Ujian Cinta (Bag.2)

1271 Kata
Satria melangkahkan kakinya memasuki lobby kantornya. Ada rasa bahagia di hatinya. Hubungan dengan istrinya tidak lagi renggang, mereka kembali seperti sedia kala. Bahkan semalam ia merasa puas mendapat pelayanan prima dari istrinya. Satria tersenyum sendiri jika mengingat malamnya bersama sang istri, serasa pengantin baru. "Pagi pak!" "Pagi Tasya" "Seneng banget kayaknya pak pagi ini" "Ya senenglah, sang bidadari udah nggak ngambek. Thanks ya! By the way, baby kamu sehat?" "Sehat pak alhamdulillah" "Sampaikan terima kasih saya pada suami kamu ya, udah ngizinin kamu masuk sebelum waktunya. Oh ya, bisa tolong cari tahu paket bulan madu yang bagus?" "Dalam negeri atau luar pak?" "Dalam negeri aja" "Ok pak. Kalau boleh tahu buat siapa pak?" "Saya pengen ngajak Sarah bulan madu kedua" "So sweet banget si bapak" Satria duduk di kursinya. Ia teringat bulan madunya saat awal menikah dengan Sarah. Bulan madu yang 'gagal'. Ia memastikan bulan madu kali ini harus sukses. ♥♥♥ Sarah kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Kepercayaannya kepada sang suami sudah kembali. Sarah mendatangi sebuah panti asuhan untuk memberikan sejumlah donasi sebagai bentuk syukur atas terjaganya keutuhan rumah tangganya. Selesai dengan urusan di panti, Sarah kembali ke rumah. Sarah berniat menjemput Hana dan Hanif lalu berbelanja kebutuhan sehari-hari. Sarah melihat arlojinya sudah saatnya ia menjemput si kembar. Tulilit! Notifikasi pesan di ponselnya berbunyi. Sebuah pesan video masuk. Sarah membuka pesan video itu dan melihat isinya. Sarah tercengang, video cctv yang hanya beberapa detik itu membuat hatinya terasa ditusuk ribuan jarum. Tangannya bergetar memegang ponselnya lalu mengulang kembali video yang baru saja dilihatnya. Air matanya berderai. Ia masih tidak percaya dengan isi video itu lalu menontonnya kembali. Prakk! Sarah melempar ponselnya ke tembok lalu menangis sejadi-jadinya. Sarah bergegas keluar kamar sambil sesekali menyeka air matanya. Pak Asep supirnya memperhatikan dari kaca mobil. "Pak saya turun disini, tolong jemput si kembar terus nanti jemput Ayu juga ya." Sarah meminta supirnya berhenti di halte dekat taman kota. "Iya bu, tapi ibu mau ke mana?" "Saya butuh menenangkan diri." Sarah duduk termenung sendiri di taman. Ia tidak ingin anak-anaknya melihat dia menangis, ia juga tidak bisa pergi ke rumah orang tuanya karena khawatir papa nya akan menghabisi Satria kalau tahu alasannya menangis. Sarah perlu menenangkan diri, bercerita pada sesorang yang bisa dipercaya. Bilqis. Sarah mengingatnya. Mantan sekretarisnya yang kini menjadi sahabatnya. Tapi ia kesulitan menghubungi Bilqis karena tidak membawa ponselnya. Sarah melihat ke sekitar taman mencari seseorang yang bisa dipinjam ponselnya. Di luar taman seorang pedagang ketoprak sedang menelpon, Sarah menghampirinya untuk meminjam ponsel. Dengan iming-iming uang Rp.50.000 Sarah mendapat pinjaman ponsel. Segera ia mendial nomer kantornya dulu yang ia hapal di luar kepala. "Bil, bisa ketemuan si X Cafe? Penting ada yang mau diomongin." "Ok, tunggu sebentar ya" Sarah menaiki taksi menuju X Cafe setelah sebelumnya berterima kasih pada pemilik ponsel yang ia pinjam. Sarah sampai di X Cafe tidak lama setelah Bilqis memasuki cafe tersebut. Bilqis memeluk Sarah setelah melihat kondisi Sarah yang tidak baik dengan mata yang bengkak dan penampilan yang sedikit kacau. Sarah menceritakan video yang dilihatnya. Video yang membuatnya sedih luar biasa. "Masa sih bu pak Satria kayak begitu? "Bener Bil, berkali-kali aku ulang video itu untuk memastikan aku salah." "Yang saya tahu Pak Satria itu orangnya setia, dia bertahun-tahun nunggu ibu kan, dia cinta mati sama ibu" "Kalau setiap hari disuguhi perempuan berpakaian terbuka kan bisa aja terjadi Bil" "Mungkin aja tuh sekretaris menjebak pak Satria bu, atau video itu bisa jadi editan." "Nggak tahu deh Bil, saya butuh menenangkan diri. Nggak mungkin saya ngadepin mas Satria kayak gini bisa berantem kami. Saya nggak mau anak-anak ngeliat orang tuanya ribut. Bil, bisa nggak saya ke kostan kamu buat menenangkan diri?" "Boleh bu, ini kuncinya" "Jangan bilang Papa ya perihal kondisi saya, bisa makin runyam nanti." "Ok bu." "Yaudah kamu balik ke kantor lagi. Kalau kelamaan nanti Papa curiga sekretarisnya menghilang" Satria terkejut saat pak Asep supirnya menelpon, memberi tahu tentang kondisi Sarah. Satria menelpon istrinya namun ponsel Sarah tidak aktif. Satria bergegas mencari Sarah di tempat terakhir ia turun dari mobil. Satria tidak menemukan istrinya di sekitar taman. Kemudian ia menelpon rumah mertuanya, asisten rumah tangga di sana pun mengatakan bahwa istrinya tidak mengunjungi mertuanya. Satria beekeliling mencari istrinya sampai hari menjadi gelap. Kemudian ia kembali ke rumah. Anak-anak menanyakan keberadaan ibunya, Satria mengarang cerita bahwa Sarah menemani temannya melahirkan di rumah sakit agar anak-anaknya percaya. Satria memeriksa kamarnya mencari petunjuk dimana istrinya berada. Satria memungut ponsel Sarah yang tergeletak di lantai dengan layar yang retak. Satria menyalakan ponsel itu lalu memeriksa panggilan terakhir dan pesan terakhir yang diterima Sarah. Ada sebuah pesan video. Satria menyaksikan isi video itu. Video CCTV ruangannya seminggu yang lalu. Flashback on "Pak ini berkas-berkas yang diminta" Carla datang membawa setumpuk kertas. "Taruh di meja aja" Satria melanjutkan membaca sebuah dokumen di sofa. Tiba-tiba Carla duduk di pangkuan Satria. "Carla!" Satria terkejut "Pak, besok kan saya sudah tidak di sini. Saya pengen perpisahan yang berkesan" Carla memainkan dasi Satria seraya mengerling menggoda. "Turun Carla!" Perintah Satria "Ayolah Pak, untuk terakhir kalinya. Kapan lagi kan" "Saya sudah menikah Carla. Turun!" "Bu Sarah nggak bakal tau!" Sarah membelai rahang Satria dengan manja. "Tapi Allah Maha Tahu.Turun atau saya berdiri dan kamu jatuh?" Satria bergerak akan bangkit. "Iya iya, bapak nyebelin nggak asyik!" Carla terpaksa berdiri. "Keluar!" Wajah Satria memerah menahan marah. Flashback off Video yang dikirim ke ponsel Sarah telah dipotong dan hanya berdurasi beberapa detik saat Carla duduk di pangkuan Satria dan video tersebut tanpa suara ditambah lagi karena video CCTV yang diambil dari jarak jauh sehingga ekspresi Satria tidak terlihat. Satria mendial sebuah nomor. Ia menghubungi pegawainya yang khusus mengurusi CCTV untuk meminta dikirimi rekaman lengkap saat kejadian itu. Satria kini sudah tahu alasan kepergian istrinya. Yang belum diketahui adalah dimana posisi istrinya. Satria bersuci lalu melaksanakan shalat. Kemudian berdoa. Ya Allah tunjuki aku dimana istriku. Kembalikan ia ya Allah. Lindungi ia dimanapun ia berada. Limpahkan kasih sayang diantara kami ya Allah. Pertemukan hamba dengan istri hamba. Kekalkan hubungan kami sampai di akhirat nanti. Aamiin. Satria merebahkan dirinya di ranjang. Jam di atas nakas menunjukkan pukul 11 malam. Tiba-tiba ponsel Satria berbunyi. Sebuah pesan masuk Bilqis : Pak, ibu nangis terus dari tadi. Ibu ada di kostan saya. Satria berdiri mengambil jaketnya dan kunci mobil segera setelah membaca pesan dari Bilqis. Malam hari jalanan sepi sehingga Satria bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tunggi. Sampai di depan kostan Bilqis Satria memberitahu Bilqis lewat pesan singkat. Satria melihat istrinya yang sedang berbaring menyamping di ranjang Bilqis. Karena sibuk menangis Sarah tidak tahu kedatangan suaminya. Bilqis pergi keluar memberi pasangan tersebut privacy. Satria berjongkok di sisi ranjang tepat di depan istrinya. Tangannya mengelus kepala istrinya "Sarah sayang" Sarah melihat suaminya lalu merubah posisinya membelakangi suaminya. "Mau apa mas ke sini? Hiks...hik...hiks" "Aku mau jelasin semua biar nggak salah paham diantara kita." "Semua udah jelas, video itu jelas. Mas sama Carla... hiks... hik... hiks..." "Sarah my love, berhenti nangisnya, kita bicarain baik-baik ya" "Aku lelah mas" "Baby denger aku, video yang kamu lihat itu dipotong. Kamu harus lihat yang utuh supaya tahu kejadiannya. Nih kamu lihat sendiri" Satria mengeluarkan ponselnya lalu memutar video CCTV yang dikirim oleh pegawainya. Sarah duduk dan melihat itu semua. "Jadi mas nggak selingkuh?" "Ngapain mas selingkuh, kalau mas sudah punya kamu. Istri cantik nan seksi yang sudah mengunci hati mas" Satria mencubit mesra hidung istrinya. "Maaf mas" Sarah merentangkan tangannya lalu memeluk Satria "Kalau ada apa-apa bilang sama mas, jangan pergi begini. Kita bicarain baik-baik." Sarah mengangguk. Satria mengecup kening istrinya. "Kita pulang ya. Anak-anak nanyain kamu, terpaksa mas bohong sama mereka. Ayo!" Kruyuk! Suara perut Sarah "Kamu belum makan?" Sarah menggeleng. "Yaudah kita cari makan dulu baru pulang" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN