Semalam itu... kurang ajar, aneh, canggung, namun sangat manis. Katakanlah aku bodoh karena hampir saja terperosok ke jurang kemesuman seorang Alvaro Tristan Anindito, tapi aku tidak merasa menyesal sedikitpun. Satu-satunya penyesalannya adalah kenapa Alvaro memutar arah bibirnya yang tadinya hendak mencium bibirku menjadi keningku. Ya, aku memang bodoh. Nyaris b**o banget! “Good night.” “Good night pale lu peyang! Gue nggak bisa tidur, anjir!” Rutukku karena jengkel dengan sikapku yang sekarang. Ini jelas berbeda dengan diriku yang sebelumnya. Semalam ada yang hendak m*****i bibirku, tapi aku tidak marah sama sekali. Semalam aku keluar mobil dengan canggung, bukannya memaki dia habis-habisan. Dan kejengkelanku ini bukan karena dia berhasil m*****i bibirku, melainkan karena dia tidak ja

