Ujian Cinta (Bag.1)

894 Kata
"Mas beneran tuh si Juna ngelamar Ayu?" "Bener" "Berani juga dia ya" "Itu sih namanya nekad" "Keren tau mas, dia ngomong sama mas ngelamar Ayu. Anak sekarang mana ada yang berani kayak gitu. Paling juga ngajak pacaran trus kalau nggak disetujuin backstreet." "Jadi menurut kamu Juna tuh keren?" "Banget, bernyali. Menurutku itu tanda dia laki-laki baik. Nggak suka main belakang, jujur dan sesuai aturan." "Jadi harusnya diterima?" "Ya nggak lah, Ayu masih kecil." "Kok aku nggak suka ya kamu muji laki-laki lain." "Mas cemburu?" "Hm" "Cemburu sama si Juna?! Juna itu bukan seleraku. Seleraku tuh laki-laki dewasa bukan anak SMA, dia ganteng, tinggi, baik hati,CEO perusahaan, sayang banget sama aku, suka mesumin aku dan yang paling penting sudah halal." "I thing I know that guy?" "Siapa?" Sarah tersenyum menggoda suaminya. "Aku, karena cuma aku yang suka mesumin kamu dan halal buat kamu." Bisik Satria di telinga Sarah. "100 buat mas!" "Aku nggak mau 100 aku mau hadiah" Cup! "Itu hadiahnya" "Aku mau hadiah yang speesial, hadiah yang cuma buat suami seorang." "Maaf mas kalau hadiah yang itu baru bisa seminggu lagi. Tadi siang baru aja aku haid." "Nasib" ♥♥♥ Carla berdiri di depan gerbang rumah Satria. Hari ini Satria tidak ada di rumah melainkan melakukan perjalanan bisnisnya ke luar kota. Karena itulah Carla datang mengunjungi Sarah. "Saya mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Mungkin bu Sarah menduga yang tidak-tidak." "Saya memang sempat marah tapi Suami saya sudah cerita hal yang sebenarnya." Kata suami ditekankan oleh Sarah. "Syukurlah kalau begitu" "Kamu sekarang kerja dimana?" "Masih jadi sekretaris bapak bu" Nggak jadi dipecat?. Tanya Sarah di hatinya. "Oh kirain udah pindah" "Nggak bu, kontrak saya belum habis. Pak Satria orangnya baik nggak mungkin saya pindah begitu aja." Pak Satria baik? aku jadi curiga. Sarah terdiam. "Ibu beruntung ya punya suami sebaik bapak. Saya juga pengen bu punya suami kayak pak Satria. Ganteng, baik mapan lagi. Idaman banget deh pak Satria itu." "Alhamdulillah mas Satria udah jadi milik saya jadi nggak bisa diambil orang" "Kan dalam Islam boleh poligami bu" "Maksud kamu apa bicara begitu?" "Nggak ada maksud apa-apa kok bu" Mencurigakan banget. Batin Sarah Carla pamitan setelah bicara seperlunya dengan Sarah dan meninggalkan banyak pertanyaan di hati Sarah. Larut malam Satria sampai di kediamannya. Sarah tidak menyambutnya seperti biasa. Sarah sudah berbaring di kasurnya. Setelah membersihkan diri Satria ikut berbaring di samping istrinya. "Mas, Carla kabarnya gimana?" "Mm" "Jadi dipecat?" "Hm.." "Masih jadi sekretaris ?" "Kenapa jadi bahas Carla sih? Aku masih cape nih" "Tadi Carla kesini. Dia minta maaf soal yang waktu itu. Dia juga bilang kalau masih jadi sekretarisnya mas" "..." "Aku kecewa mas. Mas nggak nepatin janji." "Sayang nggak mudah mecat orang gitu aja. Lagian bentar lagi kontraknya habis terus Tasya selesai cuti melahirkannya." "Tapi mas janji" "Kamu masih cemburu?" "Bukan soal cemburu atau nggak, tapi janji mas yang nggak ditepatin" "Berapa kali kubilang, nggak ada perempuan lain di hati aku kecuali kamu" "Satu hal yang perlu mas tahu, aku punya firasat buruk soal Carla. Dia buruk buat hubungan kita dan buruk buat perusahaan kamu." "Loh kok kamu bilang gitu?" "Jangan remehkan firasat seorang istri mas." Sarah bangkit lalu berjalan menuju ke pintu. "Kamu mau kemana?" "Malam ini aku tidur sama Ayu. Aku nggak suka orang yang nggak nepatin janji." Blam! Sarah menutup pintu dengan keras. ♥♥♥ Sudah 3 hari Sarah bersikap dingin pada suaminya. Dia masih menyiapkan keperluan-keperluan suaminya namun tanpa senyum tanpa sapaan hangat. Tidurpun masih bersama putrinya Ayu. Hari itu Satria pulang lebih cepat, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan sang istri. Tiga malam berturut-turut tidur sendirian sangat tidak menyenangkan baginya. Satria melihat istrinya sedang mencuci sayuran di dapur. Bi Inah dan Ayu juga sedang membantu menyiapkan makan malam. Satria meminta Bi Inah dan Ayu untuk meninggalkan mereka berdua. Satria memeluk istrinya dari belakang, menaruh kepalanya di bahu Sarah. Sarah melanjutkan kegiatannya mencuci sayuran. "Sayang, mas kangeeen banget sama kamu. Ranjang kita terasa dingin tanpa kamu. Jangan diemin mas terus dong, kamu tega tiap malem mas cuma meluk bantal guling." Rasain. Jawab Sarah dalam hati Sarah tidak mengucapkan apapun. Satria mulai mencium pipi dan leher istrinya. "Baby, jangan siksa aku. Mending kamu marah-marah atau mukul aku sekalian dari pada diem begini." "Stop mas.Aku lagi nyiapin makan malam. Nanti kalau nggak selesai kasian anak-anak." "Kita bisa makan di luar. Sayang, mulai besok Carla nggak jadi sekretarisku lagi. Cuti Tasya dipercepat." Satria memutuskan untuk memutus kontrak kerja Carla dan meminta Tasya memperpendek cutinya. Rumah tangganya harus diselamatkan walau harus keluar uang yang tidak sedikit untuk memutus kontrak kerja Carla dan insentif tambahan untuk Tasya. "Beneran?" "Nih ngomong sendiri sama Tasya" Satria mendial nomer Hp Tasya sekretarisnya yang sedang cuti. Lalu menekan tombol loud speaker. "Hallo Tasya" "Oh bu Sarah, kirain pak Satria" "Kapan kamu mulai masuk lagi Tasy" "Besok bu, kata bapak ada yang mendesak jadi cuti saya dipercepat." "Baguslah kalau begitu" Satria mematikan ponselnya lalu menaruhnya ke dalam saku. "Percaya?" "Ya" "Nggak marah lagi kan?" Sarah menggeleng. "Kalau udah nggak marah cium suamimu ini dong, kering banget rasanya nggak dapet ciuman dari istri selama 3 hari." Sarah membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Dan mendekatkan wajahnya ke wajah Satria. Cup! Sarah mengecup bibir suaminya. "Kurang baby! Masa setelah 3 hari cuma dapet gitu doang" "Kalau mau yang lebih nanti aja di kamar habis makan malam" Sarah berbisik. "Yess!" Satria mencium kening istrinya lalu berjalan melenggang menuju kamar mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN