“Jadi Icha itu ya Alysa, Mi? Dia adalah perempuan yang bakal dijodohin sama aku?” Aku ternganga tak percaya. Ini bukan prank atau sejenisnya kan? Ini real. Aku mencubiti lenganku dan terasa sakit. Ini juga bukan mimpi. Ini nyata sekali. Mami memberikan sebuah foto dan aku menerimanya dengan tatapan takjub. Yang di foto memang Alysa, tapi dalam versi yang lebih baik. “Iya, Al. Berapa kali sih Mami harus mengulangnya?” Mami memutar bola matanya dengan lelah. “Icha adalah Alysa. Dia adalah perempuan yang bakal kamu nikahin kalo kamu setuju.” “Tentu aja aku bakal setuju, Mi!” selorohku cepat dengan senyum lebar. Ya ampun, takdir macam apa ini. “Mami udah tahu semua dari awal dia kerja? Papi juga tahu?” Tanyaku dengan tatapan menyelidik. Mami mengangguk dan aku menyugar rambutku dengan frust

