“Udah kali, Al. Mau sampe kapan lo nangis bombay kayak gini, hm?” Aku tak menggubris perkataan Salsa. Kenapa dia setenang ini padahal keadaanku sekacau ini? Dia bisa berkata setenang itu karena dia tak mengalaminya. Coba kalau dia mengalaminya. Aku yakin kondisinya pun nggak akan lebih baik dari aku. “Nangisnya bisa di pending dulu nggak? Paling nggak, ubah dulu posisimu. Sumpah, nangis dengan posisi tengkurep dan muka lo sumpelin gitu malah bikin d**a lo sakit. Mending nangisnya sambil duduk aja.” Ingin rasanya kutampol wajah Salsa karena sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini. Apa dia nggak mengerti sih kalo aku lagi sedih? Katanya kita ini kembar beda Ibu dan Bapak, tapi kenapa dia nggak ngerasain sakitnya hatiku sekarang ini? Lo juga nggak ngerasain pas Salsa lagi patah ha

