Hana memakai sepatunya tepat di depan kelas.
"Hana mau coklat?" Gilang menawari sebatang coklat pada Hana.
"Hana jangan mau dikasi coklat sama Gilang. Dia kan nakal"
"Aku kan udah minta maaf sama Hana. Ya kan Hana?"
Hana menjawab dengan anggukan.
"Hana main yuk!" Ajak Gilang
"Kamu nggak boleh main sama adikku!" Larang Hanif
"Hana ayo kita pergi!" Hanif menarik tangan Hana.
Gilang hanya bisa menatap kepergian kedua saudara kembar itu. Hanif mengajak Hana ke halaman belakang sekolah mereka. Mereka berdiri si dekat kandang kelinci.
"Kumpulin keltas Hana!"
Hana mengambil kertas dari tempat sampah dan Hanif mengambil daun kering yang berjatuhan di sekitar halaman belakang.
Kret!
Suara korek api dinyalakan
Hanif mengarahkan api dari korek ke kertas yang dipegang Hana.
"Yeay apinya nyala! Taloh di bawah keltasnya!"
Kertas yang terbakar itu ditaruh Hana di bawah kandang kelinci. Lalu Hanif menaruh daun kering ke dalam api. Api semakin besar.
" Ambil keltas lagi Hana!"
Hana berlari ke tempat sampah mengambil sejumlah kertas lalu menaruhnya di atas api. Api semakin besar. Kelinci di dalam kandang berlarian gelisah.
Seorang guru melihat mereka dari kejauhan. Lalu sang guru mengambil seember air dan menyiram api yang sedang menyala.
Byur!
Api seketika padam
"Ya...miss Juli apinya kok dimatiin?"
"Kalian membahayakan para kelinci. Kelinci itu bisa mati kepanasan. Kalau api membakar kandang kelinci sekolah kita bisa kebakaran. Mana korek apinya. Serahkan pada miss!"
Hanif mengambil korek api itu lalu ragu-ragu menyerahkannya pada sang guru.
"Hanif berikan pada miss korek apinya!" Hanif pun memberikannya.
"Miss Juli apa kelincinya bisa mati gala-gala Hana kasih api"
"Iya Hana, kelinci itu bisa mati kepanasan"
"Maaf ya kelinci Hana ndak tau" Hana menatap kelinci-kelinci itu.
"Sekarang kalian berdua harus ke ruang miss Tami. Kalian harus bertanggung jawab. Ayo miss antar ke sana"
"Ayo Hanif!" Hana menarik Hanif.
Hanif terdiam dan mengambil langkah perlahan. Ia tidak mengira bahwa bermain api bisa berbahaya.
Di ruang miss Tami Hana dan Hanif mendapat nasihat. Kemudian miss Tami menelpon Sarah. Meminta Sarah datang ke sekolah.
Di sekolah, Sarah mendapat penjelasan mengenai prilaku Hana dan Hanif. Sarah terkejut, tidak menyangka kedua anaknya bisa berbuat demikian. Hana dan Hanif mendapat hukuman memberi makan kelinci pada jam istirahat selama 3 hari berturut turut.
"Hana Hanif jelaskan ke daddy apa yang tadi kalian lakukan di sekolah!" Sarah membuka pembicaraan.
Sarah dan Satria berusaha mendidik kedua anaknya bersama. Suami dan istri harus mampu bekerjasama dengan baik dalam hal mendidik anak. Mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu namun seorang ayah juga harus punya peran besar. Satria sangat paham hal itu.
"Tadi Hana sama Hanif main api di sekolah."
"Kandang kelinci hampil kebakal"
"Hana Hanif kalian dapet korek api dari mana?"
"Punya pak Asep daddy" Hanif berkata pelan.
"Dikasih pak Asep?" Hanif menggeleng
"Hanif ambil?" Hanif mengangguk.
"Pak Asep tahu?"
"Enggak"
"Jadi kalian mencuri?"
"Pinjam aja"
"Bilang nggak sama pak Asep?"
"Enggak"
"Itu namanya mencuri" Satria mengusap dahi dan rambutnya sendiri.
"Kalian harus dihukum!" Hana dan Hanif menunduk takut.
"Besok pagi minta maaf sama pak Asep!"
"Iya daddy" Hana dan Hanif menjawab kompak
"Hukuman buat kalian adalah menyiram tanaman setiap sore selama seminggu, tidak boleh dibantu bi Inah!"
"Iya daddy"
"Kejadian seperti ini tidak boleh terulang. Daddy dan ibu tidak mau punya anak suka mencuri. Kalau mau pinjam sesuatu harus minta izin pemiliknya. Mencuri itu dosa. Ngerti?"
"Ngerti" Hana dan Hanif mengangguk.
"Satu lagi, kalian nggak boleh main api lagi ya!" Kata Sarah
"Iya"
■□■□■
"Kak, kok sekalang kak Juna ndak ke sini lagi?" Tanya Hana pada Ayu.
"Kak Juna pindah ke Kanada" jawab Ayu.
"Yaa.... Hana ndak ada yang ajalin maen basket."
"Minta ajarin daddy aja"
"Daddy galak. Hana dihukum"
"Kan Hana yang salah jadi dihukum"
"Hana pengen ketemu kak Juna"
"Nggak bisa. Kanada tuh jauh banget harus naek pesawat dulu."
"Telpon?"
"Kakak nggak punya nomernya."
"Yaa... kakak"
Bukan cuma kamu dek yang kangen kak Juna. Ayu membatin.
****