Krek!
Hanif menatap sedih mainannya yang patah.
"Ibu ultlaman Hanif kakinya patah."
"Sini coba kak Ayu lihat!" Ayu menaruh komik yang sedang dibacanya.
"Ini kak." Hanif menyerahkan mainannya.
Ayu membolak balik action figure ultraman milik Hanif memperhatikan area mainan yang patah. Lalu berusaha memasangkan kakinya tetapi tidak berhasil.
"Ini harus dilem." Ayu menunjuk bagian yang harus diperbaiki.
"Hanif ambil lemnya dulu." Hanif mengambil lem di nakas lalu memberikannya pada Ayu.
"Ini lem kertas nggak bisa nempel. Kalau mau nempel pake lem super glue."
"Lem supel glu?" Ayu mengangguk.
"Ibu minta lem supel glu!"
"Lem super glue?"
"Iya, buat sambungin kaki ultlaman Hanif."
"Kalo lem itu kita nggak punya, harus beli dulu di toko."
"Beli bu, ya bu? Ya? Ya?" Hanif menarik-narik baju ibunya.
"Semua mandi sore dulu nanti kita ke mall, sekalian ibu belanja kebutuhan dapur."
"Hole ke mall!" Hanif dan Hana bersorak.
Tidak butuh waktu lama semua anak sudah bersiap lalu mereka berangkat bersama-sama. Sarah beserta anak-anaknya berbelanja di mall yang paling dekat dengan kediamannya. Lem super glue sudah dibeli, kebutuhan dapur juga sudah.
"Ibu, lapel. Hana lapel bu!"
"Hanif juga."
"Yaudah kita makan dulu aja baru pulang. Daddy juga hari ini pulang malam jadi nanti di rumah nggak usah makan malam lagi."
"Hana mau ayam chicken bu."
"Ayam chicken?" Sarah mengernyit.
"Pled chicken bu." kata Hanif.
"Ayam goreng tepung." kata Ayu
"Oh fried chicken." Sarah berkata
"Iya itu." jawab Hana.
Mereka memasuki sebuah restoran yang menyajikan menu utama fried chicken. Restoran berlogo kakek tua itu lumayan ramai pengunjung. Mereka memilih meja di dekat pintu masuk.
"Kalian tunggu sebentar di sini ya, ibu pesan makanannya dulu." Sarah berjalan menuju tempat pemesanan makanan. Antrian di tempat itu cukup panjang.
Ayu mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Di bagian tengah ruangan ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Sosok yang sempat membuat ibunya pergi dari rumah. Satu-satunya pelakor yang ia kenal, Carla.
"Hanif ada tante Carla tuh, kita kerjain yuk!" Hanif melihat ke arah yang ditunjuk Ayu.
Ayu membisiki Hanif mengenai rencana yang akan mereka lakukan. Hanif mengangguk mengerti. Hanif mengambil lem super gluenya dari kantong kresek belanjaan.
"Hana, kamu samperin ibu bilang makanannya dibungkus aja. Kita makan di rumah."
"Ok kak." Hana pun segera menghampiri ibunya.
Ayu dan Hanif berjalan mendekati Carla yang sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Tante Carla!" Carla mendongak melihat Ayu.
"Eh Ayu."
"Apa kabar tan?"
"Baik."
"Aduh duh, mata Ayu tiba-tiba kelilipan. Tante bisa tolongin tiupin mata ayu? Perih banget ih. Please tan!" Ayu mengucek-ngucek matanya.
Carla berdiri dan mencondongkan tubuhnya. Meniup mata ayu perlahan.
"Lagi tante, masih perih!" kata Ayu.
Selagi Carla meniup mata Ayu, Hanif menaruh lem super glue di kursi Carla. Ia memencet sekencang mungkin tube lem tersebut sampai semua isinya tumpah di kursi. Lalu berjalan kembali menuju kursinya.
"Makasih tante, udah nggak perih lagi."
Ayu berlalu menuju kursinya. Carla kembali duduk dan melanjutkan hal yang sempat tertunda karena gangguan Ayu.
Sarah dan Hana sudah kembali ke kursinya dengan membawa makanan mereka yang sudah dibungkus.
"Ayo kita pulang bu!" Ajak Ayu.
Sarah merasa curiga dengan anak-anaknya yang tiba-tiba ingin makan di rumah padahal sebelumnya mereka mengeluh lapar. Sarah mengikuti kemauan anak-anaknya. Lalu berjalan keluar.
"Aaah... kursinya nempel!" Carla teriak. Ia berdiri dengan kursi yang menempel di bokongnya.
Sarah menengok ke belakang dan melihat kepanikan Carla.
"Anak-anak sialan!" Teriak Carla sambil melihat ke arah Ayu yang meledek Carla sambil melambaikan tangannya.
Rasain! Dasar nenek sihir. Ayu berkata dalam hati.
"Ayo bu cepetan kita pulang!"
Sampai di mobil ketiga anak Sarah tertawa terbahak-bahak. Lalu mereka bertiga melakukan toss.
"Kalian yang ngerjain tante Carla?"
"Iya bu" jawab ketiganya kompak.
"Laen kali jangan gitu ya, nggak baik ngerjain orang."
"Biarin aja, dia juga pernah bikin ibu nangis"
Walaupun Sarah menasehati anaknya agar tidak berbuat hal itu lagi tetapi ada sebersit rasa senang di hatinya. Sarah tidak memungkiri bahwa ia merasa senang anak-anaknya melakukan pembalasan.
Malam sudah sangat larut, Sarah menunggu suaminya pulang. Hampir tengah malam mobil Satria memasuki rumahnya. Wajah Satria terlihat amat lelah.
"Mas mau aku buatin minum apa?"
"Nggak usah kamu tidur aja."
Sarah membaca gelagat yang tidak biasa. Biasanya Satria sepulang kerja selalu memeluknya atau mencium keningnya walaupun dalam keadaan lelah tetapi malam ini berbeda.
Satria membersihkan tubuhnya sejenak lalu berjalan menuju ruang kerja. Sarah yang berpura-pura tidur menyaksikan itu semua.
Brakk!
Tangan Satria memukul meja sekerasnya. Ia berjalan mondar-mandir sambil mengumpat.
"Sial!" Satria berdiri di dekat meja kerjanya.
"Argh!" Satria geram.
Sarah menyaksikan semua itu. Ia berdiri di dekat pintu. Sarah mendekati suaminya lalu memeluk suaminya dari belakang.
"Mas Satria sayang, kalau ada masalah Sarah mau jadi tempat curhatnya mas."
"Kamu udah cukup cape ngurus anak-anak. Mas nggak mau nambah beban kamu." Satria memegang tangan Sarah yang melingkar di perutnya.
Sarah melepas pelukannya lalu menghadap Satria. "Masku sayang, aku nerima dinikahin kamu bukan cuma buat saat senang aja tapi saat kamu ucap ijab kabul saat itu aku siap nerima kondisi apapun yang akan terjadi pada diri kamu mas. Berbagi mas sama aku, aku merasa lebih berharga kalau mas mau berbagi."
"Ini urusan kantor sayang, biar mas atasi sendiri."
"Apapun urusan yang terkait mas, di kantor atau di rumah adalah urusanku juga. Kita udah menyatu dalam pernikahan mas." Sarah mengusap-usap d**a suaminya.
"Peluk aku sebentar aja. Aku lelah"
"Yang lama juga boleh"
Sepasang suami istri itu berpelukan cukup lama. Satria merasa tenang dalam pelukan istrinya. Lalu keduanya duduk di sofa.
"Mas cape kan? Sini sambil tiduran aja ceritanya." Satria merebahkan dirinya. Kepalanya ada di pangkuan sang istri.
"Perusahaan gagal dapet tender. Proyek besar."
"Terus?"
"Anehnya perusahaan saingan yang dapet tender konsepnya sama banget sama perusahaan mas. Mereka menang karena lebih dulu presentasi, perusahaan mas yang dianggap menjiplak."
"Kok bisa begitu?"
"Mas nggak tahu kok bisa sama banget."
"Apa mungkin konsep perusahaan mas dicuri?"
"Itu yang lagi diselidiki"
"Mas marah-marah gara-gara gagal tender aja atau ada yang lain?" Sarah membelai kepala suaminya.
"Ada yang lain"
"Apa?"
"Mas pengen ngasih kejutan buat kamu. Bulan madu kedua. Karena kasus ini jadi gagal."
"Bulan madu kedua?"
"Baru denger aja kamu seneng banget, padahal kan nggak jadi."
"Bagi aku, mas udah niat ngajak bulan madu kedua aja aku seneng banget. Kalau toh nggak jadi kan bukan kesalahan mas. Kalau perusahaan ada masalah nggak pa-pa ditunda mas. Kita masih punya banyak waktu. "
"Kamu nggak sedih atau marah?"
"Selama mas masih di sisi aku selama itu pula aku akan bahagia."
"Masya Allah mas berbuat kebaikan apa ya sampai dapat istri sebaik kamu. Kamu anugerah besar buat mas."
Satria bangkit dari posisi berbaringnya lalu mencium istrinya.
"Makasih udah nenangin mas, mas udah nggak emosi lagi." Satria menatap sayang istrinya.
"Yaudah kalau gitu kita tidur" Sarah berdiri yang diikuti Satria. Jari-jari mereka saling bertaut.
●○●○●