om Satria udah pindah" "Pindah?! Kemana?" "Kalimantan" "Oh s**t!" Arjuna mengumpat. "Lo baek-baek aja?" "Simpen baek-baek kotak itu, nantinya gue sendiri yang bakal ngasih ke Ayu. Jangan dibuka, jangan sampe ilang!" "Baik boss" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN