Mungkin aku terlihat seperti pencuri karena mengendap-endap di rumahku sendiri. Tapi percayalah kalau ini satu-satunya cara untuk bertemu Icha. Bener-bener nggak ada cara lain karena Icha sudah terang-terangan tak mau berbicara padaku. Aku mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Setelah terbuka, tanpa pikir panjang aku langsung membekap mulutnya dan ikut masuk bersama ke kamar. Icha membulatkan matanya antara percaya dan tidak percaya. “Jangan teriak, okay? Sama cuma mau ngobrol sama kamu. Saya nggak akan macem-macem.” Pelan-pelan aku melepaskan bekapan tanganku. Dan Icha menuruti perkataanku dengan baik. Dia tidak berteriak atau bahkan mengomentari apa yang kulakukan. Kutatap perempuan itu lekat-lekat. “Kamu menjauhi saya lagi, Cha.” Ini pernyataan. Aku mendengus memikirkan keadaan ka

