SATU
Yang terpikirkan olehku pertama kali mendengar kata PERJODOHAN adalah kisah tragis Siti Nurbaya. Aku tidak habis pikir, di pagi yang cerah dengan cahaya matahari begitu hangat, mamaku—yang menurutku berpikiran modern—berencana melakukan perjodohan--sesuatu yang kuanggap sangat konyol. Sialnya, korban kekonyolan kali ini bukan Siti Nurbaya yang melegenda itu, tapi aku!
Oke, kuakui umurku memang sudah 27 tahun. Usia bagi sebagian orang sudah sangat matang untuk menikah. Bahkan ada temanku yang sudah memiliki anak yang duduk di bangku TK di usianya yang 27 tahun itu. Sementara aku jangankan menikah dan punya anak yang menggemaskan, seseorang yang bisa kuakui sebagai pacar saja tidak punya. Tapi, itu bukan berarti menjadi pembenaran bagi Mama untuk menjodohkan aku, kan? Apalagi dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Bisa-bisa pria itu bangkotan seperti Datuk Maringgih. Astaga, tindakan Mama ini seolah aku perawan tua yang tidak laku saja!
Sedikit bercerita tentang diriku. Namaku Kiara. Kiara Sawitri. Seperti yang kubilang tadi, usiaku 27 tahun. Aku memang bukan wanita yang cantik, tapi juga tidak buruk-buruk amat. Tubuhku mungil, tinggi 150cm dan berat 45kg. Aku memiliki rambut ikal yang kupotong sebahu. Pipi tirus, bibir tipis, dan hidung mancung. Seperti yang kubilang tadi, secara fisik aku biasa-biasa saja alias banyak wanita di luar sana yang sama sepertiku. Tapi , ada satu karunia Tuhan yang amat kusyukuri. Itu adalah mataku. Aku memiliki mata bulat dengan bulu mata lentik dan lebat. Aku menyukai mataku ini karena di negeri Lee Min Hoo sana banyak wanita yang rela meronggoh kocek--juga kesakitan--untuk melakukan operasi plastik demi mendapatkan mata sepertiku ini. Jadi, sudah sepantasnya aku bersyukur, kan?
"Allen ini anaknya teman Mama, Ra. Seusia denganmu. Kerjaannya bagus. Ganteng juga," cerocos Mama masih saja mempromosikan anak temannya itu padaku. Mama sudah seperti sales saja. Sementara aku memilih mengasyikan diri mengecek Twitter, membaca kicauan di timeline, dengan mulut mengunyah roti selai coklat kesukaanku.
"Ra, kamu dengerin Mama nggak, sih?"
Aku mengangkat wajah, kemudian mengangguk. "Ara denger kok, Ma," jawabku dengan ekspresi datar.
Mama mendesah kecewa--kuyakini kali ini pun sengaja dibuat sedramatis mungkin seperti biasanya. Tapi maaf saja, aku sudah tahu betul karakter wanita yang melahirkanku itu. Kali ini aku tidak akan tertipu.
Sadar upayanya gagal, Mama memilih cara lain.
"Kamu ingat dengan Monika anaknya Tante Ratih, kan, Ra?"
Aku bergumam sambil menganggukm Aku tentu saja tidak bakal melupakan gadis centil--saat itu kami bertetangga sebelum keluarga Tante Ratih pindah—yang suka mengomentari penampilanku ketika SMA dulu. Monika adalah salah satu teman yang tidak kusukai.
"Kemarin waktu ke mal, Mama ketemu Tante Ratih dan Monika. Ternyata Monika udah punya dua anak lho, Ra. Sepasang dan kembar. Mana lucu-lucu lagi. Mama gemes ngelihatnya. Mama jadi kepengin punya cucu juga jadinya, Ra."
Aku memutar bola mataku. Lihat, kan? Mama selalu punya cara agar aku mengikuti keinginannya. Tapi, jangan pikir aku akan goyah. Untuk kali ini aku akan tetap pada pendirianku.
"Kak Adel kan udah kasih Mama cucu. Tiga orang lagi. Emang masih kurang?" jawabku tidak mau kalah.
Mama cemberut dan menatapku kesal. "Tapi, Mama penginnya dari kamu, Ra."
"Ma, Ara nggak mau dijodohin." Akhirnya kuungkapkan juga penolakanku.
"Emangnya kenapa?"
"Ara nggak suka, Ma."
"Paaa ....," rengek Mama--kali ini pasti ingin mencari sekutu untuk mendukung rencananya.
Papa yang dari tadi lebih memilih jadi pendengar seraya membaca koran, mengangkat kepalanya. Papa menatapku intens dari balik kacamatanya--jujur membuatku gelisah—lalu bertanya, "Ara jadi numpang sama Papa ke sekolah?"
Aku menarik napas lega. Tersenyum dan menjawab dengan semangat, "Jadi, Pa!"
"Kita berangkat sekarang," ajak Papa melipat koran dan meletakkannya di atas meja makan.
Mama menatap Papa kesal karena rengekannya diabaikan. "Papa ini gimana, sih. Mama kan belum selesai ngomongnya," protesnya kemudian.
"Nanti aja, Ma. Papa dan Ara harus berangkat sekarang. Takut jalanan macet."
Mama memajukan bibirnya. Makin cemberut.
Yes! sorakku dalam hati. Aku senang Papa selalu hadir sebagai penyelamat setiap kali Mama merencankan sesuatu--menurutku sering konyol--terhadapku. Aku buru-buru meraih tas dan meraup buku-buku di depanku, lalu berdiri. Aku mendekati Mama, menyalami dan menciumi pipinya.
"Ara kerja dulu, Ma," pamitku.
Mama membalas dengan anggukan, sepertinya masih kesal karena rencananya belum berhasil.
Aku mengekori Mama dan Papa yang berjalan menuju carport. Yariz milik Papa sudah terparkir di sana, siap untuk dijalankan. Hari ini aku menumpang di mobil Papa karena mobilku masih di bengkel. Entah apanya lagi yang bermasalah, aku tidak tahu dan tidak mau ambil pusing karena aku sama sekali tidak tahu tentang mesin. Kulihat Papa masih mau berbicara dengan Mama. Aku memutuskan masuk duluan ke mobil. Aku membuka pintu mobil dan menghenyakkan tubuh mungilku di bangku depan.
Dari dalam mobil aku memerhatikan kedua orangtuaku. Mama masih cemberut. Papa menyolek hidung Mama, lalu tampak membisikkan sesuatu--aku yakin itu rayuan karena perlahan bibir tertekuk Mama bertanformasi jadi senyuman malu-malu dan wajahnya bersemu. Mama memukul bahu Papa pelan dan Papa tertawa. Terkadang aku iri melihat kemesraan kedua orangtuaku itu. Mereka selalu saja tampak seperti pengantin baru.
Aku menurunkan kaca mobil, lalu berseru, "Pa, kalo mau mesra-mesraan ntar aja. Udah siang, nih!"
Kedua orangtuaku serentak menoleh. Mereka tersenyum malu karena kepergok bermesraan oleh anaknya ini.
"Makanya kamu itu segera menikah, Ra. Biar bisa mesra-mesraan juga," jawab Mama yang kurespon dengan memutar bola mata. Itu sih maunya Mama, bisikku dalam hati.
Sebelum Papa masuk ke dalam mobil, Mama merapikan dasi Papa. Tak lama kemudian Papa sudah duduk di sampingku, di bangku kemudi. Papa memutar kunci kontak, lalu menyalakan mesin mobil. Papa membunyikan klakson sekali dan menginjak padel gas. Mobil mulai berjalan pelan meninggalkan carport. Dari kaca spion aku melihat Mama melambaikan tangan.
"Makasih, ya, Pa," kataku memulai percakapan.
"Untuk apa?" tanya Papa dengan tatapan fokus ke jalanan. Seperti yang Papa takutkan, jalanan mulai padat.
"Udah nyelamatin aku dari obrolan konyol Mama tadi."
"Hush! nggak boleh ngomong gitu. Dia itu tetap istri Papa, lho. Wanita yang Papa cintai."
Ucapan Papa berhasil memancing tawaku.
"Iya, deh. Tapi, tetap makasih, ya, Pa. Ara benar-benar terselamatkan tadi itu."
Bibir tipis Papa—yang diwariskannya padaku--tertarik ke atas. "Papa nggak nyelamatin Ara, kok. Tadi itu Papa emang udah mau berangkat. Biar nggak kejebak macet."
Aku balas tersenyum. Boleh saja Papa menyangkal, tapi aku tahu tadu itu Papa memang menyelamatkanku--seperti biasanya. Sikap Papa seperti inilah yang membuat aku lebih dekat dengannya daripada Mama. Mama itu lebih cocok dengan kakakku, Kak Adel. Sama-sama Ratu Drama.
Aku memajukan tubuh. Jari telunjukku menekan tombol power pada MP3. Sedetik kemudian lagu nostalgia milik Papa dan Mama mengalun, menemani perjalanan kami menuju sekolah tempatku mengajar.
Bulan madu di awan biru tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta walau seribu luka
Kita tak kan terpisah
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
(Cinta Kita - Inka Christy ft Amy)
Saat ini aku mungkin bisa bernapas lega, ikut bernyanyi dengan suaraku yang pas-pasan--tapi tidak sumbang, ya. Namun, jauh di lubuh hati kecilku, ternyata ada kegelisahan bercongkol akibat pembicaraan rencana perjodohan konyol tadi.